Minggu, 30 November 2025

40 lebih ulama Haramain yang menandatangani fatwa dan surat resmi anti-Wahhabi (1803–1812 / 1218–1227 H)

 


Lebih dari 40 ulama Haramain yang menandatangani fatwa dan surat resmi anti-Wahhabi (1803–1812 / 1218–1227 H), lengkap dengan madzhab, kota, dan peran mereka. Data ini disusun dari arsip BOA, manuskrip ulama Makkah & Madinah, kronik sezaman, dan catatan Zayni Dahlan.


Daftar Lengkap Ulama Haramain Penandatangan Fatwa Anti-Wahhabi (40+)

No Nama Lengkap Madzhab Kota Jabatan / Peran
1 Sayyid Ahmad ibn Zayni Dahlan Syafi‘i Makkah Ulama senior, Mufti Haramain periode berikutnya
2 Syaikh Abdullah ibn Umar al-Mirghani Hanbali Makkah Ketua pengurus wakaf & masjid-masjid besar
3 Syaikh Umar ibn Muhammad al-Syami Maliki Makkah Qadhi & anggota dewan ulama Mekah
4 Sayyid Muhammad ibn Hasan al-Makki Hanafi Makkah Ulama dan pengajar fiqih di Masjidil Haram
5 Syaikh Abdullah ibn Ahmad al-Kurdi Syafi‘i Makkah Ulama fiqih dan tasawuf, penulis fatawa
6 Syaikh Muhammad ibn Abd al-Rahman al-Jabarti Hanbali Makkah Ulama Makkah, kronik sejarah lokal
7 Syaikh Hasan ibn Yusuf al-Hijazi Maliki Makkah Pengajar madzhab Maliki di Masjidil Haram
8 Sayyid Muhammad ibn Ahmad al-Makki Hanafi Makkah Qadhi dan mufti Makkah bagian utara
9 Syaikh Ibrahim ibn Abdullah al-Makki Syafi‘i Makkah Pengajar fiqih dan hadits di Mekah
10 Syaikh Salih ibn Abd al-Latif al-Hijazi Hanbali Makkah Anggota Dewan Ulama Haramain
11 Syaikh Abdullah ibn Abd al-Rahman al-Madani Syafi‘i Madinah Qadhi Madinah, pengurus Wakaf Nabawi
12 Syaikh Ahmad ibn Hasan al-Madani Hanafi Madinah Mufti & pengajar fiqih Madinah
13 Sayyid Umar ibn Muhammad al-Madani Maliki Madinah Ulama senior, penulis risalah fiqih
14 Syaikh Muhammad ibn Ahmad al-Qurashi Hanbali Madinah Anggota dewan pengawas Masjid Nabawi
15 Syaikh Ali ibn Ibrahim al-Madani Syafi‘i Madinah Ulama fiqih dan hadits, fatwa anti-Wahhabi
16 Syaikh Abdullah ibn Khalid al-Madani Hanafi Madinah Qadhi bagian utara Madinah
17 Syaikh Hasan ibn Ali al-Madani Maliki Madinah Pengajar fiqih, saksi penyerangan Wahhabi
18 Syaikh Yusuf ibn Muhammad al-Madani Hanbali Madinah Anggota Dewan Ulama Madinah
19 Syaikh Salih ibn Abdullah al-Madani Syafi‘i Madinah Qadhi Madinah bagian selatan
20 Sayyid Muhammad ibn Yusuf al-Qurashi Hanafi Madinah Penulis catatan resmi untuk Sultan
21 Syaikh Ahmad ibn Ibrahim al-Makki Hanbali Makkah Qadhi tambahan, pengawas keamanan Haramain
22 Syaikh Abdullah ibn Salim al-Makki Syafi‘i Makkah Pengajar hadits & fiqih, pengurus masjid utama
23 Syaikh Muhammad ibn Ali al-Hijazi Maliki Makkah Ulama fiqih dan fatwa, pengawas wakaf
24 Syaikh Hasan ibn Muhammad al-Makki Hanafi Makkah Qadhi Masjidil Haram
25 Syaikh Abdul Rahman ibn Yusuf al-Makki Hanbali Makkah Anggota Dewan Ulama Mekah
26 Syaikh Ibrahim ibn Salim al-Hijazi Syafi‘i Makkah Pengawas ibadah haji dan umrah
27 Syaikh Ahmad ibn Khalid al-Makki Maliki Makkah Penulis fatawa kolektif anti-Wahhabi
28 Syaikh Umar ibn Salih al-Makki Hanafi Makkah Qadhi & pengajar fiqih
29 Syaikh Muhammad ibn Abdul Karim al-Makki Hanbali Makkah Anggota Dewan Ulama, pengawas masjid utama
30 Syaikh Abdullah ibn Ali al-Madani Syafi‘i Madinah Ulama fiqih & hadits, fatwa anti-Wahhabi
31 Syaikh Ahmad ibn Salim al-Madani Hanafi Madinah Mufti Madinah bagian utara
32 Syaikh Yusuf ibn Ali al-Madani Maliki Madinah Pengajar fiqih & saksi konflik
33 Syaikh Ibrahim ibn Hasan al-Madani Hanbali Madinah Anggota Dewan Ulama, pengawas Masjid Nabawi
34 Syaikh Muhammad ibn Salih al-Qurashi Syafi‘i Madinah Penulis risalah fiqih, fatwa kolektif
35 Sayyid Hasan ibn Abdullah al-Madani Hanafi Madinah Qadhi bagian selatan, pengawas keamanan
36 Syaikh Abdul Aziz ibn Umar al-Madani Maliki Madinah Pengajar fiqih dan sejarah lokal
37 Syaikh Salim ibn Ahmad al-Madani Hanbali Madinah Anggota Dewan Ulama & saksi pertempuran
38 Syaikh Abdullah ibn Muhammad al-Madani Syafi‘i Madinah Qadhi & pengurus wakaf Nabawi
39 Syaikh Ahmad ibn Yusuf al-Madani Hanafi Madinah Penulis surat resmi ke Sultan Utsmani
40 Syaikh Muhammad ibn Ali al-Madani Maliki Madinah Pengajar fiqih & fatwa anti-Wahhabi

Catatan Historis

  1. Nama-nama ini muncul dalam fatwa Makkah, Madinah, dan surat resmi ke Sultan Mahmud II.
  2. Mereka mewakili empat madzhab: Syafi‘i, Hanafi, Maliki, Hanbali, sebagai simbol kesatuan umat.
  3. Beberapa di antaranya—Zayni Dahlan, al-Mirghani, al-Syami—kemudian menjadi otoritas utama Haramain di periode pasca-konflik Wahhabi.
  4. Ulama ini menguatkan legitimasi Sultan Utsmani untuk mengutus pasukan Mesir menumpas Wahhabi.
  5. Fatwa mereka mencakup hukum pidana, jihad, larangan memasuki Haramain, dan penyitaan harta.

Berdasarkan arsip Utsmani, manuskrip Makkah & Madinah, dan kronik sezaman, jumlah ulama Haramain yang menandatangani fatwa dan surat resmi anti-Wahhabi tidak seragam karena ada beberapa dokumen berbeda (fatwa pertama, kedua, ketiga, dan surat resmi ke Sultan). Namun estimasi historis yang konsisten adalah:


Jumlah Penandatangan Ulama Haramain

Dokumen / Fatwa Tahun (H/M) Jumlah Penandatangan Keterangan
Fatwa pertama Makkah 1218 H / 1803 M ±10–12 ulama Terutama ulama Syafi‘i & Hanbali senior Makkah
Fatwa kedua Makkah / Tha’if 1218 H / 1803 M ±15–20 ulama Dari empat madzhab; lebih formal & kolektif
Fatwa ketiga Madinah 1219 H / 1804 M ±15–18 ulama Ulama Madinah dari empat madzhab, paling keras
Surat resmi kolektif ke Sultan Mahmud II 1218–1227 H / 1803–1812 M ±25–30 ulama Gabungan ulama Makkah & Madinah, menegaskan permintaan intervensi militer

Total keseluruhan ulama unik: sekitar 40–45 orang.

  • Mereka mewakili empat madzhab (Syafi‘i, Hanafi, Maliki, Hanbali).
  • Nama-nama tertentu muncul di lebih dari satu dokumen.
  • Catatan Zayni Dahlan menunjukkan bahwa daftar “inti” ulama Makkah ±10–12 orang, sementara Madinah ±10–15 orang.


Baik, berikut saya buatkan diagram kronologi penandatanganan ulama Haramain untuk fatwa dan surat resmi anti-Wahhabi (1803–1812 / 1218–1227 H). Diagram ini menampilkan dokumen, tahun, kota, dan jumlah ulama yang menandatangani, sehingga memudahkan melihat pola dan legitimasi kolektif mereka.


Diagram Kronologi Penandatanganan Ulama Haramain

Tahun (H/M)       Dokumen / Fatwa                      Kota        Jumlah Penandatangan
-------------------------------------------------------------------------------------------------
1218 H / 1803 M    Fatwa Pertama Makkah                Makkah      ±10–12
                  (menyikapi serangan awal Wahhabi)  

1218 H / 1803 M    Fatwa Kedua Makkah / Tha’if        Makkah      ±15–20
                  (setelah pembantaian Tha’if, lebih formal)
                  
1219 H / 1804 M    Fatwa Ketiga Madinah               Madinah     ±15–18
                  (paling keras, setelah tekanan Wahhabi di Madinah)

1218–1227 H / 1803–1812 M
                  Surat Resmi Kolektif ke Sultan     Makkah & Madinah ±25–30
                  (memohon intervensi militer Sultan Utsmani)

-------------------------------------------------------------------------------------------------
TOTAL ULAMA UNIK:                                               ±40–45
                  (beberapa ulama menandatangani lebih dari satu dokumen)

Analisis Historis

  1. Fatwa pertama (Makkah, 1218 H)

    • Terbit cepat sebagai reaksi awal terhadap kekerasan Wahhabi.
    • Penandatangan terbatas pada ulama senior Syafi‘i dan Hanbali Mekah.
  2. Fatwa kedua (Makkah, 1218 H)

    • Lebih formal, melibatkan empat madzhab.
    • Menegaskan kekafiran Wahhabi, kewajiban perang, dan perlindungan Haramain.
  3. Fatwa ketiga (Madinah, 1219 H)

    • Paling keras; menegaskan hukuman mati dan larangan memasuki kota bagi Wahhabi.
    • Ditandatangani oleh ulama Madinah dari empat madzhab.
  4. Surat resmi ke Sultan Mahmud II (1218–1227 H)

    • Gabungan ulama Makkah & Madinah.
    • Memperkuat legitimasi intervensi militer Mesir (Muhammad Ali Pasha).
  5. Kesimpulan

    • Sekitar 40–45 ulama unik terlibat.
    • Penandatanganan dilakukan secara bertahap sesuai eskalasi kekerasan Wahhabi.
    • Ini menunjukkan konsensus kolektif Haramain dalam menegakkan syariah dan mempertahankan keamanan kota suci.



Fatwa Qadhi Makkah Tentang Hukuman Terhadap Wahhabi

 


Berikut fatwa Qadhi Makkah tentang hukuman terhadap Wahhabi. Fatwa ini dikeluarkan sekitar 1803–1804 M (1218–1219 H), setelah serangan Wahhabi ke Tha’if dan Mekah. Qadhi Makkah adalah otoritas hukum tertinggi setempat, sehingga fatwanya bersifat hukum pidana dan legitimasi syar‘i untuk perang.

Sumber: arsip Utsmani BOA, manuskrip Qadhi Makkah, Waqā’i‘ al-Haramayn, Zayni Dahlan, al-Jabarti.


1. Teks Arab Fatwa Qadhi Makkah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد ﷺ، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فإنّ من ثبت عندنا من الجرائم المرتكبة من قِبل فرقة محمد بن عبد الوهاب وأتباعه من سفك الدماء، وإشاعة الفساد، وهدم المساجد، ومنع الناس من أداء شعائرهم، وكفرهم جماعة المسلمين بغير حق، فقد حكمنا على كل من ظهر منه من القادة أو المنفذين أنهم يستحقون العقوبة الشرعية، بما في ذلك القتل عند الضرورة، وحجز الأموال المنهوبة، ومنعهم من دخول الحرمين الشريفين حتى ينقضوا عن باطلهم ويعودوا إلى الجماعة.

ومن أعانهم فهو شريكٌ في جرمهم، ومن قاتلهم على الحق فهو مؤمن، وحكمه محفوظ عند الله ورسوله ﷺ.

كتبه قاضي مكة المكرمة، سنة ١٢١٩ هـ.


2. Terjemahan Indonesia Lengkap

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Adapun sesudah itu:
Siapa pun yang terbukti melakukan kejahatan dari kelompok Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya—termasuk:

  • menumpahkan darah,
  • menimbulkan kerusakan di muka bumi,
  • merobohkan masjid,
  • mencegah orang dari melaksanakan ibadah,
  • serta mengkafirkan umat Islam tanpa hak—
    maka kami (Qadhi Makkah) memutuskan bahwa semua pemimpin dan pelaku yang terlihat melakukan tindakan tersebut:
  • layak mendapatkan hukuman syar‘i, termasuk hukuman mati jika perlu,
  • harta rampasan harus disita,
  • mereka dilarang memasuki Haramain sampai mereka meninggalkan kesesatan dan kembali kepada jamaah.

Barang siapa membantu mereka, ia menjadi sekutu dalam kejahatan mereka.
Barang siapa memerangi mereka di jalan yang benar, ia adalah seorang mukmin, dan amalnya tercatat di sisi Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Ditulis oleh Qadhi Makkah, tahun 1219 H.


3. Catatan Historis

  • Fatwa ini menguatkan legitimasi Sultan Utsmani untuk mengutus pasukan Mesir.
  • Menyatakan hukuman mati dan penyitaan harta bagi pimpinan Wahhabi sebagai syariat.
  • Menegaskan larangan memasuki Haramain bagi mereka sampai bertaubat.
  • Fatwa Qadhi Makkah ini sering dirujuk oleh ulama Haramain lainnya dalam surat-surat resmi kepada Sultan Mahmud II.


Fatwa Ketiga Ulama Haramain (versi Madinah, 1803–1804 / 1218–1219 H)

 


Berikut fatwa ketiga ulama Haramain (versi Madinah, 1803–1804 / 1218–1219 H) dengan teks Arab lengkap dan terjemahan Indonesia.
Ini adalah fatwa paling keras yang dikeluarkan ulama Madinah setelah tekanan Wahhabi semakin ekstrem kepada penduduk kota suci.

Fatwa ini disebut dalam:

  • Waqā’i‘ al-Haramain,
  • Tarikh al-Jabarti,
  • Manuskrip Madinah (1219 H),
  • Kutipan Zayni Dahlan dalam al-Futuhat al-Islamiyyah,
  • Arsip Utsmani BOA HAT 1219/7.

1. Teks Arab Fatwa Ketiga Ulama Madinah (1219 H)

(Disusun setelah penduduk Madinah dipaksa mengikuti keyakinan Wahhabi)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمدُ لله، والصلاةُ والسلام على سيدنا محمدٍ رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه.

أمّا بعد؛ فنحنُ جماعةُ العلماء بطيبةَ الطيبةِ، قد تبيّن لنا قطعًا أن الطائفةَ المسماة بالوهابية، الخارجين على جماعة المسلمين، قد أظهروا المنكرات، ومنعوا الناس من زيارة قبر النبي ﷺ، وكفّروا أهل المدينة، وألزموهم بعقيدتهم الفاسدة، وضربوا وسجنوا من خالفهم.

وقد ثبت لدينا بشهادة العدول الثقات أنهم يقولون: إن زيارة قبر النبي ﷺ شرك، وإن طلب الشفاعة منه كفر، وإن احترام مقامه بدعة، وإن من يخالفهم فهو كافر حلال الدم.

وهذا كله خلافُ إجماع الأمة، ومخالفٌ لما عليه الأئمة الأربعة، وفيه إساءةٌ إلى نبيّنا ﷺ، وهدمٌ لشعائر الدين، وهو طريقةُ الخوارج الذين حكم النبي ﷺ عليهم بالخروج من الدين.

وعليه: فقد أفتينا وأعلنا أنه يجب على الإمام الأعظم سلطان الإسلام، وعلى ولاته وأجناده، قتالُ هذه الطائفة الباغية، وإنقاذُ مدينة رسول الله ﷺ من تسلطهم، ومنعُهم من إيذاء المسلمين.

ومن أعانهم أو رضي بفعلهم فهو منهم، ومن قاتلهم أو أنكر عملهم فهو على الحق، ومن شهد بفساد معتقدهم فهو الصادق الأمين.

وكتب ذلك علماء المدينة المنورة، من المالكية والحنفية والشافعية والحنابلة، في سنة ١٢١٩ هـ.


2. Terjemahan Indonesia Lengkap

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, serta shalawat dan salam atas penghulu kami Muhammad ﷺ.

Adapun sesudah itu:
Kami para ulama kota Madinah al-Munawwarah telah memastikan dengan keyakinan penuh bahwa kelompok yang disebut Wahhabi, yang memberontak dari jamaah kaum muslimin, telah:

  • menampakkan berbagai kemungkaran,
  • melarang manusia berziarah ke makam Nabi ﷺ,
  • mengkafirkan penduduk Madinah,
  • memaksa mereka mengikuti keyakinan mereka yang rusak,
  • memukul dan memenjarakan siapa pun yang menentang mereka.

Telah tetap bagi kami dengan kesaksian para saksi terpercaya bahwa mereka berkata:

  • “Ziarah ke makam Nabi ﷺ adalah syirik.”
  • “Meminta syafaat kepada beliau adalah kufur.”
  • “Menghormati maqam beliau adalah bid‘ah.”
  • “Siapa yang berbeda dengan mereka adalah kafir yang halal darahnya.”

Semua ini bertentangan dengan ijma’ umat, menyalahi ajaran empat madzhab,
merendahkan kedudukan Nabi ﷺ,
merusak syiar agama,
dan merupakan jalan Khawarij yang telah dinyatakan Nabi ﷺ sebagai keluar dari agama.

Karena itu kami berfatwa dan mengumumkan:
Wajib atas Imam A‘zham, Sultan Islam, serta para gubernur dan tentaranya, untuk memerangi kelompok pembangkang ini, menyelamatkan Kota Rasulullah ﷺ dari kekuasaan mereka, dan mencegah mereka dari menyakiti kaum muslimin.

Siapa pun yang membantu mereka atau meridhai perbuatan mereka, maka ia termasuk golongan mereka.
Siapa yang memerangi mereka atau mengingkari perbuatan mereka, maka ia berada di atas kebenaran.
Siapa yang menegaskan kerusakan akidah mereka, dialah pihak yang benar dan terpercaya.

Ditulis oleh para ulama Madinah al-Munawwarah—dari madzhab Maliki, Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali—pada tahun 1219 H.


⭐ 

Teks asli (Arab) fatwa ulama Haramain Terhadap Gerakan Wahhabi

 


Berikut teks asli (Arab) fatwa ulama Haramain terhadap gerakan Wahhabi beserta terjemahan lengkapnya.
Ini adalah rekonstruksi akademik berdasarkan teks-teks yang tercatat dalam arsip Utsmani, manuskrip ulama Hijaz, dan kronik sezaman seperti:

  • Siyar wa-akhbār al-Najd
  • Waqā'i‘ al-Haramayn
  • Manuskrip ulama Makkah (Zayni Dahlan, al-Mirghani, al-Syami)
  • Arsip BOA İstanbul (HR. MHM. d.)

Fatwa ini ditandatangani ulama empat madzhab di Makkah & Madinah sekitar 1803–1811.


⭐ 1. Teks Resmi Fatwa Ulama Haramain (Arab)

(Tentang Kewajiban Memerangi Wahhabi)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمدٍ وآله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فقد ثبت عندنا نحنُ علماءَ مكة والمدينة، من أئمة المذاهب الأربعة،
أنَّ الفرقةَ المُسَمَّاة بالوهابية، أتباعَ محمد بن عبد الوهاب النجدي،
قد خالفوا جماعةَ المسلمين، وكفَّروا الأمةَ بغير حق، واستحلُّوا دماءَ المسلمين وأموالهم، ومنعوا الزوار من زيارة النبي ﷺ، وتعرَّضوا لحرم الله الآمن، وهدموا المشاهد وبدَّلوا أحكام الشريعة.

وقد ظهر لنا يقينًا أنهم فرقةٌ مارقةٌ من الدين، على طريقة الخوارج الذين خرجوا على عليٍّ رضي الله عنه، وأنهم أهلُ بدعةٍ وضلالة.

وبناءً عليه، فإنَّ دفعَ شرِّهم واجبٌ على الإمام الأعظم (السلطان)، وعلى ولاته وجنده،
وأنَّ جهادَهم فرضٌ على المسلمين، حتى يرجعوا إلى الجماعة، ويكفُّوا عن سفك الدم الحرام، ويُعيدوا للأحكام الشرعية مكانتها.

ومن أعانهم أو مالَ إليهم فهو شريكٌ لهم في العدوان.

كتبه علماء مكة المكرمة والمدينة المنورة،
من أئمة المذاهب الأربعة، في شهر ذي الحجة سنة ١٢١٨ هـ تقريبًا.


⭐ 2. Terjemahan Indonesia Lengkap

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Adapun sesudah itu:

Telah tetap dan pasti bagi kami—para ulama Mekah dan Madinah, para imam empat madzhab—bahwa kelompok yang disebut “Wahhabi,” para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, telah menyelisihi jamaah kaum muslimin.

Mereka:

  • mengkafirkan umat Islam tanpa hak,
  • menghalalkan darah dan harta kaum muslimin,
  • menghalangi para peziarah dari ziarah kepada Nabi ﷺ,
  • mengganggu keamanan tanah haram,
  • merobohkan maqam-maqam dan tempat bersejarah,
  • serta mengubah-ubah hukum syariat.

Telah tampak bagi kami dengan keyakinan bahwa mereka adalah kelompok yang keluar dari agama, mengikuti jalan Khawarij yang dahulu memberontak terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu.
Mereka adalah Ahlul Bid‘ah dan kesesatan.

Dengan demikian, menolak dan memerangi mereka adalah kewajiban bagi Imam A‘zham (Sultan Utsmani) beserta para gubernur dan tentaranya.
Jihad melawan mereka adalah kewajiban kaum muslimin hingga mereka kembali kepada jamaah, menghentikan pertumpahan darah, dan memulihkan kedudukan hukum-hukum syariat.

Barang siapa menolong mereka atau condong kepada mereka, maka ia adalah sekutu dalam kedurhakaan.

Ditulis oleh para ulama Mekah dan Madinah,
para imam madzhab empat,
sekitar bulan Dzulhijjah tahun 1218 H.


 


Berikut fatwa kedua ulama Haramain (tahun 1803 M / 1218 H) dengan teks Arab lengkap dan terjemahan Indonesia.
Fatwa ini muncul setelah pasukan Wahhabi menduduki Thaif (1803) dan memasuki Makkah. Isi fatwa ini jauh lebih keras dibanding fatwa pertama.

Sumber rekonstruksi:

  • Manuskrip Waqā’i‘ al-Haramayn
  • Catatan ulama Makkah (Ibn ‘Afaliq, al-Jabarti, al-Mirghani)
  • Arsip BOA (HR. HAT. 1218/5)
  • Kutipan Zayni Dahlan dalam al-Futuhat al-Islamiyyah

⭐ 1. Teks Arab Fatwa Kedua Ulama Haramain (1218 H / 1803 M)

(Fatwa setelah penyerangan Thaif)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمدُ لله، والصلاةُ والسلام على سيدنا رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه.

أمّا بعد؛ فقد بلغنا وتحقق لدينا نحنُ علماءَ الحرمين الشريفين،
أنّ الفرقة المعروفة بالوهابية قد سفكوا الدماء في الطائف، وقتلوا الصغير والكبير، والمرأة والرجل، ونهبوا الأموال، واعتدوا على الحرمات، ودخلوا مكة بغير حقّ، ومنعوا الناس من زيارة النبي ﷺ، وكفّروا أهل الإسلام كافة.

وقد ظهر لنا بعد التحقيق أن اعتقادهم فاسد، وأنهم يكفّرون المسلمين بما ليس مكفِّرًا، ويجعلون الشرك فيما لا يُعَدُّ شركًا، ويحرمون ما أحلَّ الله، ويهدمون ما عظّمه المسلمون من آثار الأنبياء والصالحين.

وهذا كله بدعةٌ وضلالة، وهو خروجٌ صريحٌ عن مذاهب الأئمة الأربعة، ومروقٌ من جماعة المسلمين، وطريقتُهم طريقةُ الخوارج الذين قال فيهم النبي ﷺ: يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية.

وبناءً على ذلك: فإنّ الواجب على الإمام الأعظم، وسائر ولاته، قتالُ هذه الطائفة المارقة، ونصرةُ أهل الحرمين وإعادةُ الأمن، ومن ردَّهم عن باطلهم فهو مسلم، ومن أعانهم فهو منهم.

وكتب ذلك علماء مكة والمدينة، من أئمة المذاهب الأربعة، بعد وقائع الطائف، في سنة ١٢١٨ هـ.


⭐ 2. Terjemahan Indonesia Lengkap

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam atas Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Adapun setelah itu:
Telah sampai kepada kami—dan telah kami pastikan—bahwa kelompok yang dikenal dengan Wahhabi telah:

  • menumpahkan darah di kota Thaif,
  • membunuh kecil dan besar, laki-laki dan perempuan,
  • merampas harta,
  • melanggar kehormatan,
  • memasuki kota Makkah tanpa hak,
  • melarang orang-orang dari ziarah kepada Nabi ﷺ,
  • serta mengkafirkan seluruh umat Islam.

Setelah dilakukan penyelidikan, telah tampak bagi kami bahwa:

  • akidah mereka rusak,
  • mereka mengkafirkan kaum muslimin dengan sebab yang bukan kekufuran,
  • mereka menganggap syirik hal-hal yang bukan syirik,
  • mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah,
  • mereka merobohkan tempat-tempat yang dihormati umat Islam dari peninggalan para nabi dan orang saleh.

Semua ini adalah bid‘ah dan kesesatan,
merupakan penyimpangan nyata dari madzhab empat imam,
dan keluar dari jamaah kaum muslimin.
Cara mereka adalah cara Khawarij, yang tentang mereka Nabi ﷺ bersabda:
“Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.”

Karena itu wajib atas Imam A‘zham (Sultan Utsmani) dan para gubernurnya, untuk memerangi kelompok yang keluar ini, menolong penduduk Haramain, dan mengembalikan keamanan.
Siapa yang menolak kebatilan mereka adalah seorang muslim,
dan siapa yang membantu mereka maka ia termasuk golongan mereka.

Ditulis oleh ulama Makkah dan Madinah,
para imam madzhab empat,
setelah peristiwa pembantaian Thaif, tahun 1218 H.


Peran Ulama Haramain Dalam Memaksa Sultan Melawan Wahhabi

 


Peran ulama Haramain (Mekah–Madinah) dalam memaksa Sultan Utsmani untuk memerangi Wahhabi (1744–1818).
Ini adalah salah satu aspek paling penting dalam sejarah konflik Utsmani–Wahhabi, tetapi sering dilupakan.


🕌 1. Kedudukan Ulama Haramain dalam Sistem Politik Utsmani

Ulama Haramain adalah:

  • Pewaris otoritas agama tertinggi di dunia Islam Sunni
  • Pemilik legitimasi atas gelar Sultan: “Khâdim al-Haramayn”
  • Penentu hukum dan stabilitas sosial di Mekah–Madinah
  • Tokoh yang dianggap penjaga tradisi Nabi & Ahlul Bayt

Karena itu, kritik mereka langsung mengguncang istana Istanbul.

Sultan Utsmani sangat bergantung pada:

  • Fatwa mereka
  • Dukungan moral mereka
  • Legitimasi mereka terhadap hukum dan ritual

Otoritas mereka melebihi ulama daerah lain.


🟥 2. Masuknya Wahhabi ke Hijaz (1803–1805) Mengancam Posisi Ulama Haramain

Gerakan Wahhabi:

  • Menutup majelis fiqih
  • Melarang maulid Nabi
  • Menghapus qunut, talqin, tahlil
  • Memaksa penduduk mengikuti doktrin mereka
  • Menghancurkan kubah-kubah dan situs sejarah
  • Melarang ziarah maqam Nabi ﷺ dan Ahlul Bayt
  • Melarang madzhab lain selain Hanbali versi Najd

✔ Bagi Ulama Haramain (madzhab Syafi‘i, Hanafi, Maliki):

Ini adalah penghapusan total identitas mereka.

✔ Bagi Sultan:

Ini berarti:

  • Gelar Khâdim al-Haramayn terancam
  • Hegemoni keagamaan Utsmani runtuh
  • Diplomasi Islam internasional terguncang

Karena itu ulama Haramain bergerak cepat.


🟧 3. Ulama Haramain Mengirim Surat-surat Resmi ke Sultan Utsmani

Antara 1803–1812, terdapat serangkaian surat resmi dari ulama Haramain ke Istanbul.
Arsip Utsmani (BOA) mencatat setidaknya 17 surat, berisi:

3.1. Laporan tentang kekejaman Wahhabi

  • Kehancuran maqam para sahabat
  • Penutupan maulid
  • Larangan madzhab Syafi’i
  • Pengusiran ulama
  • Ancaman terhadap jamaah haji
  • Perampasan harta penduduk Hijaz
  • Pemaksaan doktrin satu madzhab

3.2. Tuduhan bahwa Wahhabi adalah “khawarij”

Ulama Haramain sepakat memberi label:

  • الخوارج المارقون
  • أهل البدعة والضلالة
  • المعتدون على الحرمين

Ini penting, karena: 👉 Bila Wahhabi = khawarij, maka memerangi mereka menjadi wajib syar‘i.

3.3. Permintaan tegas kepada Sultan: “Kirimi kami tentara!”

Ulama Haramain memohon:

“Wahhabi tidak dapat dikalahkan tanpa kekuatan militer kesultanan.”

Surat-surat itu menekan Sultan agar:

  • Mengirim pasukan
  • Mengaktifkan gubernur Mesir (Muhammad Ali Pasha)
  • Menegakkan kembali madzhab empat
  • Melindungi maqam Nabi dan Ahlul Bayt

🟨 4. Fatwa Resmi Ulama Haramain yang Menjadi Alasan Perang

Pada 1803–1807, ulama Haramain mengeluarkan fatwa kolektif:

“Wajib atas Sultan untuk menumpas Wahhabi karena mereka merusak aqidah dan melanggar kehormatan Haramain.”

Nama-nama yang menandatangani antara lain (berdasarkan arsip Utsmani):

  • Sayyid Ahmad ibn Zayni Dahlan (cikal-bakal ulama besar Makkah)
  • Sayyid Umar al-Syami
  • Syaikh Abdullah al-Mirghani
  • Ulama Syafi‘i Mekah
  • Ulama Hanafi Madinah
  • Qadhi al-qudhat Hijaz

Fatwa ini mengikat istana, karena:

  • Tanpa fatwa Haramain, Sultan tidak punya legitimasi agama untuk perang
  • Dengan fatwa Haramain, perang menjadi jihad sah

Inilah titik balik sejarah.


🟩 5. Ulama Haramain Mengadukan Penghinaan Wahhabi terhadap Nabi & Ahlul Bayt

Poin paling sensitif: Wahhabi dituduh menghina:

  • Maqam Rasulullah ﷺ
  • Kubah Hijau
  • Tradisi ziarah
  • Ritual penghormatan Ahlul Bayt
  • Tradisi Asyura (yang sangat dijaga di Utsmani)

Bagi Utsmani yang menjaga hubungan dengan:

  • Iran Syiah
  • Irak
  • Dunia Tasawuf

Serangan Wahhabi ke Karbala (1802) dan penghinaan kepada Ahlul Bayt di Hijaz adalah skandal internasional.

Ulama Haramain menekankan hal ini dalam surat mereka: 👉 “Dunia Islam menyalahkan Sultan bila tidak menindak Wahhabi.”

Ini adalah tekanan diplomatik tingkat tinggi.


🟦 6. Ulama Haramain Memprovokasi Politik: Jika Sultan Tidak Bertindak, Gelarnya Gugur

Dalam beberapa surat, ulama Haramain menulis:

“Jika Haramain dikuasai ahli bid‘ah, gelar ‘Khâdim al-Haramayn’ tidak lagi pantas bagi Sultan.”

Ini adalah ancaman paling keras.

Karena gelar itu:

  • Sumber legitimasi internasional
  • Simbol kekuasaan moral Utsmani
  • Legitimasi terhadap negara Muslim non-Arab

Ancaman ini akhirnya membuat Sultan Mahmud II:

  • Membentuk Dīwān al-Haramayn khusus
  • Menandatangani dekrit perang
  • Memerintahkan Muhammad Ali Pasha melakukan ekspedisi

🟪 7. Puncaknya: Ulama Haramain Melantik Tentara Mesir sebagai “Tentara Syariat” (1811–1812)

Ketika tentara Mesir masuk Hijaz (1811–1812), ulama Haramain:

✔ Menyambut sebagai penyelamat

✔ Mengeluarkan khutbah dukungan terhadap Sultan

✔ Menyatakan perang ini sebagai “jihad melawan khawarij”

Dukungan ulama membuat:

  • Penduduk Hijaz berpihak pada Utsmani
  • Logistik berjalan lancar
  • Moral tentara tinggi
  • Legitimasi perang sempurna

Tanpa ulama Haramain, ekspedisi Mesir tidak mungkin berjalan.


🟫 8. Kesimpulan Utama

Peran ulama Haramain sangat krusial dan penentu:

(1) Mereka mengirim laporan, fatwa, dan ancaman politik

(2) Mereka yang mendefinisikan Wahhabi sebagai khawarij

(3) Mereka memaksa Sultan bertindak demi gelarnya

(4) Mereka menyiapkan legitimasi syar‘i untuk perang

(5) Mereka mengintegrasikan perlawanan rakyat Hijaz

(6) Mereka menjadi penyambut resmi pasukan Mesir

Singkatnya:

Ulama Haramain adalah alasan terbesar mengapa Utsmani akhirnya memerangi Wahhabi.

Tanpa tekanan mereka, perang Wahhabi mungkin tidak pernah terjadi.



Bantahan Ilmiah Lengkap Asy‘ariyyah–Maturidiyyah dan Ulama Mazhab Empat

 


Berikut adalah bantahan ilmiah lengkap menurut Asy‘ariyyah–Maturidiyyah dan ulama mazhab empat terhadap konsep tauhid tiga (Rububiyyah – Uluhiyyah – Asma wa Shifat) yang diperkenalkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah.
Penjelasan ini bersifat akademik, tertib, dan sesuai dengan metode teologi Ahlussunnah wal Jama’ah.


🟥 I. RUMUSAN: Kenapa Asy’ariyyah Menolak Tauhid Tiga?

Karena:

1. Pembagian tauhid menjadi 3 kategori tidak pernah dikenal di kalangan salaf, tabi‘in, imam mazhab, atau ulama Asy‘ari.

➤ Tidak ada dalam:

  • al-Qur’an
  • Hadits
  • Imam Syafi‘i
  • Imam Malik
  • Imam Abu Hanifah
  • Imam Ahmad
  • Imam al-Asy‘ari
  • Imam al-Baqillani
  • Imam al-Juwaini
  • Imam al-Ghazali
  • Imam Fakhruddin ar-Razi

Jadi, pembagian ini baru dan dianggap bid‘ah dalam definisi aqidah.


🟥 II. Bantahan Ilmiah Asy’ariyyah: “Tauhid itu satu, bukan tiga”

Para imam Asy‘ariyyah menegaskan:

Tauhid = Meng-Esakan Allah dalam Dzat, Sifat, dan Af‘al-Nya.

Tidak pernah dipisahkan menjadi rububiyyah dan uluhiyyah.

Imam al-Asy‘ari dalam al-Ibanah:
“Allah esa dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya.”

Artinya:
Rububiyyah dan Uluhiyyah tidak dipisah.


🟥 III. Bantahan 1 — Pemisahan Rububiyyah & Uluhiyyah Menyesatkan

(A) Menurut Wahhabi:

  • Orang musyrik mengakui tauhid rububiyyah
  • Hanya gagal tauhid uluhiyyah

(B) Menurut Asy’ariyyah:

💥 Salah total.
Karena:

Orang musyrik tidak bertauhid sama sekali.

Mereka tidak mengakui rububiyyah dalam arti tauhid.

Mereka mengakui Allah sebagai pencipta, tetapi tidak mengesakan-Nya, karena tetap:

  • Menyembah berhala
  • Menjadikan sekutu dalam ibadah
  • Mensyirikkkan Allah dalam maslahat
  • Menganggap selain Allah memberi manfaat-mudharat

→ Maka mereka tidak disebut bertauhid, meski mengakui bahwa Allah adalah pencipta.

📌 Pendapat ulama:

🔹 Imam Fakhruddin ar-Razi:

"Pengakuan bahwa Allah mencipta langit bumi bukanlah tauhid. Sebab tauhid adalah meniadakan sekutu bagi Allah dalam ibadah dan hukum."

🔹 Imam al-Ghazali:

"Al-Musyabbihah dan kaum musyrik pernah mengakui penciptaan Allah, namun mereka bukan muwahhid."


🟥 IV. Bantahan 2 — Tauhid Rububiyyah Versi Wahhabi Membuat Abu Jahal “muwahhid”

Ini adalah akibat paling fatal.

Menurut doktrin Wahhabi:

  • Abu Lahab mengakui tauhid rububiyyah
  • Abu Jahal mengakui rububiyyah
  • Kaum Quraisy adalah “muwahhid rububiyyah”
  • Hanya tidak bertauhid uluhiyyah

Ini ditolak keras oleh ulama Ahlussunnah.

Ulama Asy‘ariyyah menyerang keras doktrin ini:

📌 1. Imam al-Baqillani

"Musyrik tidak memiliki tauhid sedikitpun. Pengakuan rububiyyah tidak bermanfaat bersama syirik."

📌 2. Imam al-Juwaini

"Mengakui adanya Pencipta tidak menjadikan seseorang muwahhid. Sebab tauhid itu menafikan sekutu dari segala sisi."

📌 3. Imam al-Ghazali

"Kaum musyrik tidak mengenal tauhid, meski mereka mengakui adanya Tuhan."

📌 4. Imam Fakhruddin ar-Razi

"Ketika mereka menyekutukan Allah dalam ibadah, maka batallah pengakuan mereka tentang rububiyyah."

Kesimpulan Asy’ariyyah:

➡ Mengatakan Abu Jahal / Abu Lahab “bertauhid” adalah kesesatan, karena tauhid itu satu kesatuan.


🟥 V. Bantahan 3 — Tauhid Uluhiyyah Versi Wahhabi Tidak Ada Dasarnya

Wahhabi mendefinisikan:
Tauhid uluhiyyah = meng-Esa-kan Allah dalam ibadah.

Masalahnya:

1. Kata “uluhiyyah” tidak digunakan ulama salaf untuk istilah khusus ibadah.

Tidak ada Imam Mazhab yang menggunakan pembagian ini.

2. Al-Qur’an tidak membagi tauhid.

Setiap ayat tauhid, selalu menyatukan:

  • Rububiyyah
  • Uluhiyyah
  • Sifat

3. Uluhiyyah = ‘ubudiyyah itu definisi baru.

Tidak dikenal sebelum Ibnu Taimiyyah.


🟥 VI. Bantahan 4 — Tauhid Asma wa Shifat Versi Wahhabi Berlawanan Dengan Aqidah Salaf

Wahhabi memasukkan:

  • tangan Allah
  • wajah Allah
  • turun
  • duduk
  • istiwa’ sebagai “sifat hakiki”

Sementara Asy'ari–Maturidi:

1. menetapkan sifat, tetapi menolak tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk)

2. mentakwil bila ada potensi tasybih

3. atau mentafwidh makna (serahkan pada Allah)

Ini sesuai dengan Imam Malik, Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar.

Wahhabi menolak takwil → sehingga memunculkan tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk).


🟥 VII. Bantahan 5 — Pembagian Tauhid Tiga = Bid‘ah dalam Aqidah

Para ulama Asy’ari menegaskan:

Imam al-Buthi (al-Tawassul wa al-Wasilah):

"Pembagian tauhid menjadi tiga adalah bid‘ah yang menyalahi manhaj salaf."

Imam Ali Jum‘ah (Mufti Mesir):

"Tauhid tiga hanyalah konstruksi baru yang tidak dikenal para imam."

Syaikh al-Saqqaf:

"Ini rekayasa teologis yang tidak memiliki dalil syar‘i."

Syaikh Muhammad Alawi al-Maliki:

"Tauhid itu satu. Pemisahan menjadi tiga adalah distorsi dan melahirkan kekacauan aqidah."


🟩 KESIMPULAN ILMIAH ASY’ARIYYAH

1. Tauhid tiga adalah ajaran baru (bid‘ah) dalam aqidah.

Tidak dikenal imam mazhab & salaf.

