PENGLIHATAN MATA BISA MENIPU : TIDAK MAMPU MENJANGKAU NIAT, MAKSUD, DAN I’TIQOD DALAM HATI SESEORANG
Takutlah kepada Allah... Jangan melampaui batas hak kewenangan Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu...!
Suatu ketika, Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani qaddasallahu sirrohu dalam perjalanannya bersama para muridnya melihat seseorang sedang mabuk berat di pinggir jalan, lalu ia menghentikan langkah Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani qaddasallahu sirrohu dan murid-muridnya. Orang mabuk itu berkata:
"Wahai Syaikh Abdul Qodir, apakah Allah mampu mengubah orang seperti saya ini menjadi orang taat?"
Syaikh Abdul Qodir menjawab: "Ya... Allah Maha Mampu mengubah siapa pun juga."
Lalu orang itu bertanya lagi:
"Wahai Syaikh Abdul Qodir, apakah Allah mampu mengubah ahli maksiat seperti saya ini menjadi orang saleh seperti Anda?"
Syaikh Abdul Qodir menjawab: "Ya... Allah Maha Mampu mengubah siapa pun juga."
Lalu orang itu bertanya lagi:
"Wahai Syaikh Abdul Qodir, apakah Allah mampu mengubah orang saleh seperti Anda menjadi ahli maksiat seperti saya?"
Seketika itu juga Syaikh Abdul Qodir langsung bersujud, menangis sejadi-jadinya dan berkata:
"Ya Allah... ampunilah aku... sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu..."
🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎🧎
WALĀ TAJASSASŪ
(Jangan suka mengorek-ngorek, menyelidik-nyelidik, mencari-cari, memata-matai keburukan saudaranya)
Berikut sikap yang benar menurut wahyu saat mendengar ada berita jelek menimpa saudaranya:
Ayat 11 Surat An-Nuur :
Berita bohong itu adalah dosa bagi yang menyebarkannya... bukan bagi yang difitnah.
https://t.me/QolbuSyafaChannel/5053
Ayat 12 Surat An-Nuur :
Sikap orang beriman adalah langsung berbaik sangka kepada sesama Mukmin, dan berkata, "Ini berita bohong."
https://t.me/QolbuSyafaChannel/5054
Ayat 13 Surat An-Nuur :
Tidak boleh menyebar berita buruk jika tidak mendatangkan empat orang saksi. Jika tidak ada empat saksi, maka kamu adalah orang yang berdusta.
https://t.me/QolbuSyafaChannel/5055
Ayat 14 Surat An-Nuur :
Berkat karunia dan rahmat Allah-lah kamu tidak diazab karena ikut-ikutan menyebar berita yang belum jelas.
https://t.me/QolbuSyafaChannel/5056
Ayat 15 Surat An-Nuur :
Menerima dan menyebar berita tanpa ilmu adalah dosa besar.
https://t.me/QolbuSyafaChannel/5057
PERKARA GAIB DI DALAM HATI MANUSIA, HANYA ALLAH YANG MAHA TAHU...!
1. Taubat Hati Seseorang
- Bisa jadi seseorang yang kamu curigai telah bertaubat di dalam hatinya.
- Bukan urusanmu jika ia tidak menceritakan taubatnya padamu.
- Bukan urusanmu jika ia tidak menjelaskan amal ibadahnya padamu.
- Bukan urusanmu jika ia menyembunyikan seluruh amal taubatnya padamu.
- Bukan urusanmu jika ia tidak menjelaskan maksud, niat, dan tujuan dari amalnya.
- Maka tidak boleh menyebut-nyebut dosanya yang dahulu, walaupun kamu mengaku hanya sedang mengingatkan.
- Tidak boleh menyelidiki dan menggibahnya...
- Tidak boleh mencari-cari celah aibnya...
2. Niat Hati Seseorang
- Niat tidak tampak... ia adalah rahasia hati yang hanya diketahui oleh Allah...
- Seseorang yang sedang menyiram air bisa jadi sedang wudhu. Tapi jika tidak ada niat, maka wudhunya tidak sah.
- Seseorang sedang bersuci bisa jadi hanya ingin mandi biasa. Tapi jika disertai niat, maka jadilah mandi janabah.
- Niat adalah pembeda yang tersembunyi, tidak tampak oleh mata siapa pun.
- Maka kamu tidak tahu niat orang lain, meskipun kamu merasa melihat amalnya.
