Dialog kritik terhadap pola-pola ketidakkonsistenan gerakan Wahabi-Salafi, dengan menyoroti klaim mereka sebagai "paling salaf" namun bertentangan dengan realitas praktik dan ajaran ulama salaf itu sendiri.
Dialog: "Salafi Tapi Bukan Salaf?"
Ahmad:
Antum ini sering mengaku paling salaf, paling sunnah. Tapi saya bingung, kok banyak sikap Salafi Wahabi justru bertentangan dengan manhaj salaf sendiri?
Fulan (Salafi):
Lho? Kita ini paling dekat dengan pemahaman salafus shalih. Kita tinggalkan bid’ah, kembali ke tauhid murni. Itu bukti kita di atas manhaj salaf!
Ahmad:
Tapi kenapa banyak sekali inkonsistensi? Contohnya, kalian sering menuduh tawassul sebagai syirik, padahal banyak ulama salaf yang membolehkan.
Fulan:
Itu kan karena tawassul bisa mengarah ke syirik!
Ahmad:
Imam Ahmad bin Hanbal, yang kalian klaim sebagai panutan salaf, justru membolehkan tawassul dengan Nabi ﷺ saat hidup dan wafat. Lalu kalian mengklaim paling hanbali? Tapi pendapat beliau sendiri kalian tolak?
Fulan:
Kita tetap mengikuti dalil!
Ahmad:
Kalau begitu, mengapa kalian menolak takwil sebagian ayat sifat, padahal para salaf seperti Imam al-Awza’i, Imam Malik, Imam Ahmad, bahkan Ibnu Taimiyyah sendiri dalam beberapa tempat mentakwil juga?
Fulan:
Takwil itu bid’ah, itu jalan kaum mutakallimin!
Ahmad:
Lho, bukankah Ibnu Qudamah dalam Lum’atul I’tiqad menyebut bahwa salaf itu bersikap tafwidh (menyerahkan maknanya pada Allah)? Tapi kalian justru menolak tafwidh dan malah memaksakan makna dzahir sampai Allah dianggap duduk, naik, berpindah tempat. Itu bukan tafwidh, tapi tajsim.
Fulan:
Tapi kita tidak menyerupakan Allah!
Ahmad:
Sayangnya, ketika kalian berkata “Allah naik ke langit dengan dzat-Nya” dan tidak menerima kalam majazi, maka kalian sebenarnya terjebak dalam tajsim, walau kalian mengingkari. Ini bertentangan dengan ijma’ salaf untuk menjauhi penyerupaan.
Fulan:
Tapi kita hanya berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah!
Ahmad:
Lantas kenapa kalian begitu suka mengkafirkan atau memvonis sesat ulama lain yang berbeda, padahal salaf tidak sembarangan menyesatkan sesama muslim? Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal pun berselisih dalam banyak perkara, tapi tetap saling menghormati.
Fulan:
Kami hanya menjelaskan kebenaran!
Ahmad:
Sayangnya, cara kalian lebih menyerupai Khawarij dalam semangat takfir, bukan semangat rahmah seperti salaf. Bahkan ada Salafi yang mengharamkan maulid, padahal ulama salaf semacam Ibnu Hajar dan As-Suyuthi membolehkannya.
Fulan:
Tapi itu ulama belakangan!
Ahmad:
Lha, bukankah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim yang kalian sering kutip juga ulama belakangan? Jadi kalian hanya ambil ulama belakangan yang cocok dengan kalian, dan menolak yang tidak. Bukankah itu tidak konsisten?
Wahabi-Salafi sering kali mengklaim kembali ke pemahaman salaf dengan hanya berpegang pada hadits-hadits sahih, namun mengabaikan metodologi komprehensif para salaf dalam menggabungkan Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas, maqashid syariah, dan hikmah dalam istinbath (pengambilan hukum). Penekanan pada klaim "hanya hadits sahih", tapi minim pemahaman maqasid, tafsir, dan fiqh salaf.
"Kembali ke Sunnah atau Keluar dari Pemahaman Salaf?”
Ahmad:
Antum bilang cuma mau ikut hadits-hadits sahih. Tapi apakah salaf hanya memahami agama lewat hadits sahih semata?
Fulan (Salafi):
Ya jelas! Hadits sahih adalah sumber utama agama. Kalau hadits sahih, harus diamalkan!
Ahmad:
Tapi para salaf tidak seperti itu. Mereka tidak menyikapi hadits sahih sebagai satu-satunya dasar hukum tanpa mempertimbangkan Al-Qur’an, ijma’, qiyas, maqashid, dan konteksnya. Bahkan Imam Malik menolak hadits sahih jika bertentangan dengan amal ahli Madinah.
Fulan:
Itu karena Imam Malik saja yang begitu. Tapi hadits sahih tetap hujjah!
Ahmad:
Lha, kenapa kalian sering menyalahkan amalan seperti qunut subuh, ziarah kubur, atau tawassul, hanya karena tidak menemukan hadits sahih sesuai selera kalian? Padahal para imam salaf seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan lainnya memahami hadits dalam konteks fiqh dan tafsir Qur’an secara menyeluruh.
Fulan:
Tapi kalau hadits sahih menyatakan sesuatu itu bid’ah, maka harus diingkari!
Ahmad:
Coba jujur: apakah kalian tahu bahwa tidak semua bid’ah itu sesat menurut para salaf? Imam Syafi’i sendiri membagi bid’ah menjadi hasanah dan dhalalah. Umar bin Khattab mengucapkan "ni’matul bid’ah hadzihi" saat menghidupkan shalat tarawih berjamaah. Itu semua dari salaf!
