Membongkar Kontradiksi dan Bahaya Pemahaman Salafi-Wahabi: Sebuah Telaah Ilmiah dan Dakwah
Pendahuluan
Gerakan Salafi-Wahabi mengklaim dirinya sebagai penganut "manhaj salaf" murni, yaitu mengikuti pemahaman generasi pertama Islam: sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Namun, dalam kenyataan ilmiah dan praktik keagamaan, banyak kontradiksi, penyimpangan metodologi, serta sikap eksklusif yang justru bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah yang sesungguhnya. Artikel ini bertujuan mengungkap secara sistematis kekeliruan-kekeliruan mereka sekaligus menawarkan jalan keluar ilmiah dan ruhani bagi para pengikut yang ingin kembali pada jalan keselamatan.
1. Kontradiksi dalam Klaim Anti-Taqlid
Salafi-Wahabi dengan lantang menolak taqlid (mengikuti pendapat ulama) dan menyeru kepada "ijtihad langsung dari Al-Qur'an dan Hadits". Namun, mereka justru melakukan taqlid buta terhadap tokoh-tokoh mereka seperti Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Albani, Bin Baz, dan Ibnu Utsaimin. Padahal, ulama salaf sendiri seperti Imam Ahmad dan Imam Malik membolehkan taqlid bagi orang awam.
2. Pemutusan Rantai Keilmuan
Mereka menolak sanad dan sistem pengajaran bersanad yang merupakan warisan Nabi kepada sahabat, lalu ke tabi'in, dan seterusnya. Akibatnya, mereka tidak mengenal adab dalam berguru, tidak tahu maqashid (tujuan) syariat, dan mudah tergelincir dalam pemahaman tekstual yang kaku.
3. Pendangkalan Metodologi Istinbath
Metodologi Salafi-Wahabi hanya mengandalkan hadits-hadits sahih secara zahir tanpa mempertimbangkan:
- Nasikh-mansukh
- Qiyas dan istihsan
- Ijma' ulama
- Konteks maqashid syari'ah
Akibatnya, mereka sering kali mengambil hukum secara kaku dan literal, seperti menolak maulid Nabi, tawassul, bahkan mengharamkan doa berjamaah setelah shalat.
4. Bahaya Sosial: Mudah Membid'ahkan dan Mengkafirkan
Dengan pendekatan hitam-putih, mereka cenderung:
- Membid'ahkan mayoritas amalan umat Islam.
- Mencap sesat ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi, dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
- Membuat perpecahan internal umat, bahkan dalam satu keluarga atau masjid.
5. Merusak Citra Islam Sebagai Agama Rahmat
Dakwah mereka kaku, berwajah marah, penuh vonis, dan tidak mencerminkan kelembutan akhlak Rasulullah. Islam akhirnya tampak menakutkan dan eksklusif, bukan rahmatan lil 'alamin.
6. Penolakan terhadap Tasawuf dan Ilmu Hati
Salafi-Wahabi anti terhadap tasawuf padahal Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad mengakui pentingnya penyucian jiwa. Penolakan ini membuat agama kehilangan dimensi ruhani dan hanya menjadi ritual kosong.
7. Bukti Historis Kehancuran Dakwah Wahabi
- Banyak konflik bersenjata (Suriah, Libya, Yaman) berakar dari doktrin Salafi-Jihadi.
- Teroris sering memulai dari paham Salafi-Takfiri.
- Tidak ada satu pun negara Muslim besar yang menganut ideologi ini secara utuh kecuali dalam konteks politik (seperti Saudi awal abad 20).
8. Jalan Pulang: Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah Kembali kepada:
- Mazhab fiqh (Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali)
- Tasawuf Sunni yang bersanad (Al-Ghazali, Junaid, Ibnu 'Athaillah)
- Ilmu kalam Asy'ariyah dan Maturidiyah dalam memahami akidah
9. Kesaksian Para Mantan Salafi
Banyak tokoh yang hijrah dari Salafisme setelah mendalami keilmuan Islam yang lebih utuh dan ruhani. Mereka mengakui bahwa Salafisme membuat mereka merasa eksklusif, kasar, dan jauh dari rasa kasih sayang Islam yang sesungguhnya.