3. Maqshuud (Maksud atau Tujuan Hati Seseorang)
- Orang yang masuk masjid bisa jadi bukan untuk ibadah, tapi karena ingin numpang tidur, numpang berteduh, mencari barangnya yang hilang, mengambil sandal, mencari anaknya, mengantar saudaranya, atau bahkan mencuri.
- Orang yang memakai sorban tidak selalu karena ingin ibadah. Bisa jadi ia hanya memakai sorban karena dingin.
- Maka kamu tidak tahu maksud orang lain hanya dari penglihatanmu.
Maka perbuatan seseorang dalam mengobati atau mengamalkan suatu cara tidak bisa kamu nilai hanya dari lahiriyah saja. Bisa jadi cara itu digunakan untuk menumbuhkan semangat pasien, bisa jadi untuk menyakinkan pasien, bisa jadi untuk menguatkan sugesti pasien, bisa jadi untuk mempermudah pengobatan, dan bisa jadi karena memang itu bagian dari resepnya, dan sebagainya.
Maka tidak boleh menuduh, mencela, atau mengharamkan sesuatu jika tidak memahami maksud, niat, dan i’tiqod-nya.
Apalagi jika tidak memahami dasar syariat dan ilmu hikmahnya...
4. Keikhlasan Hati Seseorang
- Ikhlas itu tersembunyi, tidak bisa dinilai dari nominal uang atau bentuk materi yang tampak.
- Bisa jadi ada seseorang yang terlihat mengeluarkan uang banyak, tapi ternyata tidak ikhlas.
- Tapi bisa jadi ada seseorang yang menerima uang banyak, dan dia ikhlas.
- Bisa jadi seseorang yang terlihat seperti menerima materi, padahal ia hanya memfasilitasi untuk pembangunan fasilitas umum, pengobatan gratis, pemberdayaan umat, dan sarana dakwah.
- Maka kamu tidak tahu keikhlasan orang lain... meskipun kamu melihatnya menerima sesuatu.
5. Kedustaan dan Kejujuran Hati
- Nabi ﷺ saja tidak tahu siapa orang munafik kecuali setelah diberitahu oleh Allah.
- Nabi ﷺ juga tidak tahu apakah seseorang benar-benar masuk Islam, atau hanya berpura-pura, kecuali setelah diberi tahu oleh Allah.
- Maka jangan merasa bisa tahu dusta dan jujurnya seseorang hanya dari melihat penampilan atau caranya bicara.
- Jika kamu melihat seseorang berkata “aku sakit, aku tidak kuat, aku tidak sanggup...”, maka kamu tidak boleh berkata, “kamu bohong...”
- Jika kamu tidak tahu keadaan dalam hatinya, maka kamu tidak berhak mengatakan ia berdusta.
Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anh membunuh seseorang dalam peperangan, padahal orang itu telah mengucap kalimat syahadat.
Maka Nabi ﷺ sangat marah dan berkata,
"Apakah kamu telah membelah hatinya...!?"
6. I’tiqod (Keyakinan di Dalam Hati)
- Seseorang yang melakukan sesuatu amal, tidak boleh kamu nilai hanya dari bentuk lahirnya...
- Kamu tidak tahu apakah ia merasa paling sakti, paling pintar, paling kuat, atau paling hebat, atau justru ia bersandar kepada Allah dan tawakkal kepada Allah.
- Kamu tidak tahu apakah ia menganggap benda itu keramat, atau justru ia meyakini semua hanya sebab yang tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.
- Maka kamu tidak berhak menghakimi akidah dan keyakinannya hanya dari penglihatanmu.
PENGLIHATAN MATA SERING MENIPU...!
Mata adalah indra terdepan yang paling sering tertipu...
Bahkan dalam hukum syariat, satu orang saksi saja belum cukup untuk membuktikan suatu perkara...
Harus ada dua orang saksi laki-laki dalam banyak kasus...
Dan bahkan harus ada empat orang saksi dalam kasus zina...!
Karena mata bisa tertipu...
Dan bisa saja menipu...!
Fatamorgana pun bisa mengelabui mata manusia...
Siti Hajar ‘alayhas salam saat kehabisan air berlari antara bukit Shafa dan Marwah bukan karena dia tidak yakin kepada Allah...
Tapi karena mata manusia sangat terbatas...
Maka ia harus bergerak dan mencari, baru kemudian datang pertolongan Allah...
Anak kecil melihat matahari, bulan, dan bintang tampak kecil, padahal sangat besar...
Anak kecil melihat kabel listrik seperti hanya plastik panjang, padahal sangat mematikan.






0 komentar:
Posting Komentar