Sabtu, 15 November 2025

DEBAT WAHHABI VS ASWAJA

 

DEBAT WAHHABI VS ASWAJA

Orang orang yang datang ke kuburan itu tidak lain hanya penyembah kuburan. Buktinya mereka meminta kepada selain Allah. Mereka menghormati dan bahkan mendewa dewakan para kyai dan syekh mereka dan meminta kepadanya.

Dalam perdebatan ilmiah, tuduhan bahwa orang-orang yang berziarah kubur adalah "penyembah kuburan" karena "meminta kepada selain Allah" adalah inti dari perselisihan akidah ini.

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap argumen Wahabi/Salafi tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda mendasarkan tuduhan "penyembahan kubur" pada tindakan lahiriah meminta atau menghormati, namun mengabaikan niat dan kaidah syariat yang lebih luas. Ada beberapa sanggahan ilmiah dari perspektif Aswaja:

1. Perbedaan Niat: Ibadah vs. Tawassul (Perantara)

Kami membedakan secara tegas antara menyembah makhluk (syirik) dan menjadikan makhluk saleh sebagai perantara (tawassul) menuju Allah (diperbolehkan).

Menyembah (Syirik): Adalah keyakinan bahwa makhluk tersebut memiliki kekuatan mandiri untuk memberi manfaat atau mudarat, dan ditujukan kepadanya ibadah (ruku', sujud, kurban, nazar mutlak) secara mandiri. Ini dilarang dan syirik akbar.

Tawassul (Perantara): Mayoritas ulama Aswaja berpendapat bahwa peziarah yang meminta di kuburan wali atau syekh niatnya adalah memohon kepada Allah SWT, dengan menjadikan kedudukan atau kemuliaan wali tersebut sebagai perantara agar doa mereka lebih mudah dikabulkan. Keyakinan mereka tetap bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, bukan mayit tersebut secara mandiri. Ini adalah wasilah yang dibolehkan, bukan penyembahan.

2. Dalil Tawassul dalam Hadis

Tuduhan bahwa meminta perantara di kubur adalah syirik bertentangan dengan dalil-dalil sahih yang menunjukkan kebolehan tawassul:

Hadis Orang Buta: Nabi ﷺ pernah mengajarkan seorang sahabat buta untuk berdoa dengan bertawasul kepada Nabi ﷺ sendiri. Doanya berbunyi, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, dan aku menghadap kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat..." Hadis riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, dinyatakan sahih. Ini membuktikan tawassul dibolehkan dalam syariat.

Tawassul kepada Orang Shalih: Para sahabat juga bertawasul kepada orang-orang saleh yang masih hidup, seperti bertawasul kepada Abbas (paman Nabi) saat kemarau, yang menunjukkan pengakuan terhadap keberkahan orang saleh sebagai perantara doa.

3. Penghormatan vs. Mendewakan

Menghormati ulama, syekh, atau kyai—baik hidup maupun yang telah wafat—adalah bagian dari adab Islam (ta'dzim), bukan "mendewakan" dalam arti menyembah. Nabi ﷺ bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami." Penghormatan tidak sama dengan ibadah.

4. Penilaian Berdasarkan Lahiriah, Bukan Niat Gaib

Kami tidak memiliki kemampuan mengetahui isi hati (ghaib). Menuduh semua peziarah berniat menyembah mayit adalah klaim yang melampaui batas syariat. Hukum fikih menetapkan status seseorang berdasarkan tindakan lahiriah dan syahadatnya, bukan dugaan niat tersembunyi.

Oleh karena itu, dari perspektif Aswaja, praktik tawassul di kuburan adalah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang sah dan berada dalam ranah fikih, bukan perkara akidah yang menyebabkan kekafiran atau kemusyrikan.

*

Berarti kamu tidak mempercayai Alquran yang mengadakan bahwa Wa Iyyaaka Nastain. Mengapa harus pakai perantara perantara. Kenapa nggak langsung aja kepada Allah? Karena orang yang kamu jadikan perantara itu belum tentu juga seorang yang shalih menurut Allah ?

Anda mengangkat ayat yang sangat agung dalam Surah Al-Fatihah (1:5): "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan" (Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in). 

Dari perspektif Aswaja, argumen Anda bahwa ayat ini menafikan (meniadakan) segala bentuk perantara dan mengharuskan permintaan langsung kepada Allah adalah pemahaman yang tidak komprehensif terhadap dalil-dalil syariat secara keseluruhan.