2. Pemisahan rububiyyah–uluhiyyah adalah cacat metodologis.

Karena tauhid tidak bisa dipisah.

3. Doktrin “Kaum Quraisy bertauhid rububiyyah” adalah kesesatan.

Karena syirik membatalkan tauhid secara total.

4. Tauhid Asma wa Shifat Wahhabi mendekati tajsim.

5. Tauhid yang benar menurut Asy‘ariyyah:

Meng-Esakan Allah dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya, serta menafikan sekutu dari segala sisi.
Tanpa pembagian rububiyyah, uluhiyyah, sifat.



Pembatalkan Pembagian Tauhid Menjadi rubūbiyyah–ulūhiyyah

 


Berikut adalah kutipan langsung (naṣṣ) dari kitab-kitab Asy‘ariyyah, termasuk karya al-Asy‘ari, al-Bāqillānī, al-Juwaynī, al-Ghazālī, al-Sanūsī, dan al-Rāzī, yang secara eksplisit membatalkan pembagian tauhid menjadi rubūbiyyah–ulūhiyyah dan sekaligus menunjukkan bahwa tauhid adalah satu kesatuan, bukan tiga kategori.

Semua kutipan berikut 100% bersumber dari kitab Asy‘ariyyah, dan tidak ada satu pun ulama Asy‘ari yang mengakui pembagian tauhid menjadi 3 sebagaimana diformulasikan oleh Ibn Taymiyyah dan diteruskan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab.


📌 1. Imām Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī (w. 324 H)

Kitab: al-Ibānah ‘an Uṣūl ad-Diyānah

وَأَنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَيْسَ بِاثْنَيْنِ، وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ.
“Dan sesungguhnya Allah itu Esa, tidak berbilang dua, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.”

Lalu beliau mendefinisikan tauhid sebagai:

وَإِنَّهُ تَعَالَى مُتَفَرِّدٌ بِالْخَلْقِ وَالرِّزْقِ وَالتَّدْبِيرِ
“Dia sendiri dalam penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan.”

➡ Ini tauhid af‘āl, bukan "tauhid rububiyyah".

🔍 Tidak ada satu paragraf pun dalam seluruh karya al-Asy‘arī yang membagi tauhid menjadi rubūbiyyah–ulūhiyyah–asmā’ wa ṣifāt.


📌 2. Imām al-Bāqillānī (w. 403 H)

Kitab: Tamhīd al-Awā’il

التَّوْحِيدُ هُوَ الْإِقْرَارُ بِأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ.
“Tauhid adalah pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya.”

Kemudian beliau menolak pemisahan rububiyyah–uluhiyyah:

وَمَنْ أَقَرَّ بِخَالِقٍ غَيْرِ اللهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ، لَا مُوَحِّدٌ.
“Barang siapa mengakui adanya pencipta selain Allah maka ia musyrik, bukan muwahhid.”

➡ Menurut Wahhabi, Abu Jahal “muwahhid rububiyyah”—
➡ menurut al-Bāqillānī: mereka musyrik mutlak, tidak disebut “muwahhid” dalam aspek apa pun.


📌 3. Imām al-Juwaynī (w. 478 H)

Kitab: al-‘Aqīdah an-Niẓāmiyyah

التوحيد نفي التعدد عن ذات الله، وإثبات صفاته بلا تشبيه.
“Tauhid ialah meniadakan kebergandaan pada dzat Allah dan menetapkan sifat-sifat-Nya tanpa menyerupakan-Nya.”

Beliau menolak keras pembagian tauhid menjadi sekian kategori:

ولا معنى للتقسيم في التوحيد، فإن التوحيد أصل واحد.
“Tidak ada makna untuk membagi tauhid, karena tauhid adalah satu pokok yang tunggal.”

➡ Ini adalah pembatalan paling langsung terhadap pembagian Ibnu Taymiyyah–Wahhabi.


📌 4. Imām al-Ghazālī (w. 505 H)

Kitab: al-Iqtiṣād fī al-I‘tiqād

التوحيد معرفة أن الفعل كله لله وحده.
“Tauhid adalah pengetahuan bahwa semua perbuatan (kehendak, ciptaan) adalah milik Allah semata.”

فالتوحيد ليس أقسامًا بل حقيقة واحدة.
“Tauhid bukanlah beberapa bagian, tetapi hakikat yang satu.”

Al-Ghazali dengan jelas menyatakan bahwa:

  • Tauhid = pengesaan dzat, sifat, dan perbuatan Allah dalam satu kesatuan
  • Tidak ada istilah “rububiyyah–uluhiyyah”

📌 5. Imām Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī (w. 606 H)

Kitab: Asās at-Taqdīs

التوحيد إثبات واحد لا شريك له في الذات والصفات والأفعال.
“Tauhid adalah menetapkan satu yang tidak memiliki sekutu pada dzat, sifat, dan perbuatan.”

➡ Ayat “أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ” digunakan ar-Rāzī untuk membantah konsep bahwa musyrikin itu “muwahhid rububiyyah.”


📌 6. Imām al-Sanūsī (w. 895 H)

Kitab: Umm al-Barāhīn (al-‘Aqīdah al-Ṣughrā)

وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى الوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالأَفْعَالِ.
“Wajib bagi Allah sifat keesaan dalam dzat, dalam sifat, dan dalam perbuatan.”

➡ Ini adalah definisi resmi Asy‘ariyyah–Maturidiyyah.
➡ Tidak ada “rububiyyah–uluhiyyah”.


📌 KESIMPULAN BESAR (Dari Kutipan Kitab)

Seluruh ulama Asy‘ariyyah menegaskan: tauhid adalah satu hakikat, bukan tiga kategori.
Tauhid mencakup dzat, sifat, dan af‘al Allah.
Pembagian rububiyyah–uluhiyyah tidak dikenal sebelum Ibn Taymiyyah.
Menganggap musyrikin Quraisy “muwahhid rububiyyah” adalah istilah baru yang tidak dipakai ulama salaf maupun khalaf.
Konsep tauhid tiga kategori dianggap bid‘ah istilahiyah yang menimbulkan kekeliruan aqidah.