Fulan:
Tapi Nabi bilang, kullu bid’atin dhalalah.
Ahmad:
“Kullu” di sini bukan berarti semua dalam arti mutlak, tapi umum yang bisa dikhususkan. Dan itulah cara para ulama salaf memahami hadits: menggabungkan dalil, melihat maqashid, memperhatikan mashlahah dan urf, bukan potong-potong hadits dan langsung hukum.
Fulan:
Jadi maksudnya, kita gak cukup pegang hadits sahih?
Ahmad:
Bukan begitu. Hadits sahih itu penting, tapi harus dipahami sesuai manhaj salaf, bukan sekadar literal. Bahkan Ibnu Taimiyyah pun dalam banyak tempat menekankan pentingnya ijtihad, maqashid, dan tidak cukup hanya menyalin hadits.
Kritik Ilmiah Untuk Para Salafi Wahabi
1. Klaim: "Kami hanya berpegang pada hadits sahih"
- → Kritik: Para salaf tidak beragama hanya dengan hadits sahih tanpa memahami tafsir, konteks, amal sahabat, maqashid, ijma’, qiyas, dll.
2. Klaim: Semua bid’ah itu sesat
- → Kritik: Salaf seperti Umar bin Khattab dan Imam Syafi’i mengakui bid’ah hasanah.
Referensi:Imam Syafi’i dalam Manaqib asy-Syafi’i karya al-Baihaqi:
"Bid’ah ada dua: bid’ah yang bertentangan dengan Qur’an, Sunnah, atsar, atau ijma’, maka ini sesat. Dan ada bid’ah yang baik, yang tidak bertentangan dengan itu semua."
3. Klaim: Kami paling murni dalam tauhid
- → Kritik: Wahabi sering menuduh kaum muslimin musyrik hanya karena tawassul atau tabarruk, padahal salaf sendiri membolehkannya. Ini menunjukkan kesalahan pemahaman terhadap makna syirik menurut salaf.
4. Klaim: Kami anti taqlid
- → Kritik: Justru mereka fanatik pada Albani, Bin Baz, Utsaimin. Bahkan pendapat mereka lebih didahulukan daripada pendapat empat madzhab yang merupakan warisan salaf.
5. Klaim: Kami bermanhaj salaf
- → Kritik: Tapi mereka justru menyalahi etika salaf dalam berdakwah: kasar, gampang membid’ahkan dan menyesatkan. Salaf terkenal lembut dan beradab dalam dakwah.
Gambaran Salafi Wahabi
Salafi Wahabi mengklaim sepihak bahwa kaum mereka sering mengaku-ngaku paling mewakili “Ahlussunnah wal Jama'ah”, padahal mereka telah nyata menolak dan merendahkan hampir semua tradisi, praktik, dan ilmu yang sudah lama diwariskan oleh mayoritas ulama Sunni selama lebih dari 1000 tahun.
1. Tampilan Salafi Wahabi:
- Pria berjanggut, memakai gamis tinggi di atas mata kaki, memegang megafon bertuliskan “Hanya Kami Ahlussunnah!”
- Di tangannya ada buku kecil bertuliskan “Hadits Shahih versi Kami”
- Wajahnya tampak keras, menunjuk ke arah orang banyak dengan sikap menghakimi.
2. Mengumpulkan Kitab Cuma Kedok
- Di belakangnya, tumpukan kitab besar seperti:
- “Ihya’ Ulumiddin” (Imam Al-Ghazali)
- “Al-Muwafaqat” (Imam Asy-Syatibi)
- “Tafsir Jalalain”
- “Riyadhus Shalihin” (Imam Nawawi)
- “Qut al-Qulub” (Imam Al-Makki)
- Semua kitab itu tampak diinjak atau diabaikan. Salah satu kitab terlihat robek bertuliskan “Tasawuf = Bid’ah”.
3. Mengaku Pewaris Salafush Sholih
- Sekelompok orang yang duduk tenang, membaca kitab kuning, berdzikir bersama dengan adab, di bawah tulisan:
"Warisan Ulama Salaf" - Mereka memegang sanad, kitab fiqh, dan kitab tasawuf, ada yang membaca Shamail Muhammadiyah.
4. Paling Sunnah:
“Mengaku Ahlussunnah, Tapi Menolak Mayoritas Ulama Sunni?!”
“Warisan Salaf tak hanya Hadis, tapi juga Hikmah dan Ruhaniyah.”
Kesimpulan dari Dialog
Beberapa pola ketidakkonsistenan Wahabi-Salafi yang muncul:
- Mengklaim mengikuti salaf, tapi menolak pendapat Imam Salaf seperti Imam Ahmad.
- Menyerang tawassul, tabarruk, dan maulid sebagai bid’ah, padahal banyak salaf membolehkannya.
- Menolak takwil dan tafwidh padahal itu metode yang dipakai para salaf.
- Menuduh orang lain ahli bid’ah, tapi tidak sadar bahwa metode mereka sendiri sering bersumber dari pembacaan literal dan ekstrem.
- Mengaku anti-taqlid, tapi justru taqlid fanatik pada tokoh-tokoh seperti Albani, Bin Baz, atau Utsaimin.
- Suka memakai istilah “kembali ke Qur’an dan Sunnah”, tapi dalam tafsirnya sering menyimpang dari pemahaman mayoritas ulama salaf.
.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar