Rabu, 16 Juli 2025

FIRASAT MU'MIN (ILHAM)

 

FIRASAT MU'MIN (ILHAM)

Tidak cukup hanya dengan keinginan, rencana, atau rutinitas.

Setiap hal yang hendak dilaksanakan—meskipun tujuannya baik—tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan, terburu-buru, atau sembrono. Sebab sikap seperti itu seringkali merupakan pengaruh dari syaitan, dan bisa menimbulkan kerugian, baik secara zahir maupun batin.

Karena itu, perlu diperhatikan beberapa hal:

  • Menempuh cara yang benar dan menyusun strategi yang tepat.
  • Mempertimbangkan waktu pelaksanaan dengan bijak.
  • Mengukur kemampuan diri terhadap apa yang akan dihadapi.
  • Mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin, dengan memohon pertolongan dan perlindungan Allah.

Setiap langkah harus diatur dan dipersiapkan dengan baik secara lahir dan batin.


NEKAT dan YAKIN – Dua Hal yang Tipis Perbedaannya, Tapi Hakikatnya Jauh Berbeda

  • Nekat muncul dari keyakinan pada diri sendiri. Ia merasa kuat dan mampu tanpa melihat pada pertolongan Allah. Ini bisa menjerumuskan pada sifat 'ujub (merasa hebat).

  • Yakin (yaqin) datang dari Allah. Ia lahir dari pandangan yang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pelindung dan Penolong. Yakin selalu dibarengi dengan persiapan dan tawakkal.


Firasat Seorang Mu’min (Ilham)

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pengaruh was-was syaitan, sehingga ia tak mampu membedakan antara baik dan buruk dalam sebuah keputusan.

Namun, bagi seorang mu’min, ada keistimewaan: yaitu ilham.

Ilham adalah pemberitahuan atau isyarat dari Allah melalui malaikat Al-Muqarrabin, yang diberikan kepada hati orang-orang beriman agar mereka memahami apakah suatu perkara baik atau buruk.

Ilham ini adalah bentuk penjagaan dan pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya.

  • Jika ilham memperingatkan bahaya, maka hati mu’min akan ragu-ragu, merasa gelisah dan tak nyaman untuk melanjutkan rencana.
  • Jika ilham memberi kabar akan adanya kebaikan, maka hati mu’min akan mantap, tenang, dan yakin melangkah.

Singkatnya:

Laksanakan jika merasa yakin dan nyaman di hati.

Tinggalkan jika merasa ragu dan tidak nyaman.


Sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui keadaan seseorang, mengetahui rahasia setiap kejadian, baik maupun buruk. Maka seorang mu’min wajib peka dan bijak: kapan harus meneruskan rencana, dan kapan harus menunda atau bahkan membatalkannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.



0 komentar:

Posting Komentar