Selasa, 03 Juni 2025

KONSEP SANAD DAN IJAZAH KEILMUAN DALAM ISLAM

 


Konsep Sanad dan Ijazah Keilmuan dalam Islam

Berikut ini lanjutan pembahasan dua hal penting yang sangat krusial dan sering diabaikan oleh Salafi-Wahabi, yakni:



1. Konsep Sanad dan Ijazah Keilmuan dalam Islam

Pilar otoritas keilmuan yang diabaikan oleh Salafi-Wahabi



Apa itu Sanad dan Ijazah?

  • Sanad: Rangkaian mata rantai periwayatan ilmu yang bersambung dari guru ke murid hingga sampai ke Rasulullah ﷺ.
  • Ijazah: Lisensi resmi dari guru kepada murid untuk meriwayatkan, mengajar, atau mengamalkan suatu ilmu tertentu.

“Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya.”
— (Imam Abdullah bin al-Mubarak)



Peran Sanad dalam Ilmu Islam

  • Menjamin keaslian dan otentisitas ilmu
  • Menjadi garansi amanah ilmiah dan akhlak adab murid
  • Menjaga keutuhan metode pengajaran, terutama dalam bidang hadis, tasawuf, fiqih, dan tafsir


Akibat Penolakan Sanad oleh Salafi-Wahabi

  • Melahirkan “ulama instan” yang hanya belajar lewat buku atau internet tanpa bimbingan
  • Menganggap diri cukup hanya dengan “hadis sahih” dan mengabaikan pemahaman para ulama
  • Menyebarkan tafsir dan fatwa yang lepas dari akar tradisi Islam

"Orang yang mempelajari ilmu tanpa guru maka setanlah gurunya.”
— (Imam Sakhawi, al-Jawahir wa ad-Durar)



Contoh Keutamaan Sanad dalam Tradisi Islam

  • Imam al-Bukhari tidak hanya hafal 600.000 hadis, tapi juga punya sanad yang muttashil (bersambung)
  • Para sufi besar seperti Imam Junaid al-Baghdadi, Imam al-Ghazali, Imam Abdul Qadir al-Jilani memiliki sanad ruhani (thariqah)
  • Sanad qira’ah, sanad fikih, sanad hadis adalah warisan utama Ahlussunnah yang dihancurkan Salafi-Wahabi dengan mengganti semuanya dengan pendapat individu yang lepas dari tradisi


2. Bahaya Fatwa tanpa Ijma‘ dan Tanpa Sanad


Fatwa dalam Islam Butuh:

  1. Dalil (Qur’an & Sunnah)
  2. Pemahaman benar (dengan ilmu alat)
  3. Ijma‘ atau panduan kolektif ulama
  4. Sanad atau bimbingan guru yang bersambung

Tanpa ini, fatwa bisa menyesatkan, meski kelihatannya berdalil “langsung dari hadis shahih”.



Sikap Salafi-Wahabi:

Aspek

Pandangan Ahlussunnah

Pandangan Salafi-Wahabi

Sanad

Wajib dalam transmisi ilmu

Dianggap tidak penting

Ijazah

Legitimasi resmi murid-guru

Tidak dikenal dalam sistem mereka

Ijma‘

Dalil utama setelah Qur’an & Sunnah

Dibatasi/diabaikan

Guru

Wajib ada pembimbing

Mengandalkan pembacaan pribadi

Madzhab

Panduan resmi dalam fatwa

Ditolak atau diklaim “langsung ke salaf”



Akibat Nyata:

  • Munculnya pengkafiran ulama Ahlussunnah
  • Meremehkan ilmu tasawuf, qira’at, dan madzhab
  • Maraknya kebingungan umat, karena siapa pun bisa menjadi "ustadz" tanpa sanad
  • Munculnya fatwa ekstrim, seperti:
    • Mengharamkan maulid
    • Menuduh syirik pada tawassul dan ziarah
    • Mengkafirkan kelompok yang tidak sepemahaman


Kesimpulan

Islam dibangun atas transmisi ilmu yang amanah dan kolektif, bukan individualisme pemahaman.
Sanad, ijazah, dan ijma‘ bukan hanya warisan tradisional, tapi pagar penjaga agama dari penyelewengan dan pemahaman sembrono.
Salafi-Wahabi yang mengabaikan prinsip-prinsip ini, sejatinya telah mencabut dirinya dari akar keilmuan Islam itu sendiri.



0 komentar:

Posting Komentar