NASEHAT SARIDIN
Ilmu harus dimuliakan.
Jangan menggunakan ilmu hanya untuk perkara yang sepele.
Kemuliaan itu terletak pada kesabaran. Kesaktian sejati adalah kesabaran.
Kita mulia karena dimuliakan oleh Allah. Kita hina karena kehendak Allah.
Walaupun dipuji oleh semua orang, tidak ada yang dapat benar-benar memuliakan diri kita selain Allah. Dan walaupun dihina oleh semua orang, tak ada yang dapat menghinakan diri kita selain Allah.
Kita menjadi mulia dengan memuliakan orang tua, karena keduanya adalah wujud kasih sayang (Rahman dan Rahim)-Nya Allah di dunia.
Kita memuliakan Rasulullah, karena beliau adalah kekasih Allah. Dan barangsiapa memuliakan Rasulullah, maka Allah akan mencintainya.
Tanah bisa menjadi genteng yang mulia karena bersedia dihinakan terlebih dahulu: diinjak-injak, dibentuk, dan dibakar dengan panas.
Besi bisa menjadi pedang yang berguna karena melewati proses dibakar, ditempa, dan dibentuk.
Tidak ada kemuliaan yang instan!
Semua harus ditempuh dengan pengorbanan diri, mengalahkan hawa nafsu, dengan cara memenangkan Allah dan Rasulullah dalam hati kita.
Bergurulah kepada seseorang yang dapat menghantarkan diri kita kepada Allah.
Jangan asal menjadikan seseorang sebagai guru hanya karena dia pandai bicara.
Guru sejati adalah yang mencontohkan kebaikan dan kebenaran, dan dapat membimbing kita menuju ridha Allah.
Segala persoalan kehidupan jangan dijadikan beban.
Karena setiap persoalan sudah dipersiapkan penyelesaiannya oleh Allah.
Tugas kita adalah bersabar dalam menjalaninya, serta bertawakkal sepenuhnya kepada Allah.
Persoalan yang kita selesaikan hari ini akan melatih kita menyelesaikan persoalan-persoalan lain di masa depan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa kita sebenarnya sudah diberikan kekuatan oleh Allah untuk menghadapi ujian hidup.
Kita hanya perlu mau menjalani dan menghadapi semuanya dengan ketabahan dan kesabaran.
Sabar dalam keadaan pasrah.
Pasrah bukan berarti menyerah, tapi benar-benar menuhankan Allah dalam hati kita, bukan menuhankan hawa nafsu, emosi, atau keinginan pribadi.
Pasrah adalah tunduk kepada kehendak Gusti Allah.
Inilah kehidupan.
Banyak hal yang tampak tidak menyenangkan, tetapi justru itulah yang terbaik bagi kita.
Maka, tetaplah berpegang pada kepercayaan kepada Allah, untuk selalu berbuat sesuai dengan tuntunan-Nya, agar kita menjadi pribadi yang selamat dan mulia.
Yakinlah bahwa setiap hal yang kita alami adalah bagian dari keadilan Tuhan Yang Maha Adil.
Untuk itu, berusahalah menjadi manusia sejati, yakni manusia yang sadar akan Ketuhanan.
Kita hanyalah hamba, dan Allah-lah yang menentukan segalanya.
Dia adalah Dzat yang memegang keadilan seadil-adilnya.
DIA-lah Kebenaran.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri.
Jangan terlalu pedulikan penilaian manusia, karena setiap manusia berbeda pandangan dan hatinya.
Jika hatinya baik, maka baik pula perkataannya.
Tapi jika hatinya buruk, maka buruk pula yang keluar dari lisannya.
Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran.
Ia tidak butuh pembenaran.
Kebenaran itu adalah “Haqq” Allah, milik Allah, dan Allah-lah Penjaganya.
Amanah yang Harus Dijaga:
- Jaga persaudaraan selamanya.
- Berpegang teguh pada tali Allah.
- Jalankan sholat.
- Amalkan sholawat.
- Berbakti kepada kedua orang tua.
- Bersikap baik kepada sesama.
- Cintai negara.
Kata Gus Samsudin:
“Yang dibersihkan tidak menjadi bersih, justru yang membersihkan menjadi kotor. Itu karena yang membersihkan tidak menggunakan hati. Sulit membersihkan sesuatu yang suci tanpa menggunakan hati. Sesuatu baru bisa benar-benar bersih jika dilakukan dengan Ketauhidan!”
Inti atau Kesimpulan:
“Yang mendidik kepada kebaikan dan kebenaran haruslah berasal dari hati yang suci.”
Jika tidak, maka kotoran hati sulit dibersihkan.
Jika penasehat berhati hitam, maka ia takkan menyadari bahwa dirinya kotor — karena hatinya telah penuh dengan dosa.
Itulah pelajaran yang dapat saya ambil.
Pesan-Pesan Kehidupan Lainnya:
“Makanan jangan disia-siakan!”
Makanan itu adalah pemberian Allah. Jika kita tidak menghargainya, sama saja tidak menghargai Allah.“Jika Allah memberi, maka senangilah pemberian-Nya.”
Dengan bersyukur, kita akan disenangi Allah, dan Allah akan menambah nikmat-Nya.
Doa mustajab itu lahir dari hati yang ridha terhadap pemberian Allah, dan memanfaatkannya untuk beribadah serta menyenangkan sesama.“Berikanlah manfaat kepada sesama.”
“Ingat kematian!”
“Ingat neraka!”
“Jangan seperti hewan!”
“Yang mengenali wali Allah hanyalah wali Allah.”
“Daun sirsak 7 lembar untuk mengobati sakit dada (paru-paru, jantung, asma).”
“Berdzikir dan berthariqah.”
“Air… dengannya Allah menghidupkan!”
Air tidak bisa mematikan, tapi kini air seolah mulai ‘marah’ kepada manusia karena mereka banyak bermaksiat, saling bermusuhan, adu domba, iri, dengki, dan meninggalkan aturan syariat.“Bersholawat, karena sholawat itu adalah Nur Muhammad.”
“Bashirah Rabbaniyyah dan Malamatiyyah.”
“Guru… walaupun hanya mengajarkan satu huruf, tetap harus dihormati sebagai guru.”
Agar tersambung sanad kita kepada Rasulullah SAW.






0 komentar:
Posting Komentar