Selasa, 03 Juni 2025

TABARRUK DALAM ISLAM

 


Tabarruk dalam Islam secara mendalam dan sistematis, termasuk dalil, praktik para salaf, serta bantahan terhadap pandangan Salafi-Wahabi yang menolaknya.



TABARRUK DALAM ISLAM

(Mencari Keberkahan melalui Sesuatu yang Diberkahi oleh Allah)

1. Pengertian Tabarruk

Tabarruk berasal dari kata barakah (berkah), artinya: memohon keberkahan dari sesuatu yang dianggap memiliki nilai keberkahan karena hubungannya dengan Allah, Rasul-Nya, atau orang-orang yang shalih.

Tabarruk bisa dilakukan melalui:

  • Tempat (misalnya: masjid, makam orang shalih, tempat bersejarah dalam Islam)
  • Benda (misalnya: bekas peninggalan Nabi ﷺ atau orang shalih)
  • Waktu (seperti malam Lailatul Qadar, bulan Ramadhan)
  • Orang (misalnya Nabi ﷺ, para sahabat, wali, dan ulama saleh)


2. Dalil-dalil Tabarruk dari al-Qur’an dan Hadis

a. Dari al-Qur’an

  • QS. Yusuf [12]: 93
    “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, niscaya dia akan melihat kembali.”
    ➤ Nabi Ya’qub a.s. mendapatkan keberkahan (kesembuhan) melalui baju Nabi Yusuf a.s.. Ini adalah bentuk tabarruk dengan peninggalan orang shalih.

  • QS. Al-Isra’ [17]: 1
    “…yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”
    ➤ Tanah Baitul Maqdis diberkahi dan kaum Muslimin tabarruk dengan tempat tersebut. Tidak ada celaan syirik di sini.

b. Dari Hadis

  • HR. Bukhari dan Muslim:
    Para sahabat mengambil bekas air wudhu Nabi ﷺ, rambut beliau, dan keringat beliau untuk tabarruk.

  • Dalam Shahih Bukhari (hadis Ummu Sulaim):
    “Rasulullah ﷺ tidur di rumahnya. Dia mengambil keringat Rasulullah dan menyimpannya. Rasulullah bertanya: 'Apa ini?' Ummu Sulaim menjawab: 'Kami campur dengan parfum kami karena ini adalah aroma terindah.'”

  • Dalam hadis tentang pohon Ridhwan:
    Para sahabat mengambil tanah di bawah pohon tempat Nabi berbai’at sebagai tabarruk. Nabi ﷺ tidak melarang.



3. Praktik Para Sahabat dan Ulama Salaf

  • Umar bin Khattab bertawassul dan bertabarruk dengan Abbas bin Abdul Muthalib dalam istisqa (meminta hujan).
  • Khalifah Umar dan para sahabat menyimpan jubah Nabi ﷺ.
  • Imam Malik menghormati kubur Nabi ﷺ dan tidak mau meninggikan suara di dekatnya karena tempat itu memiliki barakah.


4. Pandangan Ulama Ahlussunnah

  • Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim:
    Menjelaskan keutamaan dan kebolehan tabarruk dengan bekas Nabi dan orang shalih.

  • Imam Ahmad bin Hanbal ditanya:
    “Bolehkan mencium kubur Nabi?” Beliau menjawab: “Tidak mengapa.”
    ➤ Ini menunjukkan bolehnya tabarruk dengan kubur Nabi.



5. Penolakan Salafi-Wahabi dan Konsekuensinya

Salafi-Wahabi menolak tabarruk dengan alasan:

  • Takut jatuh ke syirik.
  • Menganggap tabarruk = menyembah selain Allah.
  • Menyeragamkan semua bentuk penghormatan sebagai bid’ah.

Padahal, kekeliruan mereka adalah:

  • Gagal membedakan antara penghormatan (ta’dzim) dan penyembahan (ibadah).
  • Menyalahi praktik para sahabat dan ulama salaf.
  • Mengabaikan maqashid syari’ah dan nuansa ruhani Islam.
  • Menyebabkan kerusakan adab terhadap warisan Nabi dan para wali Allah.


6. Kesimpulan

Tabarruk adalah bagian dari warisan spiritual umat Islam. Dalilnya sahih, praktiknya masyhur, dan manfaatnya besar. Menolak tabarruk secara mutlak bukan sikap ilmiah, tetapi bentuk kejumudan yang berbahaya bagi kelestarian ruhani Islam.




