Selasa, 03 Juni 2025

Bantahan Terhadap Tuduhan Bid’ah Maulid Nabi ﷺ

 

MAULID

Berikut ini adalah bantahan lengkap terhadap tuduhan bid‘ah Maulid Nabi ﷺ dari perspektif Ahlussunnah wal Jama‘ah, yang sering diserang oleh kelompok Salafi-Wahabi:


🔹 Bantahan Terhadap Tuduhan Bid’ah Maulid Nabi ﷺ



1. Salafi-Wahabi Menuduh Maulid adalah Bid’ah Dhalalah

Kelompok Salafi-Wahabi mengklaim bahwa Maulid Nabi ﷺ adalah bid‘ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, para sahabat, atau tabi‘in, sehingga mereka menyatakannya sebagai “bid‘ah sesat” yang tidak boleh dilakukan.

Namun, klaim ini sangat lemah dan bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmiah para ulama besar Ahlussunnah. Berikut bantahannya:



2. Maulid Termasuk Bid‘ah Hasanah

Imam Nawawi (w. 676 H) dalam al-Majmu‘ menyatakan:

"Al-bid‘ah itu terbagi menjadi lima hukum: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah."

Maulid tergolong bid‘ah hasanah (baik) karena:

  • Mengandung pengagungan terhadap Rasulullah ﷺ
  • Menghidupkan semangat cinta dan syukur
  • Memuat shalawat, dzikir, dan pelajaran siroh

Contoh bid‘ah hasanah lain: kodifikasi Al-Qur’an, titik harakat dalam mushaf, penggunaan pengeras suara, adzan dua kali di Jum‘at, dll.



3. Para Ulama Besar Menganjurkan Maulid

Berikut ini daftar ulama yang mendukung atau membolehkan peringatan Maulid:

Nama Ulama

Pandangan

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H)

Menulis kitab Husn al-Maqshid fi 'Amal al-Maulid dan menyatakan Maulid adalah amalan baik

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H)

Maulid adalah ibadah sunnah jika berisi kebaikan

Imam As-Sakhawi (w. 902 H)

“Maulid itu sumber kebaikan dan berkah bagi siapa yang melaksanakannya dengan ikhlas.”

Imam Al-Haytami (w. 974 H)

“Tidak ada satu pun ulama muktabar yang mengharamkan Maulid.”

Imam Abu Syamah (guru Imam Nawawi)

Mendukung Maulid sebagai bentuk ungkapan cinta



4. Dalil-Dalil Pendukung Peringatan Maulid

a. QS. Ibrahim: 5

"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah..."
(Kata "ayyāmillah" ditafsirkan sebagai hari-hari penting seperti kelahiran nabi, menurut tafsir al-Qurthubi dan lainnya)

b. QS. Yunus: 58

"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."

Para ulama menafsirkan “rahmat Allah” sebagai kelahiran Rasulullah ﷺ (lihat tafsir al-Alusi dan al-Qurtubi)

c. Hadis Sahih Bukhari – Nabi puasa Senin

“Itu adalah hari aku dilahirkan.” (HR. Muslim)
⟶ Rasulullah mengistimewakan hari kelahirannya, dan ini menjadi dalil keutamaan memperingati hari Maulid

d. Hadis riwayat Abu Lahab

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (kitab Nikah), bahwa Abu Lahab diringankan siksaannya setiap Senin karena dia memerdekakan budaknya Tsuwaibah saat Nabi ﷺ lahir.

Jika Abu Lahab yang kafir saja mendapat keringanan karena bergembira dengan Maulid Nabi ﷺ, bagaimana dengan orang beriman?



5. Maulid sebagai Syiar Cinta

Tujuan utama Maulid:

  • Menanamkan mahabbah kepada Nabi ﷺ
  • Mengingatkan umat pada akhlak dan perjuangan beliau
  • Memperkuat identitas umat Islam

“Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan sering mengingatnya.” – Kaidah umum



6. Jawaban terhadap Syubhat Salafi-Wahabi

Tuduhan Salafi

Bantahan Ahlussunnah

Nabi tidak pernah Maulidan

Tapi Nabi memuliakan hari kelahirannya dengan puasa

Sahabat tidak pernah Maulidan

Sahabat juga tidak melarangnya, karena belum zamannya—seperti kodifikasi mushaf

Maulid penuh bid‘ah dan khurafat

Bisa diluruskan. Kontennya yang dilihat, bukan perayaannya

Merupakan tasyabbuh (meniru non-Islam)

Salah total — Maulid adalah syiar Islam, bukan adopsi luar

Lebih baik mengamalkan sunnah daripada Maulid

Maulid bukan pengganti sunnah, justru menghidupkan sunnah



Kesimpulan

Peringatan Maulid:

  • Bukan bid‘ah sesat, tetapi amalan baik yang bersumber dari cinta dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
  • Diperbolehkan dan bahkan dianjurkan oleh mayoritas ulama Ahlussunnah.
  • Justru penolakan mutlak terhadap Maulid adalah bentuk kekakuan berpikir dan pemutusan umat dari akar kecintaan kepada Nabi ﷺ.


0 komentar:

Posting Komentar