Berikut adalah hujjah Aswaja dalam menanggapi poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

1. Membedakan Pertolongan Hakiki dan Majazi (Kiasan)

Ayat "Iyyaka nasta'in" bermakna bahwa pertolongan hakiki (sejati) datangnya mutlak dari Allah. Tiada satu pun makhluk yang dapat memberi pertolongan secara mandiri tanpa izin dan kuasa Allah.

Pertolongan Hakiki: Kita hanya meminta kepada Allah.

Pertolongan Majazi (Sebab-Akibat): Allah sendiri mengajarkan kita untuk menggunakan sebab dan perantara dalam hidup. Apakah Anda tidak mempercayai Al-Qur'an yang memerintahkan kita makan untuk kenyang, bekerja untuk mendapat rezeki, atau berobat untuk sembuh? Itu semua adalah perantara (wasilah). Meminta bantuan dokter atau atasan bukanlah syirik, karena kita tahu Allahlah yang menyembuhkan atau memberi rezeki melalui perantara tersebut. 

Tawassul adalah bentuk perantara dalam berdoa, bukan berarti meminta pertolongan hakiki kepada selain Allah. 

2. Ayat Al-Qur'an Memerintahkan Mencari Wasilah

Justru Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan kita untuk mencari wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya..." (QS. Al-Maidah: 35) 

Ayat ini adalah dalil umum yang membolehkan mencari perantara, baik melalui amal saleh kita, doa orang hidup, atau kemuliaan para Nabi dan Wali yang telah meninggal.

3. Status Kesalehan Wali Tidak Menjadi Masalah

Anda bertanya apakah orang yang dijadikan perantara itu sudah tentu saleh. Dalam pandangan Aswaja:

Yang dijadikan perantara adalah kemuliaannya di sisi Allah, bukan karena kita yakin 100% dia masuk surga. Kita berprasangka baik (husnuzhon) bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang saleh tersebut.

Allah-lah yang menilai kesalehan, tetapi kita menggunakan indikasi lahiriah dan kemasyhuran mereka sebagai hamba pilihan untuk bertawasul.

Kesimpulan Aswaja:

Menggunakan perantara saleh dalam doa adalah bagian dari adab berdoa dan mencari jalan yang paling mungkin dikabulkan, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Maidah: 35. Ia tidak bertentangan dengan Iyyaka nasta'in, karena keyakinan mutlak tetap hanya kepada Allah SWT.

*

Tidak boleh meminta kepada orang-orang yang telah mati, walaupun itu cuman sebagai perantara. Kan masih banyak orang-orang yang hidup dan bisa mengajari atau mendoakan secara langsung. Sebab orang-orang yang mati itu tidak pernah bisa mendengar apalagi untuk bisa menjadi perantara untuk orang yang masih hidup.

Dalam perdebatan ilmiah ini, argumen Anda sebagai perwakilan Wahabi/Salafi menyentuh dua poin krusial: (1) Larangan meminta kepada orang mati, dan (2) Klaim bahwa orang mati tidak bisa mendengar.

Berikut adalah tanggapan dari perspektif Aswaja terhadap kedua argumen tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda bahwa orang mati tidak mendengar dan oleh karena itu tidak bisa menjadi perantara adalah pemahaman yang bertentangan dengan dalil-dalil sahih yang dipegang oleh mayoritas ulama Aswaja.

1. Dalil Bahwa Orang Mati Bisa Mendengar (Sama')

Keyakinan Aswaja, berdasarkan banyak hadis sahih, adalah bahwa orang mati bisa mendengar dalam kadar tertentu yang dikehendaki Allah. Pendengaran mereka berbeda dengan pendengaran orang hidup di alam dunia, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali.

Peristiwa Qalib Badar: Setelah Perang Badar, Nabi ﷺ berdiri di tepi sumur (Qalib) yang berisi mayat-mayat kafir Quraisy, lalu memanggil mereka satu per satu dengan nama mereka: "Wahai Fulan bin Fulan... Apakah kalian telah dapati kebenaran dari apa yang dijanjikan Tuhan kalian?"

Dialog Nabi dan Sahabat: Umar bin Khattab bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa?" Nabi ﷺ menjawab:

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar apa yang aku katakan daripada mereka (mayat-mayat itu), hanya saja mereka tidak bisa menjawab." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis Salam Kubur: Nabi ﷺ mengajarkan kita ketika ziarah kubur untuk mengucapkan salam: "Assalamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'minina wal muslimin..." Mengucapkan salam kepada yang tidak mendengar adalah perbuatan sia-sia, sehingga secara logis mereka pasti mendengar salam kita.

Dalil-dalil ini membuktikan bahwa klaim mutlak bahwa orang mati tidak bisa mendengar adalah tidak benar. Mereka mendengar, dan karenanya tawassul dengan perantara mereka adalah sah menurut syariat.

