Menghormati dan Mencium Tangan Ulama atau Kiai
❌ Tuduhan Wahhabi:
Mencium tangan ulama adalah penghormatan berlebihan, bahkan dianggap syirik kecil.
✅ Jawaban Ahlussunnah:
🔹 Dalil Hadis:
Riwayat dari Ibnu Umar RA:
Diriwayatkan bahwa para sahabat, termasuk Ibnu Umar, pernah mencium tangan Rasulullah ﷺ saat berbai'at (menyatakan sumpah setia) atau setelah kembali dari perjalanan jauh. Hadis ini mengindikasikan bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang dilakukan dan disaksikan oleh Nabi ﷺ.
Riwayat tentang Mu'adz bin Jabal RA:
Dalam sebuah kisah, Rasulullah ﷺ justru yang mencium tangan Mu'adz bin Jabal ketika bersalaman, setelah mengetahui bahwa tangan Mu'adz kasar karena bekerja keras untuk mencari nafkah yang halal. Nabi ﷺ bersabda, "Tangan ini adalah tangan yang dicintai Allah."
Riwayat tentang Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas RA:
Ammar bin Abi Ammar meriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit pernah meminta Ibnu Abbas untuk memberikan tangannya, lalu Zaid mencium tangan Ibnu Abbas. Ketika ditanya, Zaid berkata, "Beginilah kami diperintahkan untuk memuliakan ahli bait (keluarga) Nabi kami." (HR. Ibnu Sa'd; sanadnya dinilai jayyid atau baik oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar). Riwayat ini menunjukkan bahwa tradisi mencium tangan sebagai penghormatan juga dilakukan antar sesama sahabat.
🔹 Ijma’ Ulama:
- Ulama mazhab Syafi’i menyebut bahwa mencium tangan ulama sebagai bentuk penghormatan (ta’zhim), bukan ibadah.
➤ Jadi tidak termasuk syirik, karena bukan menyembah.






0 komentar:
Posting Komentar