RASA DAN CINTA
Rasanya akan menjadi pendusta bila seseorang mencoba bercerita tentang rasa dalam hati (fu’ād),
sebab cerita takkan pernah sama dengan apa yang benar-benar dirasakan.
Walaupun kata-kata berusaha menjadi wakil dari kenyataan rasa,
namun ia takkan pernah sebanding dengannya.
Bahkan, cerita pun takkan mampu mewakili apa yang telah dicapai oleh rasa itu sendiri.
Cinta adalah rasa di hati,
rasa kepada seseorang yang dicintai.
Jika cinta itu benar dan murni karena Allah,
maka Allah-lah yang akan mempertemukan antara pecinta dan yang dicintainya.
Bukan dengan cara pecinta,
melainkan dengan cara Allah Ta‘ala — Sang Pemilik Rasa.
Bila kita mencintai orang yang dicintai oleh Allah,
maka begitulah arah cinta itu akan berjalan:
sesuai kehendak-Nya.
Barang siapa yang lebih dahulu menanam bibit cinta karena Allah,
maka dia pulalah yang berhak untuk dipertemukan dan dikumpulkan dengan yang ia cintai.
Maka mulailah berdamai…
Berdamai dengan diri sendiri.
Kemudian berdamai dengan sesama.
Agar tercipta kedamaian dalam hidup.
Berbekallah dengan:
- Taqwa
- Tawakkal
- Shabar
- Syukur
dan keikhlasan dalam menjalaninya.
Agar Allah menganugerahkan perhiasan Qolbun Salīm — hati yang selamat.
Itulah tanda Insan Kāmil,
manusia paripurna yang penuh kemaafan,
kesantunan, dan kearifan.






0 komentar:
Posting Komentar