2. Meminta kepada Orang Mati vs. Meminta Wasilah

Kami tegaskan kembali, tidak ada yang meminta pertolongan hakiki kepada orang mati. Peziarah Aswaja meyakini bahwa wali tersebut, yang kini berada di alam Barzakh dan mendengar, dapat memohonkan doa kepada Allah untuk orang yang bertawasul. Ini adalah adab mencari perantara dengan hamba yang dicintai Allah.

3. Keberadaan Orang Hidup Tidak Menafikan Orang Mati

Fakta bahwa masih banyak orang hidup yang saleh tidak menafikan kebolehan bertawasul kepada orang yang sudah meninggal. Nabi ﷺ tidak melarang salah satunya. Pilihan metode mana yang lebih utama adalah masalah khilafiyah fikih, bukan masalah akidah syirik.

Menggunakan perantara adalah sunnah Nabi, dan tidak ada dalil sharih (tegas) yang melarang bertawasul kepada orang mati yang saleh.

*

Bukankah kita hanya diperintah untuk mendoakan orang yang telah mati, bukannya untuk menjadikan mereka sebagai wasilah. Kita kan bisa berdoa sendiri kepada Allah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah ? Ngapain kita minta kepada orang yang sudah meninggal dunia ?

Dalam perdebatan ilmiah ini, argumen Anda sebagai wakil Wahabi/Salafi menekankan bahwa tugas kita terhadap orang mati hanyalah mendoakan mereka, dan kita seharusnya berdoa secara mandiri menggunakan tuntunan Nabi, bukan melalui perantara mayit.

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda berangkat dari asumsi bahwa doa kita sendiri sudah pasti lebih utama atau lebih makbul daripada doa yang disertai perantara, dan bahwa satu metode menafikan metode lain. Ini adalah penyempitan terhadap keluasan syariat Islam.

1. Mendoakan Mayit dan Menjadikan Wasilah adalah Dua Hal Berbeda yang Tidak Saling Menafikan

Benar, kita diperintah mendoakan mayit (misalnya melalui salat jenazah atau ziarah). Itu adalah hak mayit.

Namun, menjadikan mereka sebagai wasilah adalah hak kita untuk mencari jalan terbaik agar doa kita sendiri diterima Allah. Dua tindakan ini tidak bertentangan. Kita bisa melakukan keduanya: mendoakan mayit, dan pada saat yang sama, memohon kepada Allah melalui kemuliaan mayit tersebut.

2. Adab Mencari Jalan Terbaik (Wasilah) dalam Berdoa

Mengapa kita harus pakai perantara? Jawabannya ada pada adab berdoa. Meskipun kita bisa langsung berdoa kepada Allah (karena Allah Maha Dekat), mencari wasilah adalah bentuk pengakuan kita akan kehinaan diri di hadapan Allah, dan harapan kita agar doa diterima karena campur tangan hamba yang lebih saleh.

Analogi Logis: Anda bisa saja langsung menghadap raja, tetapi jika Anda membawa serta orang kepercayaan raja, kemungkinan permintaan Anda didengar akan lebih besar. Ini adalah adab dan cara mencari jalan yang paling efektif, bukan karena raja tidak mendengar.

Doa Nabi Ayyub: Nabi Ayyub AS berdoa langsung kepada Allah, tetapi Allah memberinya solusi fisik berupa menghentakkan kaki ke tanah untuk mengeluarkan air (wasilah air tersebut). Allah Maha Kuasa menyembuhkan tanpa air, tapi Dia mengajarkan kita menggunakan perantara.

3. Dalil Praktik Sahabat Setelah Wafat Nabi

Jika klaim Anda benar bahwa setelah Nabi wafat wasilah terputus, mengapa para sahabat melakukan tawassul kepada Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi) saat musim kemarau? Mereka bisa saja berdoa sendiri atau hanya mendoakan Nabi di kuburnya, tetapi mereka memilih bertawasul kepada Abbas yang hidup.

Tindakan ini menunjukkan bahwa konsep wasilah sangat fleksibel dan diakui dalam syariat, dan tidak ada larangan sharih yang membatasi wasilah hanya pada orang hidup saja.

Kesimpulan Aswaja:

Berdoa langsung adalah sah. Menggunakan wasilah juga sah dan dianjurkan dalam QS. Al-Maidah: 35. Tidak ada wasilah yang dilarang kecuali jika ada dalil tegas melarangnya. Tidak ada dalil tegas yang melarang tawassul dengan orang saleh yang telah wafat. Justru hadis Qalib Badar menunjukkan mereka mendengar.

