FIRASAT MU'MIN (ILHAM)
Tidak cukup hanya dengan keinginan, rencana, atau rutinitas.
Setiap hal yang hendak dilaksanakan—meskipun tujuannya baik—tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan, terburu-buru, atau sembrono. Sebab sikap seperti itu seringkali merupakan pengaruh dari syaitan, dan bisa menimbulkan kerugian, baik secara zahir maupun batin.
Karena itu, perlu diperhatikan beberapa hal:
- Menempuh cara yang benar dan menyusun strategi yang tepat.
- Mempertimbangkan waktu pelaksanaan dengan bijak.
- Mengukur kemampuan diri terhadap apa yang akan dihadapi.
- Mempersiapkan diri, baik lahir maupun batin, dengan memohon pertolongan dan perlindungan Allah.
Setiap langkah harus diatur dan dipersiapkan dengan baik secara lahir dan batin.
NEKAT dan YAKIN – Dua Hal yang Tipis Perbedaannya, Tapi Hakikatnya Jauh Berbeda
-
Nekat muncul dari keyakinan pada diri sendiri. Ia merasa kuat dan mampu tanpa melihat pada pertolongan Allah. Ini bisa menjerumuskan pada sifat 'ujub (merasa hebat).
-
Yakin (yaqin) datang dari Allah. Ia lahir dari pandangan yang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pelindung dan Penolong. Yakin selalu dibarengi dengan persiapan dan tawakkal.
Firasat Seorang Mu’min (Ilham)
Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pengaruh was-was syaitan, sehingga ia tak mampu membedakan antara baik dan buruk dalam sebuah keputusan.
Namun, bagi seorang mu’min, ada keistimewaan: yaitu ilham.
Ilham adalah pemberitahuan atau isyarat dari Allah melalui malaikat Al-Muqarrabin, yang diberikan kepada hati orang-orang beriman agar mereka memahami apakah suatu perkara baik atau buruk.
Ilham ini adalah bentuk penjagaan dan pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya.
- Jika ilham memperingatkan bahaya, maka hati mu’min akan ragu-ragu, merasa gelisah dan tak nyaman untuk melanjutkan rencana.
- Jika ilham memberi kabar akan adanya kebaikan, maka hati mu’min akan mantap, tenang, dan yakin melangkah.
Singkatnya:
✅ Laksanakan jika merasa yakin dan nyaman di hati.
❌ Tinggalkan jika merasa ragu dan tidak nyaman.
Sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui keadaan seseorang, mengetahui rahasia setiap kejadian, baik maupun buruk. Maka seorang mu’min wajib peka dan bijak: kapan harus meneruskan rencana, dan kapan harus menunda atau bahkan membatalkannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.






0 komentar:
Posting Komentar