10. Bantahan terhadap Tuduhan Bid’ah Maulid Nabi
Salah satu perkara yang sering dibid’ahkan secara mutlak oleh kelompok Salafi-Wahabi adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menganggapnya sebagai bentuk bid’ah dholalah karena tidak dilakukan secara eksplisit oleh Rasulullah ﷺ atau para sahabat. Namun, pemahaman ini sangat sempit dan tidak memahami prinsip-prinsip dasar dalam kaidah bid’ah hasanah.
Padahal, banyak ulama besar dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang membolehkan dan bahkan menganjurkan peringatan Maulid, di antaranya:
- Imam Jalaluddin As-Suyuthi
- Imam Ibn Hajar Al-Asqalani
- Imam As-Sakhawi
- Imam Al-Haytami
- Syaikh Yusuf An-Nabhani
11. Penjelasan Dalil Tawassul dan Istighatsah
Tawassul (memohon kepada Allah melalui perantara) dan istighatsah (meminta pertolongan di saat genting) bukanlah syirik selama permintaan ditujukan kepada Allah, bukan makhluk sebagai Tuhan. Dalil-dalilnya antara lain:
- QS. Al-Ma’idah: 35 – "Carilah wasilah kepada-Nya."
- Hadits orang buta yang datang kepada Nabi ﷺ dan beliau mengajarkan doa bertawassul dengan dirinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan bertawassul kepada-Mu dengan Nabimu Muhammad.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)
- Para sahabat bertawassul dengan Nabi ﷺ bahkan setelah wafat beliau, sebagaimana dalam riwayat Umar bin Khattab yang bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthalib.
12. Hakikat Tasawuf dan Sanad Ruhani dalam Islam
Tasawuf bukan ajaran asing dalam Islam. Ia merupakan dimensi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan ihsan dalam agama. Sejak masa awal Islam, ilmu ini diajarkan dan diwariskan secara sanad, sebagaimana ilmu fiqh dan tafsir.
Sanad tasawuf menjaga orisinalitas ajaran, adab, dan maqam ruhani yang bertingkat. Tokoh-tokoh besar seperti Imam Junaid al-Baghdadi, Imam Al-Qusyairi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, hingga Imam Al-Ghazali semuanya menyebarkan ajaran ini.
Tanpa tasawuf, seorang muslim rentan:
- Merasa hebat karena amal
- Beribadah tanpa keikhlasan
- Mudah marah dan merasa paling benar
Sebaliknya, tasawuf menanamkan:
- Khauf dan raja’ (takut dan harap kepada Allah)
- Zuhud dan wara’
- Akhlak mulia dan cinta sesama
13. Kesalahan Metodologis Salafi-Wahabi dalam Memahami Hadits dan Hukum
Salafi-Wahabi terlalu terobsesi pada klasifikasi hadits sahih secara tekstual tanpa memperhatikan:
- Manhaj para ulama mujtahidin dalam menggali hukum
- Penggabungan antar-dalil (jam’u bayna al-adillah)
- Perbedaan antara hadits yang amali (praktikal) dan i’tiqadi (keyakinan)
- Penerapan konteks sosial-historis hadits
Contoh kekeliruan:
- Mengambil hadits-hadits yang tampak melarang ziarah kubur lalu mengharamkan total praktik itu, padahal banyak hadits shahih yang justru menganjurkan ziarah.
- Mengharamkan tawassul karena menganggap semua permintaan kepada selain Allah sebagai syirik, tanpa membedakan antara doa dan wasilah.
- Menolak hadits-hadits dhaif secara mutlak padahal para imam hadits membolehkan penggunaannya untuk fadhail a’mal dan targhib-tarhib.
Padahal dalam ilmu ushul fiqh, pengambilan hukum bukan hanya berdasar pada keautentikan sanad (shahih-hasan-dhaif), tetapi juga:
- Pemahaman konteks
- Kedudukan hadits dalam fiqh
- Tafsir ayat yang berkaitan
- Kaidah ushul dan qawaid fiqhiyah
Akibat pendekatan yang sempit ini, mereka sering menabrak ijma’, menyalahkan ulama empat mazhab, dan membangun hukum atas dasar dalil tunggal tanpa istidlal yang kuat.
Penutup: Dakwah dengan Hikmah
Mengajak saudara-saudara kita yang terpengaruh Wahabi-Salafi harus dengan ilmu, kasih sayang, dan kesabaran. Hanya dengan pendekatan yang tenang, dialog terbuka, dan menunjukkan keindahan Islam rahmatan lil 'alamin, mereka bisa menemukan cahaya yang lebih luas dan bijak.







0 komentar:
Posting Komentar