*

Orang-orang yang telah mati mereka itu telah putus amal mereka, bagian mereka mereka akan mendoakan di mana artinya adalah beramal untuk diri yang masih hidup ?  Memangnya ada dalil bahwa orang yang sudah meninggal bisa mendoakan orang yang masih hidup ?

Dalam perdebatan ilmiah ini, argumen Anda sebagai wakil Wahabi/Salafi didasarkan pada hadis yang menyatakan putusnya amal orang mati, dan Anda menuntut dalil spesifik yang menyatakan orang mati bisa mendoakan orang hidup.

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda tentang terputusnya amal didasarkan pada pemahaman parsial dari hadis yang terkenal. Mari kita tinjau hadis tersebut secara lengkap dan hubungannya dengan dalil lain.

1. Pemahaman Komprehensif Hadis "Terputusnya Amal"

Hadis yang Anda maksud adalah:

"Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Tafsir Aswaja: Hadis ini bermakna bahwa ikhtiyar (usaha mandiri) manusia dalam beramal (kasb) di dunia telah berakhir. Dia tidak bisa lagi menambah pahala dengan berpuasa atau bersalat sendiri. Namun, hadis ini tidak menafikan adanya transfer pahala dari orang lain (seperti yang disebutkan dalam tiga pengecualian di atas) dan tidak menafikan kemampuan ruh untuk berinteraksi di alam barzakh.

2. Dalil Bahwa Orang Mati Bisa Mendoakan (Meski Tidak Ada Dalil Sharih Larangan)

Anda menuntut dalil sharih (tegas) bahwa orang mati mendoakan orang hidup. Memang tidak ada dalil sharih yang eksplisit menyatakan "Orang mati mendoakan orang hidup".

Logika Aswaja: Namun, tidak adanya dalil larangan yang sharih dalam masalah ini (yang bukan ibadah murni mahdhah) mengembalikannya pada hukum asal mubah (boleh) atau setidaknya khilafiyah (perbedaan pendapat).

Kehidupan Alam Barzakh: Aswaja meyakini bahwa para syuhada dan orang saleh itu hidup di sisi Allah dengan kehidupan yang lebih sempurna daripada di dunia. Al-Qur'an berfirman:

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki." (QS. Ali Imran: 169)

Interaksi Ruh: Jika mereka hidup dan bisa mendengar salam kita (seperti dalil Hadis Qalib Badar sebelumnya), secara logis dan qiyas (analogi), ruh yang mulia tersebut sangat mungkin memohonkan ampunan atau kebaikan bagi peziarah yang datang kepadanya, biidznillah (dengan izin Allah). Ini adalah masalah gaib yang tidak bisa kita nafikan hanya dengan ketiadaan dalil larangan yang tegas.

Kesimpulan Aswaja:

Berpegang pada ketiadaan dalil mendoakan orang hidup untuk menafikan kemampuan ruh adalah penyempitan. Keyakinan Aswaja didasari oleh keluasan makna hadis dan ayat Al-Qur'an tentang kehidupan barzakh, yang mengindikasikan adanya interaksi ruhaniyah. Ini tetap dalam ranah khilafiyah yang sah, bukan syirik.

*

Orang-orang yang sudah meninggal dunia itu, mereka hanya mendapatkan apa-apa yang telah mereka usahakan di dunia. Dan menurut nabi bahwa Allah mereka yang masih sambung dengan mereka adalah anak yang sholeh amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Emangnya kita bisa mendoakan Mereka agar mereka selamat lalu kalian mau tahlilan satu hari sampai 7 hari kemudian 40 hari 100 hari dan 1000 hari dan seterusnya. Emangnya itu ada manfaatnya buat mereka yang sudah mati ?

Dalam perdebatan ilmiah ini, Anda sebagai wakil Wahabi/Salafi kembali menekankan prinsip balasan amal yang setimpal dan hadis tentang tiga amalan yang berlanjut. Anda secara spesifik menolak praktik tahlilan yang terikat waktu (1, 3, 7, 40, 100, 1000 hari) karena dianggap tidak ada manfaatnya bagi mayit dan tidak ada contoh dari Nabi ﷺ.

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda menolak tahlilan bertarget waktu menunjukkan perbedaan metodologi fikih yang mendasar, bukan berarti praktik tersebut tidak bermanfaat atau bertentangan dengan hadis yang Anda sebutkan.

