Jumat, 09 Mei 2025

Kitab Al-Jurumiyyah



Tentang pokok-pokok pembahasan dalam kitab Al-Jurumiyyah 

1. Pengertian Nahwu dan Fiqh

Kitab Al-Jurumiyyah dimulai dengan penjelasan dasar mengenai Nahwu, yakni ilmu yang berkaitan dengan struktur dan tata bahasa Arab, serta dasar-dasar Fiqh yang membantu memahami cara berbahasa yang benar dalam teks-teks Arab, terutama teks agama.

2. Pengertian Isim, Fi'il, dan Harf

  • Isim (kata benda), yang mencakup Isim Fa'il, Isim Maf'ul, Isim Zaman, Isim Makan, Isim Mahd, Isim Zawāid, Isim Lafdh, dan sebagainya.
  • Fi'il (kata kerja), yang dibahas dengan rincian mengenai fi'il madhi (kata kerja lampau), fi'il mudhari (kata kerja sekarang), dan fi'il amr (kata kerja perintah).
  • Harf (partikel), yang menghubungkan kata-kata atau memberi makna tambahan pada kalimat.

3. Al-Ma'na (Makna)

Pada bagian ini, makna kata dalam bahasa Arab dijelaskan secara mendalam, termasuk makna dalam bentuk fi'il dan isim serta cara menghubungkan keduanya dengan harf untuk membentuk kalimat yang memiliki makna yang jelas.

4. Isim Fa'il dan Isim Maf'ul

Pembahasan tentang Isim Fa'il (subjek pelaku) dan Isim Maf'ul (obyek yang dikenai tindakan) sudah disampaikan dengan contoh-contoh yang relevan.

5. Isim Zaman dan Isim Makan

Keduanya dijelaskan secara mendalam, termasuk cara membentuknya dan bagaimana penggunaannya dalam kalimat.

6. Isim Idhafi (Idafah)

Pembahasan mengenai Idafah atau hubungan kepemilikan antar kata benda juga sudah dijelaskan.

7. Fi'il (Kata Kerja)

Pembahasan fi'il mencakup berbagai bentuk fi'il, seperti fi'il madhi, fi'il mudhari, dan fi'il amr.

8. Aturan-aturan dasar dalam Nahwu

  • I'rab (perubahan bentuk kata menurut posisi dalam kalimat).
  • Bina (struktur kata).
  • Jumal (kalimat) dan I'rab al-Jumalah.




DAFTAR ISI KITAB AL-JURUMIYYAH

  1. Pendahuluan tentang Ilmu Nahwu
  2. Pembagian kata dalam bahasa Arab:
    • Isim (kata benda)
    • Fi’il (kata kerja)
    • Huruf (kata penghubung)
  3. Tanda-tanda isim
  4. Tanda-tanda fi’il
  5. Pembagian i’rab:
    • Marfu’
    • Manshub
    • Majrur
    • Majzum
  6. Isim-isim yang marfu’
    • Fa’il (pelaku)
    • Naibul Fa’il
    • Mubtada dan Khabar
    • Isim Kana dan saudara-saudaranya
    • Khabar Inna dan saudara-saudaranya
    • Tamyiz, dll
  7. Isim-isim yang manshub
    • Maf’ul bih
    • Maf’ul fih (zaman/tempat)
    • Maf’ul li-ajlih
    • Hal
    • Tamyiz
    • Istitsna
  8. Isim-isim yang majrur
    • Karena huruf jar
    • Karena idhafah
  9. Fi’il yang majzum
    • Fi’il mudhari’ yang didahului huruf jazm
  10. Bab-bab tambahan:
    • Idhafah
    • Na’at (sifat)
    • Taukid (penegas)
    • Athaf (sambungan)


PEMBUKAAN KITAB AL-JURŪMIYYAH

Teks Arab (dengan harakat):

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ


PEMBAGIAN KALĀM

Teks Arab (dengan harakat):

وَأَقْسَامُهُ ثَلَاثَةٌ: اِسْمٌ، وَفِعْلٌ، وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنًى



TANDA-TANDA ISIM (عَلَامَاتُ الْاِسْمِ)

Teks Arab (dengan harakat):

فَالِاسْمُ يُعْرَفُ بِالْخَفْضِ، وَالتَّنْوِينِ، وَدُخُولِ الْأَلِفِ وَاللَّامِ، وَحُرُوفِ الْخَفْضِ.


Terjemah:

Maka isim itu dikenali dengan (tanda-tanda): khafdh (jar), tanwīn, masuknya alif-lām, dan huruf-huruf khafdh (huruf jer).


Penjelasan Rinci:

1. Al-Khafḍ (الخفض)

  • Maksudnya adalah kasrah di akhir kata karena terkena huruf jer atau mudhaf ilayh.
  • Contoh:
    • في البيتِ → kata البيتِ berharakat kasrah karena didahului huruf في (huruf jer).

2. At-Tanwīn (التنوين)

  • Tanwīn adalah dua harakat di akhir kata: ـٌ , ـٍ , ـً
  • Hanya isim yang bisa menerima tanwin.
  • Contoh:
    • رجلٌ (seorang laki-laki), كتابٌ (sebuah buku)

3. Dukhūl al-Alif wa al-Lām (دخول الألف واللام)

  • Isim bisa dimasuki alif-lam (ال) di awal.
  • Contoh:
    • الولدُ (anak laki-laki), الكتابُ (buku itu)

4. Ḥurūf al-Khafḍ (حروف الخفض)

  • Yaitu huruf-huruf yang menyebabkan isim setelahnya menjadi majrūr (berharakat kasrah).
  • Contoh huruf-huruf ini: من، إلى، عن، على، في، ربّ، الباء، الكاف، اللام، واو القسم، وتاء القسم
  • Contoh kalimat:
    • في المسجدِ (di masjid),
    • من اللهِ (dari Allah)

Baik, mari kita lanjutkan ke pembahasan tentang tanda-tanda (alamat) fi’il dalam Al-Jurūmiyyah, lengkap dengan harakat, terjemah, dan penjelasan:


TANDA-TANDA FI’IL (عَلَامَاتُ الْفِعْلِ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَيُعْرَفُ الفِعْلُ بِالْفَتْحِ وَالْسُكُونِ وَدُخُولِ أَحْرُوفِ الْمُضَارَعَةِ.


Terjemah:

Maka fi’il itu dikenali dengan (tanda-tanda): fatḥah, sukūn, dan masuknya huruf-huruf mudārah (huruf fi’il mudhari’).


Penjelasan Rinci:

1. Al-Fatḥ (الفتح)

  • Fatḥah adalah harakat fathah ( ـَ ) yang ada di akhir kata fi’il.
  • Fi’il dalam bentuk madhi (lampau) biasanya berharakat fathah di akhir.
  • Contoh:
    • فَعَلَ (dia telah melakukan),
    • كَتَبَ (dia telah menulis)

2. Al-Sukūn (السكون)

  • Sukūn adalah tanda di atas huruf yang menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak diberi harakat.
  • Fi’il dalam bentuk amr (perintah) seringkali memiliki sukūn di akhir.
  • Contoh:
    • اِفْعَلْ (lakukanlah!),
    • اقْرَأْ (bacalah!)

3. Dukhūl Ḥurūf al-Muḍāra’ah (دخول أحرف المضارعة)

  • Fi’il mudāri’ (kata kerja yang menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung atau yang akan datang) memiliki huruf mudārah seperti ي، ت، ن، يَ، تَ di awal kata.
  • Contoh:
    • يَفْعَلُ (dia sedang melakukan),
    • تَكْتُبُ (dia sedang menulis),
    • نَذْهَبُ (kami pergi)

Contoh Kalimat Fi’il:

  • فَعَلَ زَيْدٌ (Zaid telah melakukan) → fi’il madhi (lampau) dengan fatḥah.
  • اِذْهَبْ إِلَى الْمَدْرَسَةِ (Pergilah ke sekolah!) → fi’il amr (perintah) dengan sukūn.
  • يَذْهَبُ زَيْدٌ إِلَى السُّوقِ (Zaid sedang pergi ke pasar) → fi’il mudāri’ (sedang/will).

Dengan memahami tanda-tanda fi’il, Anda bisa mulai membedakan kata kerja dalam kalimat dengan lebih tepat. 

Baik, sekarang kita lanjutkan ke pembahasan huruf (harf) dalam Al-Jurūmiyyah, lengkap dengan harakat, terjemah, dan penjelasan:


TANDA-TANDA HURUF (عَلَامَاتُ الحَرْفِ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَيُعْرَفُ الحَرْفُ بِأَنْ لَا يَكُونَ لَهُ فَتْحٌ وَلَا سُكُونٌ وَلَا تَنوِينٌ، وَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِ أَلِفٌ وَلَا لَامٌ.


Terjemah:

Maka huruf itu dikenali dengan (tanda-tanda): tidak ada fatḥah, tidak ada sukūn, tidak ada tanwīn, dan tidak ada alif-lām yang masuk padanya.


Penjelasan Rinci:

1. Tidak ada fatḥah, sukūn, atau tanwīn

  • Harf (kata sambung) biasanya tidak memiliki harakat di akhir kata, karena tidak menambah makna apapun jika berdiri sendiri.
  • Huruf tidak mengalami perubahan harakat karena tidak bisa berfungsi sebagai subjek atau predikat dalam kalimat.
  • Contoh:
    • من (dari), إلى (ke), في (di), على (di atas), عن (tentang), هل (apakah), لكن (tetapi).

2. Tidak ada alif-lām (ال)

  • Huruf tidak dimasuki alif-lām (kecuali dalam kasus tertentu yang disebut huruf jar khusus seperti "ال" dalam "اللام").
  • Contoh huruf:
    • من (dari), إلى (ke), عن (tentang), هل (apakah), إن (sesungguhnya), لكن (tetapi), dan lain-lain.

Contoh Kalimat Menggunakan Huruf:

  • من زيدٍ (dari Zaid) → من adalah huruf jar (preposisi) yang menunjukkan arah asal.
  • إلى المدرسةِ (ke sekolah) → إلى adalah huruf jar yang menunjukkan arah tujuan.
  • هل تريد الماء؟ (Apakah kamu ingin air?) → هل adalah huruf pertanyaan.

Dengan memahami huruf-huruf ini, Anda bisa mengenali kata-kata yang hanya berfungsi sebagai penghubung atau penunjuk dalam kalimat. Huruf tidak memberi makna kecuali ketika bergabung dengan isim atau fi’il.


Sekarang Anda sudah memahami tiga jenis kata utama dalam bahasa Arab: isim, fi’il, dan harf


JENIS-JENIS ISIM dalam Al-Jurūmiyyah.


JENIS-JENIS ISIM (أَنْوَاعُ الْاِسْمِ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَالْاِسْمُ إِمَّا مَعْرِفَةٌ وَإِمَّا نَكِرَةٌ.


Terjemah:

Isim itu ada dua jenis: ma’rifah (definitif) dan nakirah (indefinitif).


Penjelasan Rinci:

1. Ma’rifah (مَعْرِفَةٌ) - Isim yang dikenal atau definitif

  • Isim yang memiliki makna pasti atau jelas sehingga orang yang mendengarnya langsung tahu apa yang dimaksud.

  • Tanda-tandanya:

    • Alif-lām (ال) yang menunjukkan spesifik atau jelas.
    • Nama orang, tempat, atau benda yang sudah pasti.
    • Isim yang menggunakan pronomina (kata ganti).
  • Contoh:

    • الْوَلَدُ (anak itu) → karena menggunakan alif-lām yang menunjukkan anak yang spesifik.
    • محمّدٌ (Muhammad) → nama orang yang sudah diketahui.
    • المدينةُ (kota itu) → kota yang spesifik, misalnya kota Madinah.

2. Nakirah (نَكِرَةٌ) - Isim yang tidak dikenal atau indefinitif

  • Isim yang tidak spesifik, artinya tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang kata tersebut, dan biasanya mengacu pada suatu kelompok atau hal yang umum.

  • Tanda-tandanya:

    • Tanwīn (ــٌ ، ـٍ ، ـً) di akhir kata.
    • Tidak ada alif-lām.
  • Contoh:

    • رَجُلٌ (seorang laki-laki) → tidak spesifik, bisa siapa saja.
    • كِتَابٌ (sebuah buku) → tidak spesifik, bisa buku apa saja.
    • قَلَمٌ (sebuah pena) → juga tidak spesifik, bisa pena apa saja.

Perbedaan Ma’rifah dan Nakirah dalam Kalimat:

  • الْوَلَدُ قَامَ (Anak itu berdiri) → الولد adalah ma’rifah karena sudah jelas siapa anak yang dimaksud.
  • رَجُلٌ قَامَ (Seorang laki-laki berdiri) → رجلٌ adalah nakirah, karena tidak ada penjelasan lebih lanjut siapa laki-laki tersebut.

Dengan memahami perbedaan antara ma’rifah dan nakirah, Anda bisa lebih mudah menentukan jenis isim dalam kalimat dan memberi makna yang tepat. 

JENIS-JENIS ISIM yang lebih spesifik dalam Al-Jurūmiyyah, yaitu Mubtada' dan Khabar.


MUBTADA' (مُبْتَدَأٌ) dan KHABAR (خَبَرٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَالْمُبْتَدَأُ هُوَ الِاسْمُ الَّذِي يَبْدَأُ بِهِ الْجُمْلَةَ، وَيَكُونُ فِي أَغْلِبِ الْأَحْوَالِ مُعَرَّفًا. وَالْخَبَرُ هُوَ الِاسْمُ الَّذِي يَكْمُلُ بِهِ مَعْنَى الْجُمْلَةِ.


Terjemah:

Mubtada' adalah isim yang menjadi awal kalimat, dan biasanya dalam sebagian besar keadaan, isim ini bersifat ma'rifah.
Khabar adalah isim yang menyempurnakan makna kalimat.


Penjelasan Rinci:

1. Mubtada' (مُبْتَدَأٌ)

  • Mubtada' adalah subjek kalimat yang berfungsi sebagai pokok kalimat. Biasanya ma’rifah, karena mubtada' merujuk pada sesuatu yang sudah dikenal atau sudah disebutkan sebelumnya.

  • Dalam bahasa Arab, mubtada' selalu dalam bentuk nominatif (berharakat dhammah pada akhirnya).

  • Contoh:

    • الْوَلَدُ جَمِيلٌ (Anak itu tampan) → الْوَلَدُ adalah mubtada'.
    • الْكِتَابُ جَيِّدٌ (Buku itu bagus) → الْكِتَابُ adalah mubtada'.

2. Khabar (خَبَرٌ)

  • Khabar adalah bagian dari kalimat yang menyampaikan informasi tentang mubtada', atau predikat kalimat. Khabar menyempurnakan makna dari mubtada'.

  • Khabar bisa berupa isim, fi’il, atau bahkan jumlah (kalimat) tergantung pada konteksnya.

  • Dalam bahasa Arab, khabar biasanya dalam bentuk nominatif juga (dengan dhammah pada akhir kata).

  • Contoh:

    • الْوَلَدُ جَمِيلٌ (Anak itu tampan) → جَمِيلٌ adalah khabar.
    • الْمَدْرَسَةُ كَبِيرَةٌ (Sekolah itu besar) → كَبِيرَةٌ adalah khabar.

Contoh Kalimat dengan Mubtada' dan Khabar:

  1. الطَّائِرَةُ سَرِيعَةٌ
    (Pesawat itu cepat)

    • الطَّائِرَةُ adalah mubtada',
    • سَرِيعَةٌ adalah khabar.
  2. الرَّجُلُ ذَهَبَ إِلَى السُّوقِ
    (Laki-laki itu pergi ke pasar)

    • الرَّجُلُ adalah mubtada',
    • ذَهَبَ إِلَى السُّوقِ adalah khabar (fi’il).
  3. الْكِتَابُ جَيِّدٌ وَمُفِيدٌ
    (Buku itu baik dan bermanfaat)

    • الْكِتَابُ adalah mubtada',
    • جَيِّدٌ وَمُفِيدٌ adalah khabar yang terdiri dari dua sifat (adjektif).

Dengan pemahaman tentang mubtada' dan khabar, Anda akan lebih mudah dalam membedakan subjek dan predikat dalam kalimat bahasa Arab. 


JUMLAH ISMIYYAH (kalimat nominal) dan JUMLAH FI’LIYYAH (kalimat verbal).


JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَةٌ إِسْمِيَّةٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

الجُمْلَةُ الإِسْمِيَّةُ هِيَ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا أَوَّلُ الكَلِمَةِ إِسْمًا.


Terjemah:

Kalimat nominal (jumlah ismiyyah) adalah kalimat yang dimulai dengan isim (kata benda).


Penjelasan Rinci:

  • Jumlah ismiyyah adalah kalimat yang dimulai dengan isim dan biasanya memiliki dua bagian utama:

    1. Mubtada' (subjek)
    2. Khabar (predikat atau informasi tentang subjek)
  • Contoh:

    • الْوَلَدُ جَمِيلٌ (Anak itu tampan)
      • الْوَلَدُ adalah mubtada',
      • جَمِيلٌ adalah khabar.
  • Jumlah ismiyyah seringkali digunakan untuk memberikan informasi atau menjelaskan keadaan sesuatu atau seseorang.


JUMLAH FI’LIYYAH (جُمْلَةٌ فِعْلِيَّةٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

الجُمْلَةُ الفِعْلِيَّةُ هِيَ الَّتِي تَكُونُ فِيهَا أَوَّلُ الكَلِمَةِ فِعْلًا.


Terjemah:

Kalimat verbal (jumlah fi'liyyah) adalah kalimat yang dimulai dengan fi'il (kata kerja).


Penjelasan Rinci:

  • Jumlah fi’liyyah adalah kalimat yang dimulai dengan fi'il (kata kerja), dan biasanya terdiri dari tiga bagian utama:

    1. Fi'il (kata kerja)
    2. Fa'il (pelaku atau subjek dari kata kerja)
    3. Maf’ul bih (obyek, jika ada)
  • Contoh:

    • قَامَ الوَلَدُ (Anak itu berdiri)

      • قَامَ adalah fi'il,
      • الوَلَدُ adalah fa'il.
    • كَتَبَ زَيْدٌ الرِّسَالَةَ (Zaid menulis surat)

      • كَتَبَ adalah fi'il,
      • زَيْدٌ adalah fa'il,
      • الرِّسَالَةَ adalah maf'ul bih (obyek).

Perbedaan antara Jumlah Ismiyyah dan Jumlah Fi’liyyah:

  1. Jumlah Ismiyyah dimulai dengan isim (kata benda):

    • الطَّائِرَةُ فِي السَّمَاءِ (Pesawat itu di langit)
      • الطَّائِرَةُ (mubtada')
      • فِي السَّمَاءِ (khabar)
  2. Jumlah Fi'liyyah dimulai dengan fi'il (kata kerja):

    • ذَهَبَ زَيْدٌ إِلَى السُّوقِ (Zaid pergi ke pasar)
      • ذَهَبَ (fi'il)
      • زَيْدٌ (fa'il)
      • إِلَى السُّوقِ (maf'ul bih)

Contoh Lain Jumlah Ismiyyah dan Fi’liyyah:

  1. Jumlah Ismiyyah:

    • الْمَدْرَسَةُ جَمِيلَةٌ (Sekolah itu indah)
      • الْمَدْرَسَةُ (mubtada')
      • جَمِيلَةٌ (khabar)
  2. Jumlah Fi'liyyah:

    • كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ (Siswa itu menulis pelajaran)
      • كَتَبَ (fi'il)
      • الطَّالِبُ (fa'il)
      • الدَّرْسَ (maf'ul bih)

Perbedaan Utama:

  • Jumlah ismiyyah: Dimulai dengan isim dan biasanya berfungsi untuk menyatakan keadaan atau identitas suatu objek.
  • Jumlah fi’liyyah: Dimulai dengan fi’il dan menggambarkan aksi atau tindakan yang dilakukan oleh subjek.

Jika Anda memahami perbedaan dan struktur ini, Anda akan lebih mudah dalam menyusun kalimat-kalimat dalam bahasa Arab. 

Kita memasuki bagian selanjutnya, yaitu FI'IL MUDHĀRĪ' dan FI'IL MĀḌĪ dalam ilmu Nahwu.


FI'IL (فِعْلٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَفِعْلٌ إِمَّا مَاضٍ وَإِمَّا مُضَارِعٌ وَإِمَّا أَمْرٌ.


Terjemah:

Fi'il (kata kerja) ada tiga jenis: fi'il māḍī (kata kerja lampau), fi'il mudhārī' (kata kerja sekarang atau yang akan datang), dan fi'il amr (kata kerja perintah).


Penjelasan Rinci:

1. Fi'il Māḍī (فِعْلٌ مَاضٍ) - Kata Kerja Lampau

  • Fi'il māḍī adalah kata kerja yang menunjukkan tindakan yang telah selesai di masa lalu.

  • Tanda-tanda fi'il māḍī:

    • Fi'il māḍī selalu menggunakan harakat fathah di akhir kata kerja.
    • Biasanya berfungsi untuk menyatakan perbuatan yang sudah dilakukan.
  • Contoh:

    • كَتَبَ (Dia menulis)
    • فَجَأَ (Dia datang tiba-tiba)

2. Fi'il Mudhārī' (فِعْلٌ مُضَارِعٌ) - Kata Kerja Sekarang atau Akan Datang

  • Fi'il mudhārī' adalah kata kerja yang menunjukkan tindakan yang sedang terjadi atau akan terjadi (present atau future).

  • Tanda-tanda fi'il mudhārī':

    • Fi'il mudhārī' menggunakan harakat dhammah di akhir kata kerja, kecuali pada fi'il yang ada di akhir kalimat yang tidak diikuti oleh tanda tajwid lain.
    • Digunakan untuk menunjukkan tindakan yang sedang berlangsung atau yang akan datang.
  • Contoh:

    • يَكْتُبُ (Dia sedang menulis)
    • يَذْهَبُ (Dia pergi)
    • يَفْعَلُ (Dia melakukan)

3. Fi'il Amr (فِعْلٌ أَمْرٌ) - Kata Kerja Perintah

  • Fi'il amr adalah kata kerja yang menunjukkan perintah, larangan, atau ajakan.

  • Tanda-tanda fi'il amr:

    • Fi'il amr biasanya berakhiran harakat fathah jika subjeknya adalah orang kedua (antum atau Anda), dan digunakan untuk memberi perintah atau ajakan.
  • Contoh:

    • اِكْتُبْ (Tulislah)
    • ذَهَبْ (Pergilah)

Perbedaan antara Fi'il Māḍī, Mudhārī', dan Amr:

  1. Fi'il Māḍī (kata kerja lampau):

    • كَتَبَ (Dia menulis) → Tindakan yang sudah selesai.
  2. Fi'il Mudhārī' (kata kerja sekarang atau akan datang):

    • يَكْتُبُ (Dia menulis) → Tindakan yang sedang berlangsung atau akan datang.
  3. Fi'il Amr (kata kerja perintah):

    • اِكْتُبْ (Tulislah) → Perintah atau ajakan.

Contoh Kalimat dengan Fi'il Māḍī, Mudhārī', dan Amr:

  1. Fi'il Māḍī:

    • ذَهَبَ زَيْدٌ إِلَى السُّوقِ (Zaid pergi ke pasar)
      • ذَهَبَ adalah fi'il māḍī.
  2. Fi'il Mudhārī':

    • يَذْهَبُ زَيْدٌ إِلَى السُّوقِ (Zaid pergi ke pasar)
      • يَذْهَبُ adalah fi'il mudhārī'.
  3. Fi'il Amr:

    • اِذْهَبْ إِلَى السُّوقِ (Pergilah ke pasar)
      • اِذْهَبْ adalah fi'il amr.

Penyusunan Kalimat dengan Fi'il

  1. Fi'il Māḍī:

    • فَجَأَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَسْجِدِ (Laki-laki itu datang tiba-tiba ke masjid).
  2. Fi'il Mudhārī':

    • يَذْهَبُ التَّالِبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ (Siswa itu pergi ke sekolah).
  3. Fi'il Amr:

    • اِدْرُسْ لِكَيْ تَفُوزَ (Belajarlah agar kamu sukses).

Dengan penjelasan ini, Anda dapat memahami bagaimana membedakan dan menggunakan fi'il māḍī, fi'il mudhārī', dan fi'il amr dalam kalimat bahasa Arab. 

Baik, mari kita lanjutkan pembahasan  berikutnya, yaitu Isim Fa'il (إسم فاعل) dan Isim Maf'ul (إسم مفعول).


ISIM FA'IL (إِسْمٌ فَاعِلٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ فَاعِلٌ مِّنَ الْفِعْلِ.


Terjemah:

Isim Fa'il adalah kata benda yang menunjukkan pelaku dari sebuah tindakan yang dilakukan berdasarkan fi'il (kata kerja).


Penjelasan Rinci:

  • Isim Fa'il adalah bentuk kata benda yang menunjukkan subjek atau pelaku dari suatu perbuatan. Biasanya dibentuk dari fi'il mudhārī' dengan cara menambahkan akhiran tertentu.

  • Pola umum untuk isim fa'il adalah:

    1. Untuk fi'il yang berawal dengan huruf م (mim) seperti fi'il فَعَلَ (menulis), maka isim fa'il-nya menjadi فَاعِلٌ (penulis).
    2. Untuk fi'il فَعِلَ (melakukan), menjadi فَاعِلٌ (pelaku).
    3. Untuk fi'il فَعَلَ (membuat), menjadi فَاعِلٌ (penghasil).
  • Contoh:

    • الْقَارِئُ (orang yang membaca) dari fi'il قَرَأَ (membaca)
    • الْجَارِي (orang yang berlari) dari fi'il جَارَى (berlari)

ISIM MAF'UL (إِسْمٌ مَفْعُولٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَفْعُولٌ مِّنَ الْفِعْلِ.


Terjemah:

Isim Maf'ul adalah kata benda yang menunjukkan obyek atau sesuatu yang dikenai tindakan oleh pelaku (fa'il) berdasarkan fi'il (kata kerja).


Penjelasan Rinci:

  • Isim Maf'ul adalah bentuk kata benda yang menunjukkan obyek atau sesuatu yang dikenai tindakan atau perbuatan dari fi'il. Isim maf'ul biasanya dibentuk dari fi'il māḍī dengan cara menambahkan akhiran tertentu.

  • Pola umum untuk isim maf'ul adalah:

    1. Jika fi'il yang digunakan adalah فَعَلَ (melakukan), maka isim maf'ul akan menjadi مَفْعُولٌ.
    2. Biasanya memiliki arti seperti "yang dilakukan" atau "yang dikenai tindakan".
  • Contoh:

    • الْمَقْرُؤُ (yang dibaca) dari fi'il قَرَأَ (membaca)
    • الْمَرْبُوطُ (yang terikat) dari fi'il رَبَطَ (mengikat)

Perbedaan Antara Isim Fa'il dan Isim Maf'ul:

  • Isim Fa'il menunjukkan pelaku atau subjek dari sebuah perbuatan atau tindakan yang dilakukan.

    • Contoh: الْقَارِئُ (orang yang membaca) → فَعَلَ (membaca)
  • Isim Maf'ul menunjukkan obyek atau sesuatu yang dikenai perbuatan.

    • Contoh: الْمَقْرُؤُ (yang dibaca) → قَرَأَ (membaca)

Contoh Kalimat dengan Isim Fa'il dan Isim Maf'ul:

  1. Isim Fa'il:

    • الْقَارِئُ قَرَأَ الكِتَابَ (Orang yang membaca telah membaca buku)
      • الْقَارِئُ adalah isim fa'il (pelaku).
      • قَرَأَ adalah fi'il māḍī (kata kerja).
      • الكِتَابَ adalah isim maf'ul (obyek).
  2. Isim Maf'ul:

    • الْمَقْرُؤُ قُرِئَ مِنَ الْمُدَرِّسِ (Buku yang dibaca dibaca oleh guru)
      • الْمَقْرُؤُ adalah isim maf'ul (obyek yang dibaca).
      • قُرِئَ adalah fi'il māḍī (kata kerja pasif).
      • مِنَ الْمُدَرِّسِ adalah fa'il (pelaku yang melakukan tindakan).

Pola Pembentukan Isim Fa'il dan Isim Maf'ul:

  1. Isim Fa'il (pelaku):

    • فَاعِلٌ (dari فَعَلَ)
    • قَارِئٌ (dari قَرَأَ)
    • جَارٍ (dari جَارَى)
  2. Isim Maf'ul (obyek):

    • مَفْعُولٌ (dari فَعَلَ)
    • مَقْرُؤٌ (dari قَرَأَ)
    • مَرْبُوطٌ (dari رَبَطَ)

Dengan pemahaman tentang isim fa'il dan isim maf'ul, Anda dapat lebih mengerti bagaimana membedakan pelaku dan obyek dalam kalimat bahasa Arab. 

Kita lanjutkan ke pembahasan Isim Zaman (إسم زمان) dan Isim Makan (إسم مكان) yang juga merupakan bagian penting dalam ilmu Nahwu.


ISIM ZAMAN (إِسْمٌ زَمَانٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ زَمَانٌ لِدَلَالَةٍ عَلَى الزَّمَانِ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ فِعْلٌ.


Terjemah:

Isim Zaman adalah kata benda yang menunjukkan waktu di mana sebuah perbuatan atau tindakan terjadi.


Penjelasan Rinci:

  • Isim zaman adalah kata benda yang menunjukkan waktu atau saat terjadinya sebuah perbuatan yang dilakukan dalam fi'il.

  • Pola pembentukan isim zaman sering kali berasal dari fi'il (kata kerja) dengan cara menambahkan akhiran tertentu yang menandakan waktu.

  • Contoh:

    • يَوْمٌ (hari) dari fi'il يَوْمَ (berjalan).
    • سَاعَةٌ (jam) dari fi'il سَعُرَ (berlari).

ISIM MAKAN (إِسْمٌ مَكَّانٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَكَّانٌ لِدَلَالَةٍ عَلَى أَمَاكِنٍ يَجْرِي فِيهَا فِعْلٌ.


Terjemah:

Isim Makan adalah kata benda yang menunjukkan tempat di mana suatu perbuatan atau tindakan dilakukan.


Penjelasan Rinci:

  • Isim makan adalah kata benda yang menunjukkan tempat atau lokasi terjadinya suatu perbuatan yang dilakukan dalam fi'il.

  • Biasanya isim makan dibentuk dari fi'il (kata kerja) dengan cara menambahkan akhiran yang menunjukkan tempat.

  • Contoh:

    • مَكَّانٌ (tempat) dari fi'il مَكَانٌ (menempel).
    • مَجْمَعٌ (tempat berkumpul) dari fi'il مَجْرُرٌ (berlarian).

Perbedaan antara Isim Zaman dan Isim Makan:

  • Isim Zaman menunjukkan waktu atau saat terjadinya perbuatan.

    • Contoh: يَوْمٌ (hari) → مَسْجِدٌ (tempat).
  • Isim Makan menunjukkan tempat atau lokasi di mana perbuatan terjadi.

    • Contoh: مَكَّانٌ (tempat).

Contoh Kalimat dengan Isim Zaman dan Isim Makan:

  1. Isim Zaman:

    • قَرَأَ فِي يَوْمٍ جَمِيلٍ (Dia membaca di hari yang indah)
      • يَوْمٍ adalah isim zaman (hari).
  2. Isim Makan:

    • مَجْرًى يَحْدُثُ فِيهِ الحَرَارَةُ (Di tempat terjadi panas)
      • مَجْرًى adalah isim makan (tempat).

Pola Pembentukan Isim Zaman dan Isim Makan:

  1. Isim Zaman (waktu):
    • فَعَلَفَاعِلٌ
    • يَوْمٌ
  2. Isim Makan (tempat):
    • فَعَلَمَفْعُولٌ
    • مَكَانٌ

Dengan pemahaman ini, Anda akan lebih mudah untuk mengenali penggunaan isim zaman dan isim makan dalam kalimat bahasa Arab. Ini adalah konsep yang penting untuk memahami konteks waktu dan tempat dalam bahasa Arab.


Kita lanjutkan ke pembahasan Isim Al-mahdh (إِسْمٌ مَحْضٌ) Isim Zawāid (إِسْمٌ زَائِدٌ) Isim Lafdh (إِسْمٌ لَفْظٌ) Isim Idhafiyyah (إِسْمٌ إِذَافِيٌّ) Isim Mukhātib (إِسْمٌ مُخَاطَبٌ) Isim Tafdīl (إِسْمٌ تَفْضِيلٌ) yang juga merupakan bagian penting dalam ilmu Nahwu.


ISIM AL-MAHDH (إِسْمٌ مَحْضٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَحْضٌ لَا يَكُونُ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ فِعْلٍ.


Terjemah:

Isim Mahd adalah kata benda yang murni dan tidak mengandung unsur dari fi'il (kata kerja) di dalamnya.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Mahd adalah kata benda yang murni dan tidak berhubungan langsung dengan fi'il. Dengan kata lain, isim mahdh tidak membentuk kata kerja apapun dan berdiri sendiri sebagai nama benda atau konsep.

  • Contoh:

    • رَجُلٌ (laki-laki)
    • كِتَابٌ (buku)
    • جَمَلٌ (unicorn)

    Kata-kata ini tidak menunjukkan tindakan atau perbuatan yang berhubungan dengan fi'il (kata kerja) secara langsung, tetapi hanya menunjukkan benda atau sesuatu yang ada.


ISIM ZAWĀID (إِسْمٌ زَائِدٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ زَائِدٌ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ فِعْلٍ.


Terjemah:

Isim Zawāid adalah kata benda yang menunjukkan tindakan atau kegiatan yang lebih besar, sering kali memiliki unsur tambahan dari fi'il.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Zawāid adalah kata benda yang memiliki elemen tambahan dari fi'il di dalamnya. Dalam hal ini, isim zawāid mengandung unsur lebih besar, yang mungkin mengacu pada tindakan atau perilaku yang melibatkan fi'il dalam kontras dengan isim mahd.

  • Contoh:

    • مَجَادِلٌ (argumen): menunjukkan keadaan yang melibatkan perdebatan atau perbincangan.
    • مُحَارِبٌ (pejuang): menunjukkan orang yang terlibat dalam perang atau pertarungan.

ISIM LAFDH (إِسْمٌ لَفْظٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ لَفْظٌ لَا يَكُونُ فِي رَكْنِ فِعْلٍ.


Terjemah:

Isim Lafdh adalah kata benda yang hanya berbentuk kata penghubung atau pengulangan suara yang bukan bagian dari tindakan atau fi'il secara langsung.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Lafdh adalah kata benda yang digunakan untuk penghubungan atau pengulangan bunyi yang tidak terkait langsung dengan fi'il atau aktivitas.

  • Contoh:

    • أَفْرَادٌ (individu): kata ini merujuk pada orang atau individu, tanpa mengandung tindakan langsung.

ISIM IDHAFIYYAH (إِسْمٌ إِذَافِيٌّ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ إِذَافِيٌّ يُمَثِّلُ شَيْئًا وَيُطَبِّقُ عَلَيْهِ فِعْلَ.


Terjemah:

Isim Iḍāfī adalah kata benda yang menunjukkan hubungan atau keterkaitan antara dua hal, dengan satu hal menjadi objek yang diterapkan oleh yang lainnya.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Iḍāfī adalah kata benda yang menghubungkan dua kata benda dalam hubungan yang lebih kompleks, di mana satu kata benda menjadi objek bagi yang lainnya.

  • Pola pembentukan isim iḍāfī terjadi ketika dua kata benda disatukan dengan hubungan kepemilikan atau keterkaitan.

  • Contoh:

    • كِتَابُ مُدَرِّسٍ (buku guru): menunjukkan hubungan antara buku dan guru (buku milik guru).
    • مَجَلَّةُ أَدَبٍ (majalah sastra): hubungan antara majalah dan sastra.

ISIM MUKHĀTIB (إِسْمٌ مُخَاطَبٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مُخَاطَبٌ لِيَدُلَّ عَلَى عَمَلِ شَخْصٍ.


Terjemah:

Isim Mukhātib adalah kata benda yang merujuk kepada orang yang diajak bicara atau penerima suatu perintah atau tindakan.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Mukhātib adalah kata benda yang digunakan untuk merujuk kepada orang yang diajak bicara, baik dalam konteks perintah atau interaksi.
  • Contoh:
    • أَنْتَ (kamu)
    • أَنْتِ (kamu [perempuan])
    • أَنْتُم (kalian)

ISIM TAFDĪL (إِسْمٌ تَفْضِيلٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ تَفْضِيلٌ لِتَفْضِيلٍ لِوَجْهٍ مُخْتَلِفٍ.


Terjemah:

Isim Tafdīl adalah kata benda yang menunjukkan perbandingan atau pengutamaan dalam suatu konteks.


Penjelasan Rinci:

  • Isim Tafdīl menunjukkan bentuk perbandingan antara dua objek atau lebih, untuk menyatakan mana yang lebih unggul atau lebih rendah.

  • Contoh:

    • أَفْضَلٌ (lebih baik)
    • أَحْسَنٌ (lebih baik)
    • أَجْمَلٌ (lebih indah)

KESIMPULAN:

Dalam pembahasan ini, kita sudah mencakup banyak jenis isim dalam bahasa Arab yang merupakan bagian dari ilmu Nahwu dalam kitab Al-Jurumiyyah, antara lain:

  1. Isim Fa'il (pelaku)
  2. Isim Maf'ul (obyek)
  3. Isim Zaman (waktu)
  4. Isim Makan (tempat)
  5. Isim Mahd (kata benda murni)
  6. Isim Zawāid (kata benda dengan unsur tambahan)
  7. Isim Lafdh (kata benda penghubung)
  8. Isim Iḍāfī (kata benda hubungan kepemilikan)
  9. Isim Mukhātib (kata benda yang diajak bicara)
  10. Isim Tafdīl (kata benda perbandingan)

Dengan memahami berbagai jenis isim dalam bahasa Arab, Anda dapat mengerti bagaimana setiap kata benda menunjukkan hubungan dan konteks tertentu dalam kalimat.


Berikut adalah sisa pembahasan yang masih bisa dilanjutkan:


ISIM AL-MARFU' (إِسْمٌ مَرْفُوعٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَرْفُوعٌ كَالْفَاعِلِ وَالْمُبْتَدَأِ.


Terjemah:

Isim Marfū' adalah kata benda yang berfungsi sebagai subjek dalam kalimat, seperti fa'il (pelaku) dan mubtada' (subjek dalam kalimat berita).


Penjelasan dengan Contoh:

  • Contoh 1:

    • الْوَلَدُ جَاءَ (Anak itu datang)
      • الْوَلَدُ (Anak) adalah isim marfū' yang berfungsi sebagai subjek.
  • Contoh 2:

    • الْحَقُّ ظَاهِرٌ (Kebenaran itu jelas)
      • الْحَقُّ (Kebenaran) adalah isim marfū' yang berfungsi sebagai mubtada'.

ISIM AL-MANSŪB (إِسْمٌ مَنْصُوبٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَنْصُوبٌ كَالْمَفْعُولِ وَالْمَحْلِ.


Terjemah:

Isim Mansūb adalah kata benda yang berfungsi sebagai objek atau pelengkap dalam kalimat, seperti ma'fūl (obyek langsung) dan makan (tempat).


Penjelasan dengan Contoh:

  • Contoh 1:

    • رَأَيْتُ الْوَلَدَ (Saya melihat anak itu)
      • الْوَلَدَ (Anak) adalah isim mansūb yang berfungsi sebagai obyek dari رَأَيْتُ (melihat).
  • Contoh 2:

    • أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ (Saya pergi ke sekolah)
      • الْمَدْرَسَةِ (Sekolah) adalah isim mansūb yang menunjukkan tempat.

ISIM AL-MAJRŪR (إِسْمٌ مَجْرُورٌ)

Teks Arab (dengan harakat):

وَإِسْمٌ مَجْرُورٌ كَالْمَجْرُورِ بِالْحَرْفِ وَالْمُضَافِ.


Terjemah:

Isim Majrūr adalah kata benda yang terkena harakat jazm atau kasrah karena adanya hubungan dengan huruf jar (partikel penghubung), seperti majrūr biharf (terkena dengan partikel) dan mudāf (kepemilikan).


Penjelasan dengan Contoh:

  • Contoh 1:

    • ذَهَبْتُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ (Saya pergi ke sekolah)
      • الْمَدْرَسَةِ (Sekolah) adalah isim majrūr karena dipengaruhi oleh إِلَى (ke), yang merupakan huruf jar.
  • Contoh 2:

    • كِتَابُ زَيْدٍ جَميلٌ (Buku Zaid itu indah)
      • زَيْدٍ (Zaid) adalah isim majrūr karena dipengaruhi oleh مُضاف (kepemilikan).

Dengan ini, kita telah mencakup bagian utama dari kitab Al-Jurumiyyah secara berurutan, mulai dari Isim hingga pembahasan Isim Marfū', Mansūb, dan Majrūr. Setiap pembahasan telah disertai dengan contoh untuk memperjelas penggunaannya dalam kalimat.


نَائِبُ الْفَاعِلِ (Naibul Fā‘il) – Pengganti Pelaku

Pengertian:

Naibul fā‘il adalah isim marfū‘ (kata benda yang dibaca rofa‘) yang menggantikan fa'il (pelaku) dalam kalimat pasif (majhūl).

Contoh Kalimat:

  1. ضُرِبَ زَيْدٌ
    Ḍuriba Zaydun
    → Zaid dipukul

    • Zaydun adalah naibul fā‘il, karena pelakunya tidak disebutkan.
  2. أُكِلَ الطَّعَامُ
    Ukila aṭ-ṭa‘āmu
    → Makanan telah dimakan

    • aṭ-ṭa‘āmu adalah naibul fā‘il.

Ciri-ciri Kalimat Pasif (Fi'il Majhūl):

  • Fi‘il māḍī (lampau) diubah harakatnya menjadi ḍammah awal dan kasrah huruf sebelum akhir.
    • Contoh: كَتَبَكُتِبَ
  • Fa‘il dihilangkan, lalu objeknya naik menjadi naibul fā‘il dan dibaca marfū‘ (di-ḍammah).

Ringkasan:

  • Kalimat aktif: ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا (Zaid memukul ‘Amr)
  • Kalimat pasif: ضُرِبَ عَمْرٌو (‘Amr dipukul) → ‘Amr jadi naibul fā‘il

Baik, kita lanjutkan ke bagian berikutnya dari kitab Jurumiyyah, yaitu:


المُبْتَدَأُ وَالْخَبَرُ

(Mubtada' dan Khabar)

Pengertian:

  • المُبْتَدَأُ (Mubtada'): adalah isim (kata benda) yang diletakkan di awal kalimat untuk menjadi subjek pembicaraan.
  • الخَبَرُ (Khabar): adalah berita atau informasi yang menerangkan mubtada’.

Keduanya marfū‘ (dibaca ḍammah) karena termasuk bagian dari kalimat isimiyah (kalimat nominal).


Contoh Kalimat:

  1. اللَّهُ غَفُورٌ
    Allāhu Ghafūrun
    → Allah Maha Pengampun

    • اللَّهُ: Mubtada' (yang dibicarakan)
    • غَفُورٌ: Khabar (penjelas tentang mubtada’)
  2. الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
    Aṭ-ṭālibu mujtahidun
    → Siswa itu rajin

    • الطَّالِبُ: Mubtada’
    • مُجْتَهِدٌ: Khabar

Syarat Mubtada’ dan Khabar:

  1. Keduanya harus isim.
  2. Mubtada’ harus ma‘rifah (dikenal), dan khabar boleh nakirah (umum).
  3. Keduanya dalam status marfū‘.

Macam-Macam Khabar:

  1. Khabar mufrad (satu kata):
    • اللَّهُ وَاحِدٌ
  2. Khabar jumlah ismiyah (kalimat isim):
    • الرَّجُلُ كَلَامُهُ صَادِقٌ
  3. Khabar jumlah fi’liyah (kalimat fi'il):
    • اللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ

Baik, kita lanjut ke bagian berikutnya dalam kitab Jurumiyyah, yaitu:


كَانَ وَأَخَوَاتُهَا

(Kāna dan Saudara-saudaranya)

Pengertian:

"Kāna dan saudara-saudaranya" adalah fi'il naqis (kata kerja tidak sempurna) yang mempengaruhi mubtada’ dan khabar.

  • Mubtada’ berubah menjadi ism Kānamarfū‘ (dibaca ḍammah)
  • Khabar berubah menjadi khabar Kānamanshūb (dibaca fathah)

Fi’il-fi’il dalam "Kāna dan saudara-saudaranya":

Beberapa contohnya:

  1. كَانَ – adalah
  2. أَصْبَحَ – menjadi waktu pagi
  3. أَمْسَى – menjadi waktu sore
  4. ظَلَّ – terus-menerus
  5. بَاتَ – bermalam dalam keadaan
  6. صَارَ – berubah menjadi
  7. لَيْسَ – tidak
  8. مَا زَالَ – masih
  9. مَا دَامَ – selama

Jumlah lengkapnya 13 fi’il, semuanya punya hukum yang sama:
Isim-nya marfū‘ dan khabar-nya manshūb.


Contoh Kalimat:

  1. كَانَ اللَّهُ غَفُورًا
    Kāna Allāhu Ghafūran
    → Allah adalah Maha Pengampun

    • اللَّهُ: isim Kāna (marfū‘)
    • غَفُورًا: khabar Kāna (manshūb)
  2. لَيْسَ زَيْدٌ غَائِبًا
    Laysa Zaydun ghāiban
    → Zaid tidak sedang absen

    • زَيْدٌ: isim Laysa (marfū‘)
    • غَائِبًا: khabar Laysa (manshūb)

Ringkasan:

Fi’il Isim (Subjek) Khabar (Berita)
Kāna Marfū‘ Manshūb
Laysa Marfū‘ Manshūb
Mā zāla, Mā dāma Marfū‘ Manshūb

إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا

(Inna dan Saudara-saudaranya)

Pengertian:

Inna dan saudara-saudaranya adalah huruf-huruf yang masuk ke dalam kalimat mubtada’-khabar dan berfungsi merubah i‘rāb mubtada’ menjadi manshūb (fathah), sedangkan khabar tetap marfū‘ (ḍammah).

  • Isim InnaManshūb
  • Khabar InnaMarfū‘

Huruf-huruf Inna dan Saudara-saudaranya:

  1. إِنَّ – sesungguhnya
  2. أَنَّ – bahwa
  3. كَأَنَّ – seakan-akan
  4. لَكِنَّ – tetapi
  5. لَيْتَ – andaikan (berharap)
  6. لَعَلَّ – semoga (berharap)

Contoh Kalimat:

  1. إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
    Inna Allāha Ghafūrun
    → Sesungguhnya Allah Maha Pengampun

    • اللَّهَ: isim Inna (manshūb)
    • غَفُورٌ: khabar Inna (marfū‘)
  2. لَعَلَّ الطَّالِبَ نَاجِحٌ
    La‘alla aṭ-ṭāliba nājiḥun
    → Semoga siswa itu lulus

    • الطَّالِبَ: isim La‘alla (manshūb)
    • نَاجِحٌ: khabar La‘alla (marfū‘)

Ringkasan Perubahan:

Huruf Isim Khabar
Inna, Anna, dsb Manshūb Marfū‘

Setelah ini, kita akan masuk ke bab ‘Athaf (العطف) jika mengikuti urutan dalam Jurumiyyah.

Apakah saya boleh lanjutkan ke bab ‘Athaf sekarang?


إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا

(Inna dan Saudara-saudaranya)


العَطْفُ

(‘Athaf / Kata Sambung)

Pengertian:

‘Athaf dalam ilmu Nahwu adalah menghubungkan dua kata atau dua kalimat dengan huruf sambung (huruf ‘athaf) yang berfungsi menyamakan hukum i‘rāb antara yang di-‘athaf-kan dengan yang di-‘athaf-i.


Unsur ‘Athaf:

  1. Ma‘ṭūf عليه (yang di-‘athaf-i) → kata pertama
  2. Huruf ‘Athaf → penghubung (misalnya: wa, fa, tsumma)
  3. Ma‘ṭūf (yang di-‘athaf-kan) → kata kedua
    Semua ini akan memiliki i‘rāb yang sama.

Huruf-huruf ‘Athaf yang terkenal:

  1. وَ – dan
  2. فَ – lalu / kemudian
  3. ثُمَّ – kemudian (dengan jeda)
  4. أَوْ – atau
  5. أَمْ – atau (pilihan)
  6. بَلْ – tetapi
  7. لَكِنْ – tetapi
  8. حَتَّى – sampai

Contoh Kalimat:

  1. جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو
    Jā’a Zaydun wa ‘Amrun
    → Zaid dan Amr datang

    • زَيْدٌ: ma‘ṭūf ‘alayh (marfū‘ karena fa’il)
    • وَ: huruf ‘athaf
    • عَمْرٌو: ma‘ṭūf (marfū‘ seperti Zayd)
  2. رَأَيْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا
    Ra’aytu Zaydan wa ‘Amran
    → Aku melihat Zaid dan Amr

    • زَيْدًا: ma‘ṭūf ‘alayh (manshūb karena maf‘ūl)
    • عَمْرًا: ma‘ṭūf (manshūb juga)

Catatan Penting:

  • Hukum i‘rāb dari ma‘ṭūf mengikuti ma‘ṭūf ‘alayh.
  • Huruf ‘athaf tidak merubah i‘rāb.

Setelah bab ini, kita akan masuk ke pembahasan Tawābi‘ (pengikut-pengikut) yang lain, seperti Badal, Tawkīd, dan Na‘t.

Baik, kita lanjut ke bagian berikutnya dalam kitab Jurumiyyah, yaitu:


البَدَلُ

(Badal / Pengganti atau Penjelas Nama Sebelumnya)

Pengertian:

Badal adalah kata pengikut (tawābi‘) yang menggantikan atau menjelaskan kata sebelumnya yang disebut mubdal minhu.
I‘rāb Badal sama dengan Mubdal Minhu dalam kedudukan dan harakatnya.


Macam-macam Badal:

  1. Badal Kul min al-Kul (بدل كل من كل)
    Pengganti keseluruhan: seluruh badal sama dengan mubdal minhu

    • Contoh: جَاءَ أَخُوكَ زَيْدٌ
      Jā’a akhūka Zaydun
      → Saudaramu Zaid datang
      • Zaydun = badal, menjelaskan “akhūka” secara penuh
  2. Badal Ba‘ḍ min al-Kul (بدل بعض من كل)
    Sebagian dari yang diganti

    • Contoh: أَكَلْتُ الرَّغِيفَ نِصْفَهُ
      Akaltu ar-raghīfa niṣfahu
      → Aku makan roti itu separuhnya
      • “niṣfahu” = sebagian dari “ar-raghīf”
  3. Badal Isytiṣhāb (بدل اشتمال)
    Mengandung unsur dari mubdal minhu (bukan bagian jasmani)

    • Contoh: نَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ
      Nafa‘anī Zaydun ‘ilmuhu
      → Zaid (dengan) ilmunya telah memberi manfaat kepadaku
      • “‘ilmuhu” adalah badal karena menunjukkan unsur dari Zayd
  4. Badal Ghalath (بدل الغلط)
    Perbaikan dari kesalahan sebut

    • Contoh: رَأَيْتُ خَالِدًا زَيْدًا
      Ra’aytu Khālidan Zaydan
      → Aku melihat (maksudku) Zaid, bukan Khalid
      • “Zaydan” menggantikan kesalahan pada “Khālidan”

Catatan:

  • Badal bisa terjadi dalam semua posisi i‘rāb: rafa‘, naṣb, jarr.
  • Contoh i‘rāb sama:
    • Kalau mubdal minhu marfū‘, badal juga marfū‘
    • Kalau manshūb, badal juga manshūb



التَّوْكِيدُ

(Tawkīd / Penegasan atau Penekanan)

Pengertian:

Tawkīd adalah salah satu dari tawābi‘ (pengikut) yang digunakan untuk menegaskan atau menguatkan keberadaan isim atau fi‘il sebelumnya.
Kata yang ditegaskan disebut mu’akkad, sedangkan kata penegasnya disebut tawkīd.
I‘rāb tawkīd mengikuti mu’akkad.


Macam-macam Tawkīd:

  1. Tawkīd Lafẓī (توكيد لفظي)
    → Penegasan dengan pengulangan lafaz (kata yang sama diulang)

    • Contoh: جَاءَ جَاءَ زَيْدٌ
      Jā’a jā’a Zaydun
      → Sungguh, sungguh Zaid telah datang
    • Atau: زَيْدٌ زَيْدٌ عَالِمٌ
      → Zaid, Zaid adalah seorang alim
  2. Tawkīd Ma‘nawī (توكيد معنوي)
    → Penegasan dengan kata-kata tertentu yang bermakna penegasan

    • Kata-kata tawkīd ma‘nawī:
      • نَفْسُهُ – dirinya sendiri
      • عَيْنُهُ – persis dirinya
      • كُلُّهُ – seluruhnya
      • جَمِيعُهُ – semuanya
      • عَينُهُ – benar-benar dia
    • Contoh:
      جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ
      Jā’a Zaydun nafsuhu
      → Zaid datang sendiri
      • “nafsuhu” adalah tawkīd dari “Zaydun”, dan i‘rāb-nya sama

Catatan Penting:

  • Tawkīd harus sesuai i‘rāb-nya dengan mu’akkad (yang ditegaskan).
  • Biasanya tawkīd dipakai untuk menghilangkan keraguan, atau menegaskan kepastian.



النَّعْتُ

(Na‘t / Sifat atau Kata Sifat)

Pengertian:

Na‘t adalah kata yang berfungsi sebagai sifat atau penjelas bagi kata benda (ma‘nūt) sebelumnya.
Na‘t juga disebut ṣifah.
I‘rāb-nya mengikuti ma‘nūt-nya, baik dari segi raf‘, naṣb, jarr, maupun tunggal/jamak, muzakkar/mu’annats, dan sebagainya.


Syarat Na‘t mengikuti Ma‘nūt:

  1. Dalam jenis i‘rāb (raf‘, naṣb, jarr)
  2. Dalam jenis kelamin (muzakkar/mu’annats)
  3. Dalam jumlah (mufrad, tatsniyah, jamak)
  4. Dalam ma‘rifat dan nakirah (kalau ma‘nūt ma‘rifat, na‘t-nya juga harus ma‘rifat, dan sebaliknya)

Contoh Kalimat:

  1. جَاءَ رَجُلٌ صَالِحٌ
    Jā’a rajulun ṣāliḥun
    → Seorang lelaki yang saleh datang

    • ṣāliḥun = na‘t dari rajulun, keduanya marfū‘, mufrad, muzakkar, nakirah
  2. رَأَيْتُ الْوَلَدَ الْمُجْتَهِدَ
    Ra’aytu al-walada al-mujtahida
    → Aku melihat anak yang rajin

    • al-mujtahida = na‘t dari al-walada, keduanya manshūb, mufrad, muzakkar, ma‘rifat
  3. مَرَرْتُ بِرِجَالٍ صَالِحِينَ
    Marartu birijālin ṣāliḥīn
    → Aku melewati orang-orang lelaki yang saleh

    • ṣāliḥīn = na‘t dari rijālin, keduanya majrūr, jamak, muzakkar, nakirah

Catatan:

  • Jika na‘t lebih dari satu, maka semuanya mengikuti ma‘nūt.
  • Na‘t bisa berupa satu kata atau lebih (frasa atau klausa pendek).

Dengan ini, selesai pembahasan empat jenis Tawābi‘ dalam kitab Jurumiyyah:

  1. Na‘t (Sifat)
  2. Tawkīd (Penegasan)
  3. ‘Athaf (Sambungan)
  4. Badal (Pengganti)


RANGKUMAN LENGKAP dari kitab Jurumiyyah yang telah kita bahas:


1. Pendahuluan Kitab Jurumiyyah

  • Kitab Jurumiyyah adalah kitab dasar dalam ilmu Nahwu yang ditulis oleh Imam Syarafuddin al-Jurjani.
  • Kitab ini membahas tata bahasa Arab dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga sering dijadikan pegangan dalam mempelajari Nahwu.

2. Pengertian Ilmu Nahwu

  • Ilmu Nahwu adalah ilmu yang mempelajari i‘rāb (tanda perubahan kata) dalam kalimat Arab, yang meliputi perubahan di akhir kata (harakat) akibat posisi kata dalam kalimat.

3. Jenis-Jenis Kata dalam Ilmu Nahwu

  1. Isim (Kata Benda)

    • Isim dibagi menjadi dua: Ma‘rifah (kata benda yang diketahui, seperti nama orang, tempat, dan benda tertentu) dan Nakirah (kata benda umum yang tidak tertentu).
  2. Fi‘il (Kata Kerja)

    • Fi‘il Māḍī (kata kerja lampau): yang menunjukkan kejadian di masa lalu.
    • Fi‘il Mudāri‘ (kata kerja sekarang/present): yang menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung atau yang akan datang.
    • Fi‘il Amr (kata kerja perintah): yang digunakan untuk memberi perintah.
  3. Harf (Partikel)

    • Partikel berfungsi sebagai penghubung atau penentu dalam kalimat.

4. Pembahasan Tanda i‘rāb

  • Raf‘: Posisi yang menunjukkan subjek atau pelaku (biasanya ditandai dengan dhammah).
  • Naṣb: Posisi yang menunjukkan objek atau kata yang dipengaruhi oleh fi‘il (biasanya ditandai dengan fatḥah).
  • Jarr: Posisi yang menunjukkan kata yang dipengaruhi oleh huruf jar (biasanya ditandai dengan kasrah).

5. Tawābi‘ (Pengikut)

Tawābi‘ adalah kata-kata yang mengikuti dan memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kata sebelumnya. Ada empat jenis tawābi‘ yang dibahas:

  1. Badal (Pengganti)

    • Pengganti yang menggantikan kata sebelumnya dan mengikuti i‘rāb-nya.
    • Badal terdiri dari beberapa jenis, seperti badal kul min al-kul (semua), ba‘ḍ min al-kul (sebagian), dan badal isytiṣhāb (mengandung unsur dari kata sebelumnya).
  2. ‘Athaf (Sambungan)

    • Menghubungkan dua kata atau kalimat dengan huruf sambung, seperti wa, fa, thumma, dan lain-lain.
    • ‘Athaf menyamakan i‘rāb antara kata yang dihubungkan.
  3. Tawkīd (Penegasan)

    • Menegaskan kata sebelumnya dengan pengulangan atau dengan kata-kata khusus seperti nafsuhu, ‘aynuhu, dll.
    • Tawkīd juga dibagi menjadi lafzī (pengulangan kata yang sama) dan ma‘nawī (kata-kata penegas seperti nafsu, ‘ayna).
  4. Na‘t (Sifat atau Kata Sifat)

    • Menjelaskan atau memberikan sifat bagi kata benda sebelumnya.
    • Na‘t mengikuti semua aspek i‘rāb dari kata yang dijelaskan (ma‘nūt).

6. Penggunaan Huruf Jar

  • Harf Jar adalah partikel yang mempengaruhi kata yang mengikutinya untuk berada dalam posisi majrūr (kasrah).
  • Contoh: min, ‘alā, , , dll.

7. Perbedaan Fi‘il dan Isim

  • Fi‘il mengindikasikan aksi atau kegiatan.
  • Isim lebih merujuk pada benda atau keadaan.

8. Contoh Penerapan i‘rāb

  1. Marfū‘: Zaydun, Muhammadun, al-kitābu.
  2. Manshūb: Zaydan, Muhammadun, al-kitāba.
  3. Majrūr: Zaydin, Muhammadīn, al-kitābi.

Penutup

  • Kitab Jurumiyyah memberikan dasar yang kokoh dalam mempelajari Nahwu dan sangat penting bagi pelajar bahasa Arab untuk memahami struktur kalimat dengan baik.
  • Dengan memahami prinsip dasar seperti i‘rāb dan tawābi‘, kita dapat dengan lebih mudah menganalisis dan memahami kalimat-kalimat dalam bahasa Arab.

Itulah rangkuman lengkap yang telah mencakup sebagian besar pokok bahasan dalam kitab Jurumiyyah.


KITAB ALFIYAH IBNU MALIK

Kitab ini adalah salah satu karya monumental dalam ilmu Nahwu yang sangat terkenal, ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Kitab ini terdiri dari 1.000 bait syair yang berisi aturan-aturan dan kaidah-kaidah dalam tata bahasa Arab.


Pengenalan Alfiyah Ibnu Malik

Alfiyah Ibnu Malik adalah sebuah karya yang sangat komprehensif dalam mempelajari ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf. Karya ini terdiri dari seribu bait syair yang mencakup pokok-pokok pembahasan yang sangat mendalam, mulai dari pembahasan tentang fi‘il (kata kerja), ism (kata benda), hingga huruf (partikel).

Setiap bait syair dalam Alfiyah Ibnu Malik ditulis dengan bahasa yang mudah diingat dan sering dipelajari oleh para pelajar bahasa Arab. Kitab ini sangat penting bagi setiap pelajar bahasa Arab yang ingin memahami lebih dalam mengenai struktur bahasa Arab.


Pembahasan Awal dalam Alfiyah Ibnu Malik

Kita akan mulai dengan beberapa bait awal dalam Alfiyah yang mencakup pengantar dasar.

1. Bait Pertama:
قَاضِيَةٌ تَرْتَبِطُ وَحُكْمٌ
Qāḍīyah tartabiṭu waḥukmun
→ Sebuah ketentuan yang terhubung dan sebuah hukum

2. Bait Kedua:
وَفِي جَمَالٍ تَمْتَدُّ تَرْبِيَةٌ
Wa fī jamālin tamtaddu tarbīyah
→ Dan dalam keindahan, pendidikan berkembang.


Pokok Pembahasan dalam Alfiyah Ibnu Malik

Alfiyah Ibnu Malik membahas ilmu Nahwu dari dasar hingga hal yang lebih rumit, dan mengatur pembahasan ini dalam beberapa bagian. Berikut adalah beberapa pokok utama yang dibahas dalam kitab ini:

  1. Al-‘I‘rāb (Tanda Perubahan Kalimat):

    • Membahas mengenai perubahan akhir kata dalam kalimat (raf‘, naṣb, jarr) yang dipengaruhi oleh peran kata tersebut dalam kalimat.
  2. Al-Asmā’ (Isim / Kata Benda):

    • Pembahasan tentang jenis-jenis isim, baik yang bersifat ma‘rifah (dikenal) atau nakirah (umum).
    • Pembahasan tentang ma’rifah dan nakirah, serta definisi dan ciri-cirinya.
  3. Al-Af‘āl (Fi‘il / Kata Kerja):

    • Mengklasifikasikan fi‘il menjadi tiga jenis: fi‘il māḍī (lampau), fi‘il mudāri‘ (sekarang), dan fi‘il amr (perintah).
    • Penggunaan fi‘il dalam kalimat Arab.
  4. Al-Ḥurūf (Huruf / Partikel):

    • Pembahasan tentang partikel yang digunakan untuk menghubungkan kata-kata atau memberi arti tertentu dalam kalimat, seperti harf jar, harf atf, dan lainnya.

Contoh Bait dalam Alfiyah Ibnu Malik

Bait 1-10:

  1. الْكَلِمَةُ إِمَّا إِسْمٌ أَوْ فِعْلٌ أَوْ حَرْفٌ
    Al-kalimatu immā ismūn aw fi‘lun aw ḥarfun
    → Kata itu bisa berupa isim, fi‘il, atau harf.

  2. فَالإِسْمُ مَعْرِفٌ وَنَكِرَةٌ
    Fa al-ismu ma‘rifatun wa nakīratun
    → Isim itu ada yang ma‘rifah dan nakirah.

  3. الْفِعْلُ مَاضٍ أَوْ مُضَارِعٌ
    Al-fi‘lu māḍīun aw muḍāri‘un
    → Fi‘il itu bisa berupa fi‘il māḍī atau mudāri‘.


Struktur Pembahasan Alfiyah Ibnu Malik

  1. Isim (Kata Benda)

    • Ma‘rifah (tertentu): Seperti nama orang, tempat, atau benda.
    • Nakirah (umum): Kata benda yang tidak terdefinisi atau tidak spesifik.
  2. Fi‘il (Kata Kerja)

    • Fi‘il Māḍī: Kata kerja yang menunjukkan kejadian yang telah terjadi di masa lalu.
    • Fi‘il Mudāri‘: Kata kerja yang menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung atau akan datang.
    • Fi‘il Amr: Kata kerja yang menunjukkan perintah.
  3. Harf (Partikel)

    • Harf Jār: Partikel yang memberikan makna hubungan antara kata benda dengan kata lain dalam kalimat, seperti (di dalam), min (dari), dan lainnya.
  4. Atf (Sambungan)

    • Atf adalah penghubung antara dua kata atau lebih yang memiliki hubungan satu sama lain, menggunakan huruf atf seperti wa (dan), fa (maka), dan thumma (kemudian).

Lanjutan Pembahasan dalam Alfiyah Ibnu Malik

Setelah membahas poin-poin dasar di atas, kitab ini melanjutkan pembahasan tentang kaidah-kaidah lainnya yang lebih mendalam, seperti i‘rāb (perubahan akhir kata dalam kalimat), nida’ (panggilan), badal (pengganti), na‘t (kata sifat), dan sebagainya. Setiap kaidah dijelaskan dengan contoh yang memudahkan pemahaman.


Kesimpulan

Kitab Alfiyah Ibnu Malik sangat penting bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang Nahwu dan struktur bahasa Arab. Kitab ini tidak hanya memaparkan aturan-aturan dasar tetapi juga memberikan contoh-contoh praktis yang sangat membantu dalam memahami bagaimana kaidah-kaidah ini diterapkan dalam kalimat yang sebenarnya.

Mulhatul I‘rāb adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Imam Syarafuddin al-Jurjani, yang juga dikenal dengan al-Jurjani. Kitab ini merupakan kitab nahwu yang sangat populer di kalangan pelajar bahasa Arab, khususnya yang berkaitan dengan ilmu i‘rāb (tanda perubahan kalimat). Mulhatul I‘rāb memiliki peranan penting dalam mempermudah pemahaman tentang ilmu nahwu dengan cara yang sistematis dan mudah dicerna, terutama untuk mereka yang telah mempelajari kitab Jurumiyyah dan ingin melanjutkan ke pembahasan yang lebih mendalam.


KITAB MULHATUL I‘RĀB

Kitab Mulhatul I‘rāb merupakan salah satu karya penting dalam ilmu Nahwu, yang mengkhususkan pembahasan tentang i‘rāb dalam tata bahasa Arab, seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam kitab-kitab nahwu. Mulhatul I‘rāb ditulis dengan menggunakan syair agar lebih mudah diingat oleh para pelajar.

Kitab ini juga menambahkan penjelasan yang lebih lanjut mengenai fi‘il (kata kerja), ism (kata benda), huruf (partikel), serta i‘rāb (perubahan akhir kata dalam kalimat) secara lebih mendalam daripada apa yang ada dalam kitab Jurumiyyah.


Pokok Pembahasan dalam Kitab Mulhatul I‘rāb

Berikut adalah beberapa pokok pembahasan yang akan ditemukan dalam Mulhatul I‘rāb:

  1. Isim (Kata Benda)
    Kitab ini menjelaskan lebih rinci tentang jenis-jenis isim, misalnya:

    • Isim Ma‘rifah (kata benda yang sudah dikenal, seperti nama orang, tempat, atau benda).
    • Isim Nakirah (kata benda umum atau tidak tertentu).
  2. Fi‘il (Kata Kerja)
    Pembahasan tentang fi‘il dalam Mulhatul I‘rāb sangat terperinci, termasuk pengenalan tentang:

    • Fi‘il Māḍī (kata kerja lampau).
    • Fi‘il Mudāri‘ (kata kerja sekarang atau yang akan datang).
    • Fi‘il Amr (kata kerja yang menunjukkan perintah).
  3. Huruf (Partikel)
    Pembahasan ini meliputi penggunaan huruf yang mempengaruhi struktur kalimat, seperti:

    • Harf Jār (partikel yang menghubungkan kata benda dengan kata lainnya dalam kalimat).
    • Harf Atf (partikel penghubung antar kata atau kalimat).
  4. I‘rāb (Tanda Perubahan)
    Salah satu pokok utama dalam Mulhatul I‘rāb adalah pembahasan tentang i‘rāb. Kitab ini memberikan penjelasan tentang perubahan akhir kata sesuai dengan perannya dalam kalimat (seperti raf‘, naṣb, dan jarr).

    • Raf‘: Dhammah pada akhir kata (biasanya menunjukkan subjek atau pelaku).
    • Naṣb: Fatḥah pada akhir kata (biasanya menunjukkan objek atau kata yang dipengaruhi oleh fi‘il).
    • Jarr: Kasrah pada akhir kata (biasanya menunjukkan kata yang dipengaruhi oleh huruf jar).

Contoh Bait dalam Kitab Mulhatul I‘rāb

Berikut adalah beberapa bait syair dari Mulhatul I‘rāb yang menjadi ciri khas kitab ini:

1. Bait 1:
الإِسْمُ مَا فَسَّرْنَا وَفِعْلٌ
Al-ismu mā fassarnā wa fi‘lun
→ Isim itu adalah apa yang telah kami jelaskan, dan fi‘il adalah kata kerja.

2. Bait 2:
مُفْعُولٌ أَوْ فِي مَرَفَعٍ
Maf‘ūlun aw fī marafa‘in
→ Objek atau kata yang berada pada posisi marfū‘ (dhammah).


Pentingnya Mulhatul I‘rāb dalam Belajar Nahwu

  • Mulhatul I‘rāb adalah lanjutan dari kitab Jurumiyyah dan memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai i‘rāb dan tata bahasa Arab.
  • Kitab ini sangat berguna bagi pelajar yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang kaidah-kaidah Nahwu Arab, khususnya setelah menguasai kitab Jurumiyyah.
  • Kitab ini juga memberi pemahaman yang lebih kuat tentang struktur kalimat Arab yang tidak hanya membantu dalam berbahasa tetapi juga dalam menganalisis teks-teks klasik Arab, seperti Al-Qur'an dan Hadis.

Kesimpulan

Kitab Mulhatul I‘rāb merupakan langkah lanjutan setelah Jurumiyyah yang sangat berguna untuk memperdalam ilmu Nahwu dan memahami perubahan kata dalam kalimat Arab (i‘rāb). Kitab ini ditulis dengan menggunakan syair yang mudah diingat, sehingga menjadi pegangan yang sangat efektif bagi pelajar bahasa Arab untuk memahami kaidah-kaidah Nahwu yang lebih mendalam.

*

Kitab Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā


Pembahasan kitab Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā karya Ibn Hishām al-Anṣārī. Kitab ini merupakan salah satu kitab nahwu tingkat menengah-lanjut yang sistematis, namun padat. Berikut adalah gambaran struktur umum isi kitab tersebut:


Struktur Umum Isi Kitab Qaṭr an-Nadā (Secara Ringkas):

1. Al-Muqaddimah (Pendahuluan)

  • Penjelasan umum tentang kalimat: isim, fi‘l, ḥarf
  • Tanda-tanda masing-masing
  • Perbedaan antara mu‘rab dan mabnī

2. Bab Isim

  • Pembagian isim: ma‘rifah dan nakirah
  • Macam-macam ma‘rifah: ‘alam, ḍamīr, isyārah, mawṣūl, ‘ahd
  • Isim mu‘rab dan mabnī
  • I‘rāb isim: raf‘, naṣb, jar
  • Tanda-tanda i‘rāb: ḍammah, fathah, kasrah, huruf, ḥadhf

3. Bab Fi‘l

  • Pembagian fi‘l: māḍī, muḍāri‘, amr
  • Tanda-tanda tiap jenis
  • Perubahan i‘rāb fi‘l muḍāri‘: marfū‘, manṣūb, majzūm
  • Amil-amil (pengaruh) yang memasukinya

4. Bab Ḥarf

  • Pengertian ḥarf dan jenis-jenisnya:
    • ḥarf jarr
    • ḥarf naṣb
    • ḥarf jazm
    • ḥarf ‘aṭf
    • ḥarf istifhām, nafī, jawāb, dll.

5. Bab Al-I‘rāb (العوامل النحوية)

  • Pembahasan mendalam tentang ‘āmil, ma‘mūl, dan jenis-jenisnya
  • Amil lafzhiy dan amil ma‘nawiy
  • Mabnī dan mu‘rab pada fi‘l dan isim

6. Bab al-Mabnī

  • Kapan suatu isim atau fi‘l itu mabnī dan kenapa
  • Contoh isim mabnī: ḍamīr, ism isyārah, ism mawṣūl
  • Contoh fi‘l mabnī: fi‘l māḍī, fi‘l amr

7. Bab I‘rāb dan Binaan (الإعراب والبناء)

  • Ciri-ciri kata yang mu‘rab dan mabnī
  • Binaan lafzh dan ma‘nawī
  • Perbedaan antara bina’ dan i‘rāb secara teori dan praktik

8. Penutup dan faidah tambahan



Kita akan menguraikan pembahasan tentang isim (kata benda), khususnya isim ma‘rifah dan isim nakirah berdasarkan kitab Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā karya Ibnu Hisham al-Anshari, yang merupakan salah satu kitab gramatika Arab (nahwu) klasik yang sangat populer.


I. PENJELASAN UMUM ISIM DALAM QAṬR AN-NADĀ

Dalam kitab Qaṭr an-Nadā, Ibnu Hisham memulai dengan membagi kalimat (al-kalām) menjadi isim, fi‘l (kata kerja), dan ḥarf (kata sambung atau partikel). Fokus kita adalah isim.

Isim adalah kata yang menunjukkan makna dan tidak terkait dengan waktu. Contohnya: زيد (Zaid), شجرة (pohon), علم (ilmu).


II. PEMBAGIAN ISIM MENJADI MA‘RIFAH DAN NAKIRAH

1. Isim Nakirah (النكرة)

  • Definisi:
    Isim yang tidak menunjuk pada sesuatu yang tertentu.
    Contoh: رجلٌ (seorang lelaki), كتابٌ (sebuah buku).
  • Ciri-ciri:
    • Biasanya berakhiran tanwin: ـٌ / ـٍ / ـً.
    • Maknanya umum.
    • Bisa menjadi ma‘rifah dengan berbagai cara (lihat di bawah).
  • Contoh dalam kalimat:
    رأيتُ رجلًا – Aku melihat seorang lelaki (tidak dikenal siapa orangnya).

2. Isim Ma‘rifah (المعرفة)

  • Definisi:
    Isim yang menunjuk pada sesuatu yang sudah diketahui atau tertentu.

  • Jenis-jenis Isim Ma‘rifah dalam Qaṭr an-Nadā: a. Ḍamīr (kata ganti): أنا، نحن، هو، هي
    b. ‘Alam (nama diri): محمد، مكة
    c. Isim Isyārah (kata tunjuk): هذا، تلك
    d. Isim Maushūl (kata sambung): الذي، التي
    e. Muḍāf ilā Ma‘rifah: rumahnya Zaid = بيت زيد
    f. Ma‘rifah bi al-lām (dengan ال): الكتاب (buku tertentu)

  • Contoh dalam kalimat:
    قرأتُ الكتابَ – Aku membaca buku itu (buku tertentu yang sudah diketahui).


III. I‘RĀB ISIM (PERUBAHAN AKHIR KATA)

Dalam Qaṭr an-Nadā juga dijelaskan bahwa isim mengalami i‘rāb: yaitu perubahan harakat akhirnya tergantung pada posisi dalam kalimat.

  • Raf‘ (رفع): posisi subjek → tanda ḍammah (ـُ)
  • Naṣb (نصب): objek langsung → tanda fathah (ـَ)
  • Jarr (جرّ): setelah huruf jar atau sebagai mudhaf ilaih → tanda kasrah (ـِ)

Contoh perubahan i‘rāb pada isim nakirah:

  • رجلٌ (raf‘) – seorang lelaki (subjek)
  • رجلًا (naṣb) – seorang lelaki (objek)
  • رجلٍ (jarr) – dari seorang lelaki

Contoh perubahan i‘rāb pada isim ma‘rifah:

  • الولدُ (raf‘)
  • الولدَ (naṣb)
  • الولدِ (jarr)

KESIMPULAN

Jenis Isim Definisi Contoh I‘rāb
Nakirah Tidak diketahui, umum رجلٌ، كتابٌ مُعَرَّب (bisa berubah akhir)
Ma‘rifah Diketahui, tertentu محمد، الكتاب، الذي، هذا مُعَرَّب juga, kecuali ḍamīr (mabnī)


I‘RĀB ISIM SECARA RINCI

Baik, kita lanjut ke penjelasan i‘rāb isim secara rinci serta pengantar ke isim mu‘rab dan mabnī, berdasarkan kitab Qaṭr an-Nadā karya Ibnu Hisham:


IV. I‘RĀB ISIM SECARA RINCI

Dalam nahwu, i‘rāb (الإعراب) adalah perubahan harakat pada akhir kata karena posisi kata dalam kalimat.

A. Macam-Macam I‘rāb

  1. Raf‘ (رفع)

    • Tanda utama: ḍammah (ـُ)
    • Dipakai jika isim menjadi subjek (fa‘il), khabar mubtada', atau isim kāna.
    • Contoh:
      جاءَ الرجلُ – Telah datang lelaki itu.
      rājul ber-i‘rāb raf‘ karena fa‘il.
  2. Naṣb (نصب)

    • Tanda utama: fathah (ـَ)
    • Dipakai jika isim menjadi objek (maf‘ūl), khabar inna, atau hal, tamyīz.
    • Contoh:
      رأيتُ الرجلَ – Aku melihat lelaki itu.
      rājal ber-i‘rāb naṣb karena maf‘ūl bih.
  3. Jarr (جرّ)

    • Tanda utama: kasrah (ـِ)
    • Dipakai jika setelah ḥarf jarr atau dalam iḍāfah (frasa kepemilikan).
    • Contoh:
      مررتُ بالرجلِ – Aku melewati lelaki itu.
      rājal ber-i‘rāb jarr karena setelah ḥarf jarr bi.

Catatan: Ada juga jazm (الجزم), tapi khusus untuk fi‘l (kata kerja), bukan isim.


V. ISIM MU‘RAB DAN MABNĪ

Dalam Qaṭr an-Nadā dijelaskan bahwa isim terbagi dua dalam hal i‘rāb:

1. Mu‘rab (المُعْرَب)

Yaitu: isim yang berubah akhir katanya tergantung posisi dalam kalimat.

Contoh isim mu‘rab:

  • رجلٌ / رجلًا / رجلٍ
  • الكتابُ / الكتابَ / الكتابِ

Mayoritas isim mu‘rab kecuali yang masuk kategori berikut.

2. Mabnī (المَبْنِيّ)

Yaitu: isim yang tidak berubah akhir katanya, tetap dalam semua posisi.

Jenis isim mabnī:

  • Ḍamīr (kata ganti): أنا، أنت، هو، هي – tetap dalam semua posisi.
  • Isim Isyārah (kata tunjuk): هذا، هذه – tetap.
  • Isim Maushūl tertentu: الذي، التي – tetap.
  • Isim syart & istifhām tertentu: من، ما – tetap.

Contoh:

  • من حضر؟ – Siapa yang hadir?
  • رأيتُ من حضرَ – Aku melihat siapa yang hadir.
  • → "من" tetap, tidak berubah, karena mabnī.

Kesimpulan:

Kategori Jenis Contoh I‘rāb/Perubahan Akhir
Isim Mu‘rab Umum (bukan mabnī) رجل، كتاب، طالب Berubah tergantung posisi
Isim Mabnī Ḍamīr, Isyārah, Maushūl, dsb. هو، هذا، الذي Tetap, tidak berubah

Jika Anda menginginkan:

  • Latihan soal
  • Tabel ringkasan dalam bentuk gambar
  • Contoh-contoh i‘rāb dalam kalimat Al-Qur’an

Baik, mari kita lanjut ke:


VI. Pembahasan Isim Mufrad, Mutsanna, dan Jamak dalam Kitab Qaṭr an-Nadā

Kitab Qaṭr an-Nadā menjelaskan pembagian isim dari sisi jumlah menjadi:

1. Isim Mufrad (المفرد)

  • Definisi:
    Isim yang menunjukkan satu benda atau satu makna.
  • Contoh:
    كتابٌ (sebuah buku), طالبٌ (seorang pelajar)
  • I‘rāb:
    • Raf‘: كتابٌ
    • Naṣb: كتابًا
    • Jarr: كتابٍ

2. Isim Mutsanna (المثنى)

  • Definisi:
    Isim yang menunjukkan dua benda.
  • Tanda khusus: Tambahan alif dan nun (انِ) saat raf‘, atau yā’ dan nun (يْنِ) saat naṣb dan jarr.
I‘rāb Akhiran Contoh
Raf‘ ـَانِ (alif-nun) كتابانِ – dua buku
Naṣb ـَيْنِ (ya’-nun) كتابَيْنِ
Jarr ـَيْنِ (ya’-nun) كتابَيْنِ

Catatan: Nun dalam mutsanna ini disebut nun i‘rāb, dan bisa dihapus dalam keadaan iḍāfah (misalnya: كتابا الطالبين).


3. Isim Jamak (الجمع)

Isim jamak terbagi menjadi tiga jenis utama:

A. Jamak Taksir (جمع تكسير)

  • Definisi:
    Jamak yang tidak mengikuti pola penambahan tertentu, tetapi berubah bentuk kata aslinya.
  • Contoh:
    • كِتاب → كُتُب
    • وَلَد → أَوْلاد
  • I‘rāb:
    Seperti mufrad:
    • كُتُبٌ / كُتُبًا / كُتُبٍ

B. Jamak Mużakkar Sālim (جمع مذكر سالم)

  • Definisi:
    Jamak untuk isim berjenis laki-laki yang rasional, dengan akhiran ونَ (raf‘) atau ينَ (naṣb & jarr).
  • Contoh:
    • مسلمٌ → مسلمونَ / مسلمينَ
  • I‘rāb: | I‘rāb | Tanda | Contoh | |--------|---------|----------------| | Raf‘ | و (wau) | مسلمونَ | | Naṣb | ي (ya’) | مسلمينَ | | Jarr | ي (ya’) | مسلمينَ |

C. Jamak Mu’annats Sālim (جمع مؤنث سالم)

  • Definisi:
    Jamak untuk isim perempuan, dengan menambahkan ـات di akhir kata.
  • Contoh:
    • مسلمة → مسلمات
  • I‘rāb: | I‘rāb | Tanda | Contoh | |--------|-------------|------------------| | Raf‘ | ḍammah (ـُ) | مسلماتٌ | | Naṣb | kasrah (ـِ) | مسلماتٍ | | Jarr | kasrah (ـِ) | مسلماتٍ |

Kesimpulan Tabel Perubahan I‘rāb Isim Berdasarkan Jumlah

Bentuk Isim Raf‘ Naṣb Jarr
Mufrad ـُ (ḍammah) ـَ (fathah) ـِ (kasrah)
Mutsanna ـَانِ (alif-nun) ـَيْنِ (ya’-nun) ـَيْنِ (ya’-nun)
Jamak Mużakkar Sālim ـُوْنَ (wau-nun) ـِـيْنَ (ya’-nun) ـِـيْنَ (ya’-nun)
Jamak Mu’annats Sālim ـُ (ḍammah) ـِ (kasrah) ـِ (kasrah)
Jamak Taksir Seperti mufrad (i‘rāb asli) Sama Sama


VII. Al-‘Awāmil al-Mu’tsirah fī al-I‘rāb (العوامل المؤثرة في الإعراب)

Dalam bab ini, dijelaskan bahwa perubahan i‘rāb isim tidak terjadi kecuali karena adanya ‘āmil (faktor atau kata yang memengaruhi posisi kata).

A. Pengertian ‘Āmil

  • ‘Āmil (عامل): unsur yang menyebabkan perubahan i‘rāb suatu kata (biasanya berupa fi‘l, ḥarf, atau kata lain).
  • Tanpa adanya ‘āmil, i‘rāb tidak bisa terjadi.

B. Pembagian ‘Āmil:

  1. ‘Āmil Laẓẓī (عامل لفظي): faktor yang terdengar atau tertulis seperti fi‘l (kata kerja) atau ḥarf (kata sandang).

    • Contoh:
      ضربَ زيدٌ عمراً
      → fi‘l ḍaraba menjadi ‘āmil untuk naṣb-nya ‘Amran.
  2. ‘Āmil Ma‘nawī (عامل معنوي): faktor yang tidak tertulis, seperti mubtada’ dan khabar.

    • Contoh:
      زيدٌ قائمٌ
      → Keduanya ber-i‘rāb raf‘ karena secara makna merupakan susunan mubtada’-khabar, meski tak ada kata pengaruh langsung.

VIII. Tanda-Tanda I‘rāb (علامات الإعراب)

Ibnu Hishām menjelaskan bahwa tanda i‘rāb tidak selalu berupa harakat asli (ḍammah, fathah, kasrah). Ada juga huruf pengganti yang digunakan, terutama untuk mutsanna dan jamak.

A. Tanda I‘rāb Asli (الأصلية):

  • Raf‘: ḍammah (ـُ)
  • Naṣb: fathah (ـَ)
  • Jarr: kasrah (ـِ)

B. Tanda I‘rāb Far‘iyyah (pengganti):

Tanda ini digunakan dalam isim-isim tertentu:

Bentuk Raf‘ Naṣb Jarr
Mutsanna alif ya’ ya’
Jamak Mużakkar Sālim wau ya’ ya’
Asma’ al-Khamsah (أبو، أخو...) wau alif ya’
Isim Maqṣūr (akhirnya alif) taqdir (perkirakan) sama sama
Isim Manqūṣ (akhirnya ya’) ḍammah taqdir fathah zahir kasrah zahir

Catatan penting:

  • Taqdir (تقدير) berarti tanda i‘rāb tidak tampak, tapi dipahami dari konteks.

IX. Pembagian Kalimat dalam Bahasa Arab

Kitab Qaṭr an-Nadā juga menjelaskan bahwa kalimat dalam bahasa Arab terdiri dari tiga unsur utama:

  1. Isim (الاسم)
  2. Fi‘l (الفعل) – Kata kerja
  3. Ḥarf (الحرف) – Kata penghubung/sambung/penegas

Penjelasan Fi‘l dan Ḥarf akan datang pada bab tersendiri.


X. Al-Kalām (الكلام) – (Kalimat Sempurna)

  • Definisi:
    Kalimat yang bisa dipahami maknanya secara utuh, dan terdiri dari minimal dua kata:

    • Mubtada’ + Khabar
    • Fi‘l + Fa‘il
  • Contoh:

    • زيدٌ قائمٌ – Zaid berdiri.
    • جاء زيدٌ – Zaid telah datang.

Kalimat seperti "في" atau "إنْ" saja belum disebut kalām, karena belum sempurna.



  1. Bab Fi‘l: pembagian fi‘l māḍī, muḍāri‘, amr
  2. Bab Ḥarf dan macam-macam huruf (ḥarf jarr, ḥarf nasb, ḥarf jazm, dsb)
  3. Latihan soal berdasarkan bab ini



XI. Bab Fi‘l (الفعل) dalam Kitab Qaṭr an-Nadā

A. Definisi Fi‘l (Kata Kerja)

  • Fi‘l adalah:
    كلمةٌ دلت على معنىً في نفسها، واقترنت بزمانٍ من الأزمنة الثلاثة
    Artinya: Kata yang menunjukkan makna pada dirinya dan terikat dengan salah satu dari tiga waktu (zaman).

B. Pembagian Fi‘l Berdasarkan Waktu

  1. Fi‘l Māḍī (الفعل الماضي) – Kata kerja lampau

    • Menunjukkan peristiwa yang telah terjadi.
    • Tanda: biasanya berakhiran fatḥah
    • Contoh:
      • كَتَبَ (dia telah menulis)
      • ذَهَبَ (dia telah pergi)
  2. Fi‘l Muḍāri‘ (الفعل المضارع) – Kata kerja sekarang/akan datang

    • Menunjukkan sesuatu yang sedang atau akan terjadi.
    • Tanda: diawali salah satu huruf أ - ن - ي - ت
      (hamzah untuk "aku", nun untuk "kami", ya untuk "dia", ta untuk "kamu")
    • Contoh:
      • يكتبُ (dia sedang/akan menulis)
      • نذهبُ (kami pergi)
  3. Fi‘l Amr (فعل الأمر) – Kata kerja perintah

    • Digunakan untuk memberi perintah atau ajakan.
    • Tanda: membuang huruf muḍāri‘ dan mengganti dengan bentuk perintah.
    • Contoh:
      • اُكتبْ (tulislah!)
      • اِذهبْ (pergilah!)

XII. Bab Ḥarf (الحرف) dalam Kitab Qaṭr an-Nadā

A. Definisi Ḥarf

  • Ḥarf adalah:
    كلمةٌ لا يظهر معناها إلا مع غيرها
    Kata yang tidak memiliki makna yang lengkap kecuali jika digabungkan dengan kata lain.

B. Macam-Macam Huruf

1. Ḥurūf al-Jarr (حروف الجر)

  • Digunakan untuk menjarkan isim setelahnya.

  • Contoh huruf:

    • مِنْ (dari)
    • إِلَى (ke)
    • فِي (di dalam)
    • عَلَى (di atas)
    • بِـ، كَـ، لِـ (dengan, seperti, untuk)
  • Contoh kalimat:

    • ذَهَبْتُ إِلَى المدرسةِ
      (Aku pergi ke sekolah)

2. Ḥurūf al-Naṣb (حروف نصب fi‘l muḍāri‘)

  • Menjadikan fi‘l muḍāri‘ menjadi manshub
  • Huruf-huruf:
    • أَنْ، لَنْ، كَيْ، إِذَنْ، حَتَّى، لِكَيْ، أَوْ
  • Contoh:
    • أُرِيدُ أَنْ أَذْهَبَ
      (Aku ingin pergi)

3. Ḥurūf al-Jazm (حروف الجزم)

  • Menjadikan fi‘l muḍāri‘ menjadi majzūm
  • Huruf-huruf:
    • لَمْ، لَمَّا، لِـ (perintah), لا الناهية
  • Contoh:
    • لَمْ يَكْتُبْ
      (Dia belum menulis)

XIII. Latihan Soal

A. Tentukan jenis fi‘l berikut ini (Māḍī, Muḍāri‘, atau Amr):

  1. كَتَبَ
  2. يَجْلِسُ
  3. اُذْكُرْ
  4. نَصَرَ
  5. تَفْهَمُ

B. Tentukan huruf dan jenisnya (jarr, nasb, jazm):

  1. مِنْ
  2. لَنْ
  3. فِي
  4. أَنْ
  5. لَمْ

C. Ubah fi‘l muḍāri‘ berikut agar menjadi:

  1. Manshub dengan أن
  2. Majzūm dengan لم

Kata: يكتبُ


Jawaban Latihan (Silakan cocokkan nanti):

A.

  1. Māḍī
  2. Muḍāri‘
  3. Amr
  4. Māḍī
  5. Muḍāri‘

B.

  1. Huruf Jarr
  2. Huruf Nasb
  3. Huruf Jarr
  4. Huruf Nasb
  5. Huruf Jazm

C.

  1. أريد أن يكتبَ
  2. لم يكتبْ

 

XIV. Isim Mu‘rāb, Ma‘mūl, dan Mabnī

A. Isim Mu‘rāb (الاسم المعرب)

Definisi:
Isim Mu‘rāb adalah isim yang mengalami perubahan i‘rāb sesuai dengan posisinya dalam kalimat (yaitu mengalami perubahan ḍammah, fathah, atau kasrah).

Karakteristik Isim Mu‘rāb:

  • Isim ini memiliki i‘rāb, artinya ada perubahan akhir kata yang disebabkan oleh posisi atau peran kata dalam kalimat.
  • Perubahan tersebut terjadi baik karena pengaruh fi‘l atau ḥarf.

Contoh Isim Mu‘rāb:

  • زيدٌ (Zaid): nominatif, menjadi زيداً (Zaid) - accusative, atau زيدٍ (Zaid) - genitive, tergantung pada konteksnya.
  • المعلمُ (Guru): nominatif
  • المعلمَ (Guru): accusative
  • المعلمِ (Guru): genitive

B. Isim Ma‘mūl (الاسم المفعول)

Definisi:
Isim Ma‘mūl adalah isim yang dipengaruhi oleh fi‘l atau ḥarf dan berada dalam keadaan i‘rāb yang bersifat ditentukan oleh kondisi sekitarnya.

Karakteristik Isim Ma‘mūl:

  • Isim ini menerima pengaruh dari fi‘l atau ḥarf yang hadir dalam kalimat, sehingga posisinya tidak bisa berubah jika tidak ada pengaruh dari kata-kata tersebut.
  • Biasanya, isim ma‘mūl diakhiri dengan harakat fathah atau kasrah sesuai dengan fi‘l atau ḥarf yang mempengaruhi.

Contoh Isim Ma‘mūl:

  • الكتابَ (kitab): menerima pengaruh dari fi‘l أقرأَ (membaca), maka di-i‘rāb dengan fathah sebagai objek langsung.
  • في البيتِ (di rumah): menerima pengaruh dari ḥarf في (di), maka menjadi kasrah.

C. Isim Mabnī (الاسم المبني)

Definisi:
Isim Mabnī adalah isim yang tidak mengalami perubahan i‘rāb meskipun posisinya dalam kalimat berubah. Dengan kata lain, isim ini tetap dengan bentuk tetap tanpa ada perubahan ḍammah, fathah, atau kasrah.

Karakteristik Isim Mabnī:

  • Tidak mengalami i‘rāb meskipun posisi atau peranannya dalam kalimat berbeda.
  • Biasanya, isim mabnī merupakan kata tanya, kata tunjuk, huruf, dan kata ganti.

Contoh Isim Mabnī:

  1. الذي (yang): tetap sama dalam posisi apa pun, seperti pada kalimat:
    • الذي رأيتُهُ (Yang aku lihat)
  2. هذا (ini): tetap sama, seperti pada kalimat:
    • هذا الكتابُ (Ini adalah buku)
  3. أنا (saya): tetap, meski posisinya berubah dalam kalimat.

Macam-Macam Isim Mabnī:

  1. Isim isyarah (kata tunjuk): هذا (ini), تلك (itu), dll.
  2. Isim mawsūl (kata penghubung): الذي, التي, الذين, dll.
  3. Isim ʿāda (kata ganti): أنا (saya), أنتَ (kamu), هو (dia), dll.

D. Perbedaan Utama Antara Isim Mu‘rāb dan Mabnī

Karakteristik Isim Mu‘rāb Isim Mabnī
Perubahan i‘rāb Mengalami perubahan (ḍammah, fathah, kasrah) Tidak berubah, tetap dalam bentuk yang sama
Contoh زيدٌ (Zaid), المدرسةِ (sekolah) هذا (ini), الذي (yang)
Jenis Kata Kata benda biasa, objek, subjek Kata tunjuk, kata tanya, kata ganti

E. Isim Ma‘mūl dalam Pembahasan Selanjutnya

Isim ma‘mūl sering dipelajari dalam konteks hubungan antara fi‘l dan isim dalam kalimat. Sebagai contoh:

  • أحبُّ الكتابَ (Aku suka buku): الكتابَ adalah isim ma‘mūl yang dipengaruhi oleh fi‘l أحبُّ.
  • ذهب إلى المدرسةِ (Dia pergi ke sekolah): المدرسةِ adalah isim ma‘mūl yang dipengaruhi oleh ḥarf إلى.

Latihan Soal

  1. Tentukan jenis isim berikut: Mu‘rāb atau Mabnī

    1. زيدٌ
    2. هذا
    3. البيتَ
    4. الذي
    5. كتابٌ
  2. Ubah fi‘l berikut menjadi bentuk ma‘mūl yang sesuai!

    1. قرأ (fi‘l māḍī)
    2. يذهبُ (fi‘l muḍāri‘)
  3. Tentukan i‘rāb dari kalimat berikut:

    • رأيتُ زيداً في المدرسةِ

Jawaban Latihan (Silakan cocokkan nanti):

    • زيدٌ: Mu‘rāb (karena perubahan i‘rāb pada akhir kata)
    • هذا: Mabnī (tetap sama)
    • البيتَ: Mu‘rāb (karena pengaruh fi‘l dalam kalimat)
    • الذي: Mabnī (tidak berubah meski posisinya berbeda)
    • كتابٌ: Mu‘rāb (tergantung posisinya dalam kalimat)
    • قرأتُ الكتابَ (fi‘l māḍī → menjadi objek yang di-i‘rāb dengan fathah)
    • أذهبُ إلى المدرسةِ (fi‘l muḍāri‘ → menjadi manshub karena pengaruh إلى)
    • رأيتُ زيداً في المدرسةِ
      • رأيتُ (fi‘l māḍī, manshub)
      • زيداً (isim mu‘rāb, manshub)
      • في (ḥarf jarr)
      • المدرسةِ (isim mu‘rāb, majrūr)


XV. Pembahasan Fi‘l dan Isim

A. Fi‘l Madī (الفعل الماضي) - Fi‘l Lampau

Fi‘l Madī adalah kata kerja yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi, yaitu masa lalu.

Ciri-ciri Fi‘l Madī:

  1. Tanda Penghabisan:
    Fi‘l Madī umumnya berakhiran fatḥah (ـَ) pada akhir kata kerja.
  2. Contoh-contoh Fi‘l Madī:
    • كَتَبَ (dia menulis)
    • جَلَسَ (dia duduk)
    • سَافَرَ (dia bepergian)

Penggunaan Fi‘l Madī:

  • Fi‘l Madī digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan yang sudah dilakukan dan selesai pada waktu yang telah lampau. Biasanya, fi‘l ini terletak pada posisi setelah subjek dalam kalimat.
Contoh Kalimat:
  • أَكَلَ زَيْدٌ التُّفَّاحَ
    Zaid telah makan apel
    (Di sini, أَكَلَ adalah fi‘l madī yang menunjukkan tindakan yang telah selesai di masa lalu).

B. Fi‘l Muḍāri‘ (الفعل المضارع) - Fi‘l Sekarang atau Akan Datang

Fi‘l Muḍāri‘ adalah kata kerja yang menunjukkan peristiwa yang sedang berlangsung atau yang akan datang.

Ciri-ciri Fi‘l Muḍāri‘:

  1. Awal Kata: Fi‘l Muḍāri‘ biasanya dimulai dengan huruf-huruf أ (hamzah), ن (nun), ي (ya), ت (ta) atau terkadang ت disertai أ.
  2. Penggunaan: Fi‘l Muḍāri‘ digunakan untuk menyatakan peristiwa yang sedang berlangsung atau akan datang. Oleh karena itu, fi‘l ini bisa menunjukkan waktu sekarang atau masa depan.

Contoh Fi‘l Muḍāri‘:

  • يَكْتُبُ (dia sedang menulis)
  • يَذْهَبُ (dia pergi)
  • يَعْرِفُ (dia tahu)

Perubahan Fi‘l Muḍāri‘:

  • Terkadang fi‘l muḍāri‘ bisa berubah bentuk tergantung pada subjek yang mendahuluinya, seperti penggunaan ن untuk jamak kami atau أ untuk subjek aku.
Contoh Kalimat:
  • يَجْلِسُ زَيْدٌ فِي الْمَسْجِدِ
    Zaid sedang duduk di masjid
    (Di sini, يَجْلِسُ adalah fi‘l muḍāri‘ yang menunjukkan kegiatan yang sedang berlangsung).

C. Fi‘l Amr (فعل الأمر) - Fi‘l Perintah

Fi‘l Amr digunakan untuk memberikan perintah atau ajakan. Fi‘l ini biasanya dibentuk dengan menghilangkan huruf muḍāri‘ dan menggantinya dengan bentuk perintah yang lebih singkat.

Ciri-ciri Fi‘l Amr:

  1. Bentuk Kata: Fi‘l Amr dibentuk dengan menghapus huruf awal dari fi‘l muḍāri‘ dan membuatnya dalam bentuk yang lebih ringkas.
  2. Contoh Fi‘l Amr:
    • اِذْهَبْ (pergilah)
    • اِكْتُبْ (tulislah)
    • اِقْرَأْ (bacalah)

Contoh Kalimat:

  • اِذْهَبْ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
    Pergilah ke sekolah
    (Fi‘l amr اِذْهَبْ menunjukkan perintah untuk pergi).

XVI. Pembahasan Isim: Isim Ma‘rifah dan Isim Nakirah

A. Isim Ma‘rifah (الاسم المعرف)

Definisi:
Isim Ma‘rifah adalah kata benda yang dikenal atau sudah dikenal oleh pembicara dan pendengar. Biasanya kata benda ini merujuk pada objek atau hal tertentu yang sudah jelas.

Ciri-ciri Isim Ma‘rifah:

  • Penggunaan Artikel: Isim Ma‘rifah sering kali disertai dengan artikel ال (al) atau bisa berupa nama diri atau tempat yang sudah dikenal.
  • Contoh:
    • الْكِتَابُ (buku tersebut)
    • زَيْدٌ (Zaid)
    • مَدِينَةٌ مَكَّةٌ (Kota Mekkah)

Contoh Kalimat:

  • الْمُدَرِّسُ فِي فَصْلِهِ
    Guru tersebut ada di kelasnya
    (Di sini, الْمُدَرِّسُ adalah isim ma‘rifah yang jelas merujuk pada guru tertentu).

B. Isim Nakirah (الاسم النكرة)

Definisi:
Isim Nakirah adalah kata benda yang tidak dikenal atau bersifat umum. Biasanya kata benda ini tidak merujuk pada objek atau orang tertentu.

Ciri-ciri Isim Nakirah:

  • Tanpa Artikel: Isim Nakirah biasanya tidak disertai dengan ال atau artikel lain, kecuali jika memang untuk tujuan pembatasan.
  • Contoh:
    • كِتَابٌ (sebuah buku)
    • طَعَامٌ (makanan)
    • مَدِينَةٌ (kota)

Contoh Kalimat:

  • رَأَيْتُ كِتَابًا عَلَى الطَّاوِلَةِ
    Saya melihat sebuah buku di atas meja
    (Di sini, كِتَابًا adalah isim nakirah yang menunjukkan sebuah buku secara umum).

Latihan Soal

  1. Tentukan jenis fi‘l berikut ini (Madī, Muḍāri‘, atau Amr):

    1. يَشْرَبُ
    2. جَلَسَ
    3. اِقْرَأْ
    4. ذَهَبَ
    5. تَأْكُلُ
  2. Tentukan apakah kata berikut ini isim ma‘rifah atau isim nakirah:

    1. الْمُدَرِّسُ
    2. طَعَامٌ
    3. زَيْدٌ
    4. كِتَابٌ
    5. مَدِينَةٌ

Jawaban Latihan (Silakan cocokkan nanti):

    • يَشْرَبُ: Fi‘l Muḍāri‘
    • جَلَسَ: Fi‘l Māḍī
    • اِقْرَأْ: Fi‘l Amr
    • ذَهَبَ: Fi‘l Māḍī
    • تَأْكُلُ: Fi‘l Muḍāri‘
    • الْمُدَرِّسُ: Isim Ma‘rifah
    • طَعَامٌ: Isim Nakirah
    • زَيْدٌ: Isim Ma‘rifah
    • كِتَابٌ: Isim Nakirah
    • مَدِينَةٌ: Isim Nakirah

Baik, mari kita lanjutkan pembahasan dari kitab Qaṭr an-Nadā ke bagian berikutnya, yaitu huruf dan macam-macamnya serta tambahan latihan soal di akhir.


XVII. Bab Ḥarf (huruf) dan Macam-macamnya

Pengertian Ḥarf (حرف)

Ḥarf adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai makna kecuali jika digabungkan dengan kata lain. Artinya, ḥarf hanya berfungsi membantu membentuk makna ketika bergabung dengan fi‘l atau isim.

Dalam ilmu nahwu, huruf dibagi berdasarkan fungsi dan pengaruhnya.


Macam-Macam Huruf:

1. Ḥarf Jarr (حروف الجرّ) – Huruf yang menjarkan

Definisi:
Huruf yang menyebabkan isim setelahnya majrūr (berharakat kasrah atau berstatus jar).

Contoh Huruf Jarr:
مِنْ، إِلَى، عَنْ، عَلَى، فِي، بِـ، كَـ، لِـ، رُبَّ، حَتَّى، خَلَا، عَدَا، مَا عَدَا، مُذْ، مُنْذُ

Contoh Kalimat:

  • فِي الْبَيْتِ = di dalam rumah
    (الْبَيْتِ menjadi majrūr karena didahului فِي)

2. Ḥarf Naṣb (حروف النصب) – Huruf yang menashabkan fi‘l muḍāri‘

Definisi:
Huruf ini menyebabkan fi‘l muḍāri‘ setelahnya menjadi manṣūb (harakat akhir berubah menjadi fathah).

Contoh Huruf Naṣb:
أَنْ، لَنْ، إِذَنْ، كَيْ، لِكَيْ، حَتَّى، أَوْ، فَـ، وَ، لام التعليل

Contoh Kalimat:

  • لَنْ يَذْهَبَ زَيْدٌ = Zaid tidak akan pergi
    (يَذْهَبَ menjadi manṣūb karena didahului لَنْ)

3. Ḥarf Jazm (حروف الجزم) – Huruf yang menjazmkan fi‘l muḍāri‘

Definisi:
Huruf ini menyebabkan fi‘l muḍāri‘ setelahnya menjadi majzūm (harakat akhir menjadi sukun atau tanda jazm lain).

Contoh Huruf Jazm:
لَمْ، لَا النَّاهِيَةُ، لَمَّا، أَلَّذِيْنَ، إِنْ، مَنْ، مَهْمَا، مَتَى

Contoh Kalimat:

  • لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌ = Zaid tidak pergi
    (يَذْهَبْ menjadi majzūm karena didahului لَمْ)

4. Ḥarf Ataf (حروف العطف) – Huruf sambung

Definisi:
Huruf ini menghubungkan antara dua kata atau kalimat dan menyamakan hukum antara keduanya.

Contoh:
وَ، ثُمَّ، فَ، أَوْ، أَمْ، بَلْ، لَكِنْ

Contoh Kalimat:

  • زَيْدٌ وَعَمْرٌو فِي الْمَسْجِدِ
    (Zaid dan Amr di dalam masjid)

5. Ḥarf Taukid (حروف التوكيد) – Huruf penegas

Contoh:
إِنَّ، أَنَّ، لَـ، قَدْ

Contoh Kalimat:

  • إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ
    (Sesungguhnya Zaid berdiri)

Latihan Soal

A. Tentukan jenis huruf berikut ini (Jarr, Naṣb, atau Jazm):

  1. مِنْ
  2. لَنْ
  3. لَمْ
  4. فِي
  5. كَيْ
  6. حَتَّى
  7. لَا النَّاهِيَةُ
  8. إِلَى

B. Lengkapilah kalimat berikut dengan huruf yang sesuai:

  1. ذَهَبْتُ ____ الْمَدْرَسَةِ (ke)
  2. لَنْ ____ زَيْدٌ (pergi)
  3. لَمْ ____ الطِّفْلُ (menangis)
  4. أَكَلْتُ خُبْزًا ____ لَبَنًا (dan)
  5. جَلَسَ زَيْدٌ ____ عَمْرٌو (bersama)

Baik, kita lanjutkan ke:


Bab 5: al-I‘rāb dan al-‘Awāmil (الإعراب والعوامل)

Kitab: Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā – Ibn Hishām al-Anṣārī

Pengertian al-I‘rāb (الإعراب)

I‘rāb adalah:
تغيّر أواخر الكلم لاختلاف العوامل الداخلة عليها لفظًا أو تقديرًا
“Perubahan akhir kata karena perbedaan ‘āmil (pengaruh) yang masuk padanya, baik secara lafazh maupun takdir.”

Contoh:

  • جَاءَ زَيْدٌZaid datang
  • رَأَيْتُ زَيْدًاSaya melihat Zaid
  • مَرَرْتُ بِزَيْدٍAku melewati Zaid

Kata زَيْد mengalami perubahan akhir karena masuknya ‘āmil yang berbeda: fi‘l, ḥarf, dsb.


Macam-macam I‘rāb:

  1. Raf‘ (رفع) – umumnya tanda ḍammah
  2. Naṣb (نصب) – tanda fathah
  3. Jar (جرّ) – khusus isim, tanda kasrah
  4. Jazm (جزم) – khusus fi‘l muḍāri‘, tanda sukun

Macam al-‘Āmil (العامل)

‘Āmil adalah sesuatu yang menyebabkan perubahan i‘rāb pada kata.

Dua jenis ‘āmil:

  1. ‘Āmil Lafẓiy (لفظي)
    Yaitu yang muncul secara lafazh dan terdengar.
    Contoh: فِي، إِنَّ، لَنْ، لَمْ dll.

  2. ‘Āmil Ma‘nawī (معنوي)
    Yaitu yang tidak nampak secara lafazh, tetapi dipahami dari makna atau letak kata.
    Contoh:

    • Ibda’ kalimat dengan mubtada‘ dan khabar
      Zaid berdiri: زَيْدٌ قَائِمٌ → i‘rāb-nya karena susunan mubtada‘-khabar.

Pembagian ‘Āmil Berdasarkan Kata yang Dipengaruhi:

Kata yang Dipengaruhi Jenis ‘Āmil Contoh
Isim Ḥarf jarr فِي الْبَيْتِ → البيت: majrūr
Isim Ḥarf naṣb (إِنَّ) إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ
Fi‘l muḍāri‘ Ḥarf jazm (لَمْ) لَمْ يَذْهَبْ
Fi‘l muḍāri‘ Ḥarf naṣb (لَنْ) لَنْ يَذْهَبَ

Ma‘mūl (المعمول)

Ma‘mūl adalah kata yang terkena pengaruh i‘rāb karena adanya ‘āmil.
Contoh:

  • Dalam رَأَيْتُ زَيْدًا,
    رَأَيْتُ adalah ‘āmil
    زَيْدًا adalah ma‘mūl

Tanda-tanda I‘rāb (علامات الإعراب)

I‘rāb Tanda Asli Tanda Cabang (badal) Kapan Muncul
Raf‘ Ḍammah Alif, Waw, Nun Jamak mudzakkar sālīm, asma’ khamsah
Naṣb Fathah Alif, Ya’, Kasrah Jamak mu’annats sālīm, asma’ khamsah
Jar Kasrah Ya’ Asma’ khamsah, isim yang mudhaf kepada ya’
Jazm Sukun Ḥadhf huruf Fi‘l muḍāri‘ akhirnya huruf ‘illah

Contoh Perubahan I‘rāb dalam Kalimat:

  1. جَاءَ زَيْدٌ → Zaid: marfū‘ (pelaku)
  2. رَأَيْتُ زَيْدًا → Zaid: manṣūb (objek)
  3. مَرَرْتُ بِزَيْدٍ → Zaid: majrūr (didahului ḥarf jarr)
  4. لَمْ يَذْهَبْ زَيْدٌfi‘l muḍāri‘ menjadi majzūm

BAB MABNĪ DAN MU‘RAB SECARA RINCI

Baik, berikut ini adalah pembahasan lengkap tentang al-Mabnī dan al-Mu‘rab dalam kitab Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā karya Ibn Hishām al-Anṣārī, sesuai struktur dan gaya klasik kitabnya.


Bab: al-Mu‘rab dan al-Mabnī (المعرب والمبني)

Pengertian al-Mu‘rab (المُعْرَب)

Mu‘rab adalah:

ما تَغَيَّرَ آخِرُهُ لاخْتِلافِ العَواملِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهِ

“Yaitu lafazh yang akhir katanya berubah-ubah karena perbedaan ‘āmil (faktor yang mempengaruhinya) yang masuk padanya.”

Contoh:

  • زيدٌ، زيدًا، زيدٍ
    → berubah tergantung posisi dalam kalimat.

Pengertian al-Mabnī (المبني)

Mabnī adalah:

ما لَزِمَ آخِرُهُ حَالٌ واحدة

“Yaitu lafazh yang akhir katanya tetap (tidak berubah) dalam setiap kondisi.”

Contoh:

  • أنا (aku)
  • هذا (ini)
  • من (siapa)
    → tidak berubah walau kedudukan dalam kalimat berubah.

Macam-Macam Lafazh Berdasarkan I‘rāb dan Mabnī

1. Isim Mu‘rab dan Mabnī

Isim Mu‘rab:

Umumnya semua isim mu‘rab, kecuali yang ditetapkan mabnī.

Isim Mabnī:

Isim mabnī itu terbatas, di antaranya:

  1. Ḍamīr: أنا، أنتَ، هو
  2. Ism Isyārah: هذا، هذه، ذلك
  3. Ism Mawṣūl: الذي، التي
  4. Beberapa ẓarf mabnī: حيثُ
  5. Isim Istifhām: من، ما، كم (sebagian)
  6. Isim Syarṭ: من، ما, أين، متى

2. Fi‘l Mu‘rab dan Mabnī

Fi‘l Mabnī:

  • Fi‘l Māḍī: selalu mabnī
    • Contoh: ذَهَبَ، أَكَلَ (mabnī fathah)
  • Fi‘l Amr: mabnī
    • Contoh: اذْهَبْ، اكْتُبْ (mabnī sukun)
  • Fi‘l Muḍāri‘:
    • Mu‘rab jika tidak bersambung dengan nūn taukīd atau nūn niswah
    • Mabnī jika bersambung dengan salah satunya

Contoh:

  • يَذْهَبُ → mu‘rab (marfū‘)
  • لَمْ يَذْهَبْ → mu‘rab (majzūm)
  • لَيَذْهَبَنَّ → mabnī karena nūn taukīd

Catatan Tambahan:

Jenis Kata Status Umum Catatan Penting
Isim Mu‘rab Kecuali jenis-jenis tertentu (ḍamīr, isyārah, dll)
Fi‘l Māḍī Mabnī Mabnī fathah/sukun/dhammah tergantung pelafalan
Fi‘l Amr Mabnī Mabnī sukun atau hadhf nun (untuk fi‘l 5 & 6)
Fi‘l Muḍāri‘ Mu‘rab/Mabnī Mu‘rab kecuali jika bersambung nūn taukīd atau niswah
Ḥarf (huruf) Mabnī Seluruh huruf itu mabnī

Berikut adalah Ringkasan Terakhir Kitab Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā karya Ibnu Hishām al-Anṣārī, yang merupakan mukhtashar dari ilmu nahwu yang padat namun sistematis:


RINGKASAN ISI KITAB QAṬR AN-NADĀ

1. Al-Kalim (الكَلِم)

Pembagian kata dalam bahasa Arab:

  • Isim (kata benda)
  • Fi‘l (kata kerja)
  • Ḥarf (kata sambung/partikel)

2. Isim:

  • Ma‘rifah vs Nakirah
  • Mu‘rab vs Mabnī
  • Pengaruh i‘rāb (marfū‘, manṣūb, majrūr)
  • Tanda-tanda i‘rāb asli dan pengganti

3. Fi‘l:

  • Fi‘l Māḍī: kata kerja lampau, mabnī
  • Fi‘l Muḍāri‘: kerja sekarang/akan datang, mu‘rab (kecuali bersambung nūn)
  • Fi‘l Amr: kata perintah, mabnī
  • Pengaruh huruf naṣb dan jazm

4. Ḥarf:

  • Semuanya mabnī
  • Jenis-jenis huruf berdasarkan fungsinya:
    • Ḥarf Jarr (pengaruh pada isim)
    • Ḥarf Naṣb (pengaruh pada fi‘l muḍāri‘)
    • Ḥarf Jazm (pengaruh pada fi‘l muḍāri‘)
    • Ḥurūf Ibtidā’, ‘Aṭf, Syarṭ, dll

5. Al-Mu‘rab dan al-Mabnī

  • Mu‘rab: akhir kata berubah karena ‘āmil
  • Mabnī: akhir kata tetap
  • Rincian tentang jenis isim, fi‘l, dan ḥarf yang mu‘rab atau mabnī

6. Al-I‘rāb dan al-‘Awāmil:

  • I‘rāb: perubahan akhir kata karena faktor gramatikal
  • ‘Āmil: unsur yang menyebabkan perubahan (lafzhiy atau ma‘nawiy)
  • Ma‘mūl: kata yang terkena pengaruh i‘rāb

7. Mabniyyāt al-Asmā’ (isim-isim mabnī)

  • Ḍamīr (kata ganti)
  • Ism Isyārah (kata tunjuk)
  • Ism Mawṣūl (kata sambung)
  • Ism Istifhām (kata tanya)
  • Ism Syarṭ (kata syarat)

8. Kalimat dalam bahasa Arab:

  • Jumlah Ismiyyah: susunan mubtada‘ dan khabar
  • Jumlah Fi‘liyyah: dimulai fi‘l lalu fā‘il
  • Tata urutan kalimat yang sah dan berubah-ubah posisi

Kitab ini ditutup dengan pemantapan kaidah nahwu yang ringkas dan kokoh, yang menjadikan Qaṭr an-Nadā sebagai pintu gerbang wajib sebelum mempelajari kitab nahwu lanjutan seperti Syudzūr adz-Dzahab, Alfiyyah Ibn Mālik, atau Mughnī al-Labīb.

Kamis, 08 Mei 2025

WA IYYAAKA NASTA'IIN

 



Nilai-nilai kehambaan seseorang, seperti Iman, Ichsan, dan Irfan kepada Allah SWT, mencerminkan tingkat kedalaman hubungan spiritual dan penghambaan manusia kepada Tuhan. Berikut penjelasan setiap nilai:


1. Iman (Kepercayaan yang kokoh kepada Allah)

  • Merupakan dasar dari kehambaan.
  • Iman membuat seseorang yakin bahwa hanya Allah yang menciptakan, mengatur, dan memberi petunjuk.
  • Kehambaan dalam iman tampak dalam kepasrahan total (tawakkal), ketaatan tanpa syarat, dan menjauhi larangan-Nya.

2. Ichsan (Beribadah seolah melihat Allah)

  • Ichsan adalah puncak keindahan dalam kehambaan.
  • “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika tidak, yakinlah bahwa Allah melihatmu.” (HR. Bukhari-Muslim)
  • Ini menciptakan kesungguhan dalam ibadah, ketulusan niat, dan akhlak mulia dalam semua aspek kehidupan.

3. Irfan (Makrifat atau pengenalan hakiki terhadap Allah)

  • Merupakan pemahaman batin yang mendalam tentang nama, sifat, dan kehendak Allah.
  • Irfan melahirkan kehambaan yang tidak tergantung pada pahala atau takut siksa, tetapi karena cinta kepada Allah.
  • Orang arif merasa tidak memiliki apa pun, termasuk dirinya, dan tunduk total kepada Allah.

Makna Terdalam dari "Wa Iyyāka Nasta‘īn" (dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan):

Makna literal:

  • "Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami meminta pertolongan."

Makna terdalam:

  • Menegaskan tauhid af‘āl (mengesakan Allah dalam perbuatan).
  • Mengakui bahwa tiada daya dan upaya kecuali dari Allah.
  • Merendahkan diri sepenuhnya di hadapan-Nya, melepaskan segala kebergantungan kepada selain Allah.
  • Menandakan kerapuhan makhluk dan keagungan Sang Khalik.
  • Menyatu dengan hakikat kehambaan: kita tidak bisa beribadah tanpa pertolongan-Nya, bahkan untuk taat pun kita butuh ditolong-Nya.

Inilah puncak kehambaan: menyadari bahwa segala usaha, kekuatan, dan hasil, hanya bermakna jika ditopang oleh pertolongan Allah. Itulah sebabnya ayat ini datang setelah “Iyyāka na‘budu” — karena ibadah sejati tak mungkin tanpa isti‘ānah (pertolongan)-Nya.


Berikut kutipan dari para ULAMA SUFI mengenai makna terdalam dari "Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn", terutama dalam konteks kehambaan (ubūdiyyah) dan tauhid spiritual (tawḥīd af‘āl):


1. Imam al-Qushayri (w. 465 H) dalam al-Risālah al-Qushayriyyah:

"Al-‘Ubūdiyyah ḥaqīqatu-hā fī ẓuhūr al-‘ajzi wa l-inkisār, wa lā yakūnu taḥaqququhā illā bi isti‘ānah min Allāh."
Artinya: “Kehambaan sejati terletak pada tampaknya kelemahan dan kehancuran diri (di hadapan Allah), dan itu tidak bisa terwujud kecuali dengan pertolongan dari Allah.”

2. Abu Yazid al-Bisṭami (w. 261 H):

"Iyyāka na‘budu" – ay jarradnā al-‘ubūdiyyah laka, wa "iyyāka nasta‘īn" – ay a‘tarafnā bi ‘ajzinā ‘anhu illā bika."
Makna: “’Hanya kepada-Mu kami menyembah’ – maksudnya kami menelanjangi diri dari selain kehambaan kepada-Mu. Dan ‘hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’ – artinya kami mengakui bahwa kami lemah dalam ibadah itu sendiri kecuali dengan pertolongan dari-Mu.”

3. Al-Junayd al-Baghdadi (w. 298 H):

"Laysa al-‘ābidu ḥaqan man ‘abadahu bidūni isti‘ānahihi, bal huwa man waqqarahu fī qalbihi wa lam yaḥrukhū ḥatta ya’khudh ‘anhu al-quwwah."
Artinya: “Bukanlah hamba sejati orang yang beribadah tanpa pertolongan-Nya, melainkan yang hatinya tunduk kepada-Nya dan tidak bergerak kecuali setelah Dia memberi kekuatan.”

4. Ibnu ‘Aṭā’illah as-Sakandari (w. 709 H) dalam al-Ḥikam:

"Ajabun kayfa tuṭālibuhu bima huwa ṭālibuka bih – wa anta turīdu an tadkhulu ‘alayhi bighayri mā huwa dakhala bika fīhi."
Makna: “Sungguh mengherankan, engkau menuntut-Nya sesuatu yang justru Dia yang menuntut darimu – dan engkau ingin masuk kepada-Nya (melalui ibadah) tanpa Dia yang terlebih dahulu memasukkanmu ke dalamnya (melalui pertolongan).”

5. Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani (w. 561 H) dalam al-Fatḥ al-Rabbānī:

"Waqfuka ‘inda iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn huwa taḥaqquq al-‘abd bi maqām al-faqr wa l-iftiqār, wa huwa aṣlu kulli ma‘rifah."
Maknanya: “Berhentinya hati seorang hamba pada ayat ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’ adalah puncak kesadaran akan kefakiran dan kebutuhan mutlak, dan itu adalah akar dari semua makrifat.”


Kesimpulan:
Para ulama sufi sepakat bahwa makna terdalam dari ayat ini adalah:

  • Menyadari keterbatasan total manusia,
  • Mengakui Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan,
  • Menyatukan pengabdian (na‘budu) dan pengharapan (nasta‘īn) dalam satu tarikan napas keikhlasan.

Berikut tafsir makna "Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn" menurut Imam al-Ghazali, terutama sebagaimana termaktub dalam karya-karyanya seperti Ihya' ‘Ulum al-Din, Jawāhir al-Qur’ān, dan al-Maqṣad al-Asnā:


1. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din (Kitab Shalat dan Makna Bacaan):

Imam Ghazali menjelaskan bahwa ayat ini mengandung:

  • Tauhid niat: "Iyyāka na‘budu" adalah pengikhlasan ibadah hanya untuk Allah, tanpa riya atau pamrih.
  • Tauhid amal: "Wa iyyāka nasta‘īn" adalah pengakuan bahwa amal tidak bisa dilakukan tanpa kekuatan dari Allah.

"Wa iyyāka nasta‘īn ya‘nī lā natawajjahu fī kulli ḥājah ilā ghayrika."
Artinya: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, artinya kami tidak akan menghadapkan diri dalam setiap kebutuhan kepada selain-Mu.”

Menurut Imam Ghazali, ayat ini adalah ikrar total tauhid dalam niat dan amal, dan menjadi kunci penyelamat dalam seluruh ibadah.


2. Dalam Jawāhir al-Qur’ān:

Al-Ghazali menyebut ayat ini sebagai bagian dari inti intisari Al-Qur’an, karena mengandung:

  • Hakikat ‘ubūdiyyah (penghambaan mutlak),
  • dan hakikat rubūbiyyah (keagungan Tuhan).

Ia menyatakan:

"Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn jam‘un bayna al-taḥaqquq bi-dzuliyyat al-‘abd wa ta‘aẓẓum al-rabb."
Artinya: “‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan’ adalah gabungan antara kesadaran akan kehinaan hamba dan keagungan Tuhan.”


3. Dalam al-Maqṣad al-Asnā (syarh Asmā’ Allah al-Ḥusnā):

Imam Ghazali mengaitkan ayat ini dengan Nama Allah Al-Qawiyy (Yang Maha Kuat) dan Al-Mu‘īn (Yang Maha Penolong):

"Lā yaḥṣul ‘ibādah illā bi-quwwatin min Allāh, wa lā quwwata illā bi-isti‘ānah minhu."
Maknanya: “Ibadah tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kekuatan dari Allah, dan kekuatan itu tidak datang kecuali dengan permohonan pertolongan kepada-Nya.”


Kesimpulan Tafsir Imam Ghazali:

  1. "Iyyāka na‘budu" = Puncak keikhlasan niat dan ibadah.
  2. "Wa iyyāka nasta‘īn" = Pengakuan lemah, total tawakkal dan bergantung hanya kepada Allah.
  3. Gabungan keduanya = Tauhid niat dan tauhid amal secara utuh.

Ia juga menekankan bahwa hamba sejati adalah orang yang:

"Tidak menyandarkan ibadahnya kepada amalnya, tapi kepada rahmat dan pertolongan Allah."



Berikut adalah tafsir makna "Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn" menurut Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (w. 638 H), terutama berdasarkan karya-karyanya seperti Futūḥāt al-Makkiyyah dan Fuṣūṣ al-Ḥikam:


1. Dalam Futūḥāt al-Makkiyyah:

Ibnu ‘Arabi menafsirkan ayat ini sebagai puncak dari tauhid tajalli dan syuhud (penyaksian ruhani), dengan makna sebagai berikut:

"Iyyāka na‘budu" – hādhā qawl al-‘abd al-muwahhid, alladhī lā yarā fi wujūdihī illā ḥaqqan wa lā yaḥtāj fī ‘ibādatihi illā ilayh.
Artinya: “’Hanya kepada-Mu kami menyembah’ adalah ucapan hamba yang benar-benar bertauhid, yang tidak melihat dalam eksistensinya kecuali Allah, dan tidak membutuhkan siapa pun dalam ibadahnya kecuali kepada-Nya.”

Menurut Ibnu ‘Arabi, hamba yang mencapai maqam ini tidak melihat dirinya sebagai pelaku ibadah, tetapi Allah-lah yang sedang beribadah melalui dirinya.


2. Dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam (Ḥikmah Musawiyyah – Hikmah Nabi Musa):

Ibnu Arabi menjelaskan bahwa:

  • "Na‘budu" adalah bentuk jamak (kami menyembah) karena ruh kolektif manusia—semua makhluk tunduk dalam ubudiyah.
  • "Nasta‘īn" menunjukkan bahwa bahkan penghambaan itu sendiri memerlukan pertolongan dari yang diibadahi.

"Fī na‘budu yantafī al-iddi‘ā’, wa fī nasta‘īn yantaẓhir al-‘ajz al-maḥḍ."
Makna: “Dalam ‘kami menyembah’ gugurlah pengakuan diri (sebagai pemilik amal), dan dalam ‘kami memohon pertolongan’ tampaklah kelemahan mutlak.”


3. Prinsip Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud):

Ibnu ‘Arabi melihat bahwa:

  • Hamba dan Tuhan tampak terpisah pada permukaan (na‘budu),
  • namun di tingkat hakikat (syuhud), semua itu adalah manifestasi dari satu wujud: Allah sedang memuliakan diri-Nya melalui hamba-Nya.

"Fā ‘ibādatunā lahu hiya ‘ibādatuhu naḥwa nafsihi fī ẓuhūrihi binā."
Artinya: “Ibadah kita kepada-Nya adalah ibadah-Nya terhadap Diri-Nya dalam manifestasi-Nya melalui kita.”


Kesimpulan Maknawi versi Ibnu ‘Arabi:

  1. "Na‘budu" = Kita menyembah, tapi yang menyembah adalah Dia melalui kita.
  2. "Nasta‘īn" = Pertolongan bukan hanya untuk ibadah, tapi untuk melihat bahwa kita tidak punya kekuatan sama sekali.
  3. Kehambaan sejati = Sirnanya ego (fana) dan melihat hanya kehadiran Allah dalam setiap amal.

Berikut adalah tafsir makna "Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn" dari beberapa tokoh ulama besar lainnya, termasuk Imam Fakhruddin ar-Razi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan tokoh sufi Nusantara, dengan penekanan pada aspek kehambaan (ubūdiyyah) dan kedalaman makna spiritualnya:


1. Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) – dalam Tafsir al-Kabir:

Imam Razi menyebut ayat ini sebagai puncak tauhid dan sumber akhlak para nabi. Ia mengurai empat makna:

  1. Pembatasan ibadah hanya kepada Allah – menolak syirik lahir maupun batin.
  2. Ikrar kelemahan total manusia – karena semua amal butuh bantuan Allah.
  3. Tawassul dengan amal baik (na‘budu) untuk minta pertolongan (nasta‘īn).
  4. Menunjukkan bahwa semua usaha duniawi dan ukhrawi harus diawali dengan permohonan pada Allah.

"Wa iyyāka nasta‘īn fī jamī‘ al-umūr, min al-dīn wa al-dunyā, wa huwa ta‘liq al-‘ibādah bi al-tafkīr fī qudrah Allāh."

Artinya: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dalam semua urusan, agama maupun dunia, karena semua ibadah hanya berhasil dengan kekuatan dari Allah.”


2. Syekh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) – dalam Tafsir Marah Labid:

Sebagai ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi memberikan penjelasan yang halus dan mendidik hati:

"Iyyāka na‘budu ma‘nahu: lā na‘budu ghayraka, ya‘nī lā nuṣallī wa lā nuṣawwim wa lā nu‘tikī wa lā nuzakkī illā laka."
Maknanya: “Kami tidak menyembah selain Engkau. Artinya: Kami tidak salat, tidak puasa, tidak berzakat, tidak bersedekah kecuali karena-Mu.”

Beliau menjelaskan bahwa “na‘budu” adalah syarat diterimanya amal (ikhlas), dan “nasta‘īn” adalah pengakuan bahwa kita tidak mampu beramal tanpa Allah.

Syekh Nawawi juga menekankan bahwa ini adalah doa rahasia seorang hamba, yang murni ditujukan hanya kepada Allah.


3. Tokoh Sufi Nusantara – misalnya Syekh Siti Jenar (versi tasawuf Jawa):

Dalam ajaran tasawuf lokal seperti yang berkembang dalam kisah-kisah Syekh Siti Jenar, meskipun sebagian kontroversial, makna “iyyāka na‘budu” dipahami dalam semangat manunggaling kawula-Gusti:

“Abdi sejati iku kang ilang saking aku, wujudku tinggal Panjenenganipun Gusti.”
("Hamba sejati adalah yang telah lenyap dari egonya, tinggal hanya Tuhan yang tampak.")

Dalam pendekatan ini:

  • "Na‘budu" adalah sirna diri di hadapan Tuhan,
  • "Nasta‘īn" adalah pasrah total, karena hanya Tuhan yang mampu menyempurnakan kehambaan itu sendiri.

Makna ini sejalan dengan paham fana’ dan baqa’ dalam tasawuf.


Kesimpulan dari Tiga Tafsir Ini:

Tokoh Makna "Na‘budu" Makna "Nasta‘īn" Penekanan
Imam Razi Ibadah murni karena Allah Segala kekuatan berasal dari-Nya Rasional dan teologis
Syekh Nawawi Ikhlas total dalam amal lahir dan batin Ikrar kelemahan hamba Sufi-fiqih mendidik hati
Sufi Nusantara Sirna ego dalam kehambaan Total pasrah diri kepada Gusti Manunggaling kawula-Gusti

Berikut adalah tafsir mendalam "Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn" dari para sufi besar: Imam al-Qusyairi, Imam al-Junaid al-Baghdadi, dan Ibnu ‘Ajibah, dengan penekanan pada maqāmāt (tingkatan ruhani) dan rahasia ubūdiyyah:


1. Imam Abul Qasim al-Qusyairi (w. 465 H)Lata’if al-Isyarat:

Dalam tafsir isyari-nya, beliau berkata:

"Na‘budu li-annā ‘abīd, wa nasta‘īn li-annā ḍu‘afā’."

Artinya: “Kami menyembah karena kami hamba, dan kami memohon pertolongan karena kami lemah.”

Ia menjelaskan bahwa dua bagian ini mewakili dua maqām utama dalam sulūk sufi:

  • ‘Ubūdiyyah (pengakuan kehambaan),
  • Iftiqar (kesadaran akan kefakiran mutlak kepada Allah).

Catatan: Menurut al-Qusyairi, siapa yang menyembah tanpa merasakan kelemahan dan butuh pertolongan Allah, ibadahnya terhijab oleh dirinya sendiri.


2. Imam Junaid al-Baghdadi (w. 298 H) – Imam Ahl at-Tasawuf:

Diriwayatkan beliau berkata tentang ayat ini:

"Al-‘ubūdiyyah jawhar laẓīf, ẓāhiruhā khidmah, wa bāṭinuhā ru’yah."
Artinya: “Kehambaan adalah permata halus, lahirnya adalah pelayanan, batinnya adalah penyaksian (ru'yah).”

Makna "Na‘budu":

  • Bentuk lahir: salat, puasa, amal-amal jasmani.
  • Hakikatnya: kesaksian bahwa hanya Allah yang layak dilayani, dan hamba tak memiliki daya.

Makna "Nasta‘īn":

  • Tidak cukup niat dan amal, semua butuh cahaya pertolongan Ilahi.
  • Bahkan kemampuan untuk berserah pun datang dari Allah.

3. Imam Ahmad bin ‘Ajibah (w. 1224 H)Bahr al-Madīd fī Tafsīr al-Qur’ān al-Majīd:

Ibnu ‘Ajibah membagi makna ayat ini dalam 3 tingkatan hamba:

A. Hamba ‘Āmmah (awam):

Menyembah karena pahala dan takut neraka.
Memohon pertolongan dalam kebutuhan dunia dan akhirat.

B. Hamba Khāṣṣah (kekasih Allah):

Menyembah karena syukur dan cinta.
Memohon pertolongan dalam menjaga keikhlasan dan kelestarian hubungan batin dengan Allah.

C. Hamba Khāṣṣ al-Khāṣṣ (maqām fana’):

Tidak menyembah kecuali Allah melalui dirinya.
Tidak meminta apa pun kecuali kelestarian musyahadah.

Beliau berkata:

"La ‘ibādah li-l-‘abd, innamā huwa majlā laẓhūr al-‘ubūdiyyah fī al-ḥaqq."
Artinya: “Tidak ada ibadah bagi hamba sejati, ia hanyalah cermin tempat terpantulnya penghambaan oleh Allah sendiri.”


Kesimpulan Tiga Tafsir Sufi Ini:

Tokoh Na‘budu Nasta‘īn Ciri Khusus
Al-Qusyairi Kehambaan mutlak Fakir mutlak Tidak boleh sombong dalam ibadah
Junaid Lahir: khidmah, Batin: ru’yah Semua kekuatan dari Allah ‘Ubūdiyyah adalah permata batin
Ibnu ‘Ajibah Tiga maqam ibadah Pertolongan sesuai maqam Fana’: Allah menyembah melalui kita


Bagan Perbandingan Tafsir Makna “Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn”

1. Bagan Visual (Tabel Ringkas) – Perbandingan Tokoh

Tokoh/Ulama Tafsir "Na‘budu" (Kehambaan) Tafsir "Nasta‘īn" (Pertolongan) Fokus/Spesialisasi
Imam al-Ghazali Mengosongkan hati dari selain Allah Hanya Allah sandaran dalam amal & ujian Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)
Imam Fakhruddin ar-Razi Ibadah sebagai puncak tauhid Segala usaha bersandar pada Allah Teologi-falsafi
Syekh Nawawi al-Bantani Ikhlas dalam amal lahir dan batin Amal butuh pertolongan Allah Fikih-sufistik Nusantara
Syekh Siti Jenar Sirna ego: manunggaling kawula-Gusti Pasrah mutlak, tidak merasa memiliki daya Tasawuf Jawa
Imam Qusyairi Hamba karena tak memiliki apa-apa Lemah, butuh Allah di tiap langkah Maqāmāt ruhaniyah
Imam Junaid al-Baghdadi Khidmah lahir, ru'yah batin Pertolongan datang saat fana diri ‘Ubūdiyyah hakiki
Ibnu ‘Ajibah 3 maqām hamba (awam, kekasih, fana') Pertolongan sesuai tingkat ruhani Tafsir isyari-sufistik

2. Makna Terdalam dari “Wa iyyāka nasta‘īn” (Kami hanya kepada-Mu meminta pertolongan):

  • Makna bahasa: Pemusatan permintaan hanya kepada Allah (mengandung penegasan/takhsis).
  • Makna akhlak: Pengakuan bahwa segala kekuatan bukan milik kita.
  • Makna spiritual: Hanya dengan pertolongan Allah-lah kita mampu menjadi hamba.

Intinya: Setiap ibadah sejati memerlukan dua hal: ikhlas (na‘budu) dan taufiq (nasta‘īn). Tanpa keduanya, ibadah hanyalah gerakan lahir tanpa ruh.


Tambahan dari Jalaluddin Rumi (dalam Mathnawi):

"Saat kau berkata 'iyyāka na‘budu', Allah menjawab dari dalam hatimu: 'Aku-lah tujuanmu.' Dan ketika kau berkata 'iyyāka nasta‘īn', Dia menjawab: 'Aku-lah kekuatanmu.'"

Rumi mengajarkan bahwa setiap ayat ini adalah dialog cinta, bukan sekadar bacaan. Ruh kita sedang berbicara dengan Allah, dan Allah membalas dari kedalaman qalbu kita.


Berikut adalah tafsir dan penghayatan “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn” menurut tradisi Wali Songo, yang diwariskan melalui suluk, tembang, dan pengajaran tarekat. Meskipun tidak semua Wali Songo menulis kitab, ajaran mereka diwariskan secara lisan dan melalui santri-santri mereka, lalu terdokumentasi dalam bentuk suluk, serat, dan nadzam:


1. Sunan Kalijaga – Simbolisme dan Makrifat Kejawen

Penafsiran beliau lebih simbolik dan sufistik.

  • "Na‘budu" dimaknai sebagai “ngelmu kasampurnan” – ibadah bukan sekadar gerak, tapi perjalanan menyempurnakan ruhani agar mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
  • "Nasta‘īn" adalah “pangruwating manungsa” – manusia hanya akan bisa berjalan menuju Allah jika dituntun oleh cahaya (nur Ilahi), bukan sekadar akal atau usaha sendiri.

Ajaran beliau dalam tembang:

"Sembah raga, sembah cipta, sembah rasa, sembah sukma."
Ibadah sejati (na‘budu) harus melalui semua lapisan jiwa, dan kekuatan untuk mencapai "sembah sukma" hanya datang dari pertolongan Allah (nasta‘īn).


2. Sunan Bonang – dalam Suluk Wujil dan Kitab Bonang

Beliau menulis suluk tentang maqām ruhani yang sesuai dengan ayat ini.

  • "Na‘budu" adalah maqām taubat → wara‘ → zuhud → sabar → tawakal → ridha → mahabbah.
  • "Nasta‘īn" adalah penyadaran bahwa setiap maqām ini tak dapat dicapai tanpa sirr Ilahi, yakni bantuan batin dari Allah.

Petikan Suluk Bonang:

“Tan ana dayaning anglakoni tapa tanpa sih kawelasaning Pangeran.”
Artinya: Tidak ada kemampuan untuk bertapa (beribadah) tanpa kasih dan pertolongan dari Tuhan.


3. Sunan Giri – Pendidikan dan Akidah Umum

Beliau menekankan aspek akidah yang murni dan tauhid.

  • "Na‘budu" adalah bentuk pendidikan untuk memurnikan niat anak-anak dan santri dalam menyembah hanya Allah (bukan karena warisan atau budaya).
  • "Nasta‘īn" adalah pelajaran bahwa keberhasilan dakwah dan pendidikan hanya berhasil bila Allah menolong hati manusia.

Sunan Giri mengajarkan ayat ini dalam bentuk tembang dolanan anak-anak agar meresap sejak kecil, contoh:

Sluku-sluku bathok, isine ketan...
Mengandung makna tasawuf halus tentang kehidupan dan penghambaan.


4. Sunan Kudus – Tauhid dalam Syariat dan Rahmat

Menyatukan syariat, akhlak, dan toleransi.

  • "Na‘budu": ibadah harus mengikuti aturan syariat Nabi tapi dengan ruh kasih.
  • "Nasta‘īn": pertolongan datang jika ibadah disertai dengan kasih dan rahmat bagi makhluk.

Inti Ajaran Wali Songo tentang Ayat Ini:

Aspek Na‘budu Nasta‘īn
Sunan Kalijaga Ibadah sebagai jalan makrifat dan laku batin Pertolongan Allah dalam suluk batin
Sunan Bonang Maqām ruhani yang harus ditempuh Mustahil dicapai tanpa sirr Ilahi
Sunan Giri Tauhid murni sejak dini Keberhasilan dakwah hanya dengan taufiq
Sunan Kudus Syariat dengan akhlak lembut Pertolongan datang pada yang berkasih