Berikut adalah pemaparan panjang tentang tabarruk dalam perspektif dalil dan praktik ulama, serta bantahan terhadap pandangan Salafi-Wahabi yang menolaknya:



🔷 Tabarruk: Memahami Keberkahan dalam Islam Berdasarkan Dalil dan Praktik Ulama



🔹 Apa itu Tabarruk?

Tabarruk secara bahasa berarti:

Mengambil keberkahan (barakah) dari sesuatu yang mulia, suci, atau berkaitan dengan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam praktik Islam, tabarruk sering berupa:

  • Memohon keberkahan dari barang-barang yang pernah disentuh atau dimiliki oleh Nabi ﷺ, para wali, atau ulama.
  • Mengambil berkat dari tempat-tempat suci, seperti masjid, makam wali, atau tempat-tempat bersejarah Islam.


🔹 Dalil-dalil yang Menegaskan Tabarruk

1. QS. Al-A’raf: 157

“Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, yang menghalalkan untuk mereka yang baik-baik dan mengharamkan untuk mereka yang buruk, yang melepaskan mereka dari beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang telah diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

➡️ Orang beriman menghormati dan memuliakan Rasulullah ﷺ, dan salah satu bentuk penghormatan itu adalah mengambil keberkahan dari apa yang berkaitan dengan beliau.


2. Hadis tentang Tabarruk dengan Barang Nabi ﷺ

  • Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang mengangkat Al-Qur’an, maka malaikat akan bershalawat kepadanya.”
(Meskipun ini tentang Al-Qur’an, artinya penghormatan terhadap sesuatu yang mulia mendatangkan keberkahan.)

  • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

“Rasulullah ﷺ pernah melewati seseorang yang memakai baju besi, kemudian beliau mengambil dan memegangnya.”
(Hadis shahih Bukhari dan Muslim)
➡️ Nabi tidak menolak keberadaan benda fisik yang memiliki keberkahan.

  • Contoh lain: Nabi ﷺ pernah meminta umatnya untuk memegang tongkatnya atau barang-barang beliau, ini sebagai sumber barakah.

3. Praktik Para Sahabat dan Tabi’in

  • Sahabat sering mengambil bekas sapuan tangan Nabi ﷺ sebagai barakah.
  • Tabi’in membangun masjid di tempat-tempat yang pernah didatangi Nabi dan para wali sebagai sumber keberkahan.


🔹 Praktik Tabarruk Ulama Besar

  1. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin membahas tabarruk sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang halal dan penuh adab.
  2. Imam Malik membolehkan mengambil keberkahan dari benda dan tempat yang pernah berkaitan dengan Nabi ﷺ dan orang saleh.
  3. Imam Nawawi menyatakan tabarruk adalah bagian dari tradisi salaf yang harus dijaga selama tidak melampaui batas syariat.


🔹 Bantahan terhadap Penolakan Salafi-Wahabi

Tuduhan Salafi-Wahabi

Penjelasan Ahlussunnah

Tabarruk adalah syirik karena menganggap benda memiliki kekuatan sendiri

Tabarruk adalah memohon keberkahan dari Allah melalui perantara benda/seseorang, bukan menyembah benda tersebut

Mengusap atau memakai jubah Nabi atau benda wali adalah bid’ah

Rasulullah ﷺ dan para sahabat pernah memegang dan memakai barang-barang yang penuh barakah

Tabarruk membuka jalan kepada kesyirikan

Selama niat hanya kepada Allah, tabarruk adalah jalan syariah untuk mendekatkan diri kepada-Nya



🔹 Contoh Tabarruk dalam Kehidupan Sehari-hari

  • Membaca doa dengan tangan diangkat (bertabarruk dengan doa dan tangan sebagai sarana)
  • Memakai tasbih yang pernah dipakai ulama untuk mengingat Allah
  • Menyentuh mushaf Al-Qur’an dan membawanya saat menghadapi ujian atau kesulitan
  • Berziarah ke makam wali dan mengambil keberkahan dari doa di sana

🔹 Kesimpulan

Tabarruk adalah praktik luhur yang sesuai dengan sunnah dan ijma’ ulama, untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara yang halal dan terpuji.

✅ Penolakan tabarruk oleh Salafi-Wahabi adalah kesalahan fatal yang justru menghilangkan keberkahan dan kekayaan spiritual Islam.

✅ Penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa keberkahan bukan milik benda, tapi milik Allah yang dapat disalurkan melalui benda-benda mulia yang Allah ridhoi.


.

0 komentar:

Posting Komentar