1. Tahlilan Memiliki Manfaat Berdasarkan Qiyas (Analogi) Syar'i

Aswaja berpegang pada dalil-dalil umum yang menunjukkan bahwa pahala amal tertentu bisa sampai kepada mayit, yang menjadi dasar praktik tahlilan:

Qiyas pada Sedekah: Anda mengakui hadis bahwa anak saleh mendoakan orang tua. Nabi ﷺ juga membolehkan bersedekah atas nama mayit dan pahalanya sampai. Para ulama Aswaja melakukan qiyas (analogi): Jika pahala sedekah bisa sampai, maka pahala bacaan Al-Qur'an dan zikir (yang juga ibadah finansial dan fisik) juga bisa sampai.

Hadis Riwayat Aisyah: Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ, "Ibuku meninggal mendadak, dan aku kira jika dia sempat berbicara, dia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah atas namanya?" Nabi menjawab, "Ya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Doa dan Istighfar: Inti tahlilan adalah membaca kalimat thayyibah dan berdoa. Allah sendiri memuji orang-orang yang beristighfar (memohon ampunan) bagi orang-orang beriman yang telah mendahului mereka (QS. Al-Hashr: 10).

2. Status Waktu Tahlilan: Bukan Bid'ah Sesat, Tapi Maslahah Mursalah

Argumen utama Salafi/Wahabi adalah ketiadaan contoh waktu spesifik (7 hari, 40 hari). Aswaja menanggapinya dengan:

Masalah Kaifiyyah (Tata Cara) Bukan Akidah: Menentukan waktu 1 sampai 1000 hari adalah masalah kaifiyyah (tata cara) atau wasilah (cara) untuk mengumpulkan orang agar mendoakan mayit secara efektif. Ini adalah maslahah mursalah (kemaslahatan yang tidak dilarang syariat) atau bid'ah hasanah (inovasi baik), bukan ibadah murni yang harus persis seperti Nabi.

Nabi Melarang Bid'ah yang Bertentangan: Nabi melarang bid'ah yang bertentangan dengan syariat secara substansi. Mengadakan acara yang isinya doa, zikir, dan sedekah tidak bertentangan dengan syariat, justru dianjurkan.

Kesimpulan Aswaja:

Tahlilan adalah cara berkumpul yang dibolehkan untuk melakukan amalan-amalan yang jelas pahalanya sampai kepada mayit (doa, zikir, sedekah). Menolaknya secara mutlak dan menganggapnya sesat adalah bentuk kekakuan dalam memahami keluasan syariat, dan bertentangan dengan praktik qiyas yang digunakan oleh mayoritas ulama salaf terdahulu. Ia sangat bermanfaat bagi mayit, biidznillah (dengan izin Allah).

*

Bilamana perbuatan itu baik seperti tahlilan, maka tentunya nabi telah melakukannya terhadap keluarga beliau, anak-anak dan istri beliau ... Tapi nyatanya tidak kan?

Dalam perdebatan ilmiah ini, Anda sebagai wakil Wahabi/Salafi menggunakan argumen tark (ketiadaan perbuatan Nabi) sebagai dalil larangan. Anda menanyakan mengapa Nabi ﷺ tidak melakukan tahlilan untuk keluarga terdekatnya jika perbuatan itu baik.

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Argumen Anda, "Jika baik, tentu Nabi sudah melakukannya," adalah kaidah yang sering digunakan, tetapi dalam pandangan Aswaja, kaidah ini tidak berlaku secara mutlak untuk semua aspek kehidupan beragama, khususnya dalam masalah kaifiyyah (tata cara) dan wasilah (sarana).

1. Membedakan Ibadah Murni (Mahdhah) dan Wasilah (Sarana)

Kaidah Aswaja membedakan dua jenis amalan:

Ibadah Murni (Mahdhah): Seperti salat, puasa, haji. Tata caranya tauqifiyyah (harus sesuai tuntunan Nabi secara detail). Di sinilah ketiadaan perbuatan Nabi berarti larangan.

Wasilah/Sarana/Adab/Muamalah: Hal-hal yang bukan ibadah ritual inti, tetapi sarana untuk mencapai kebaikan agama. Hukum asalnya adalah boleh (mubah) sampai ada dalil yang melarangnya.

Tahlilan adalah kumpulan dari amalan yang mahdhah (zikir, doa, sedekah) yang digabungkan dalam satu wasilah (acara kumpul bersama) untuk mendoakan mayit. Wasilah ini tidak dilarang. 

2. Kenapa Nabi Tidak Melakukan?

Ketiadaan perbuatan Nabi (tark) tidak selalu berarti larangan. Ada beberapa kemungkinan logis:

Konteks Sosial dan Keterbatasan: Nabi dan para sahabat hidup dalam kondisi yang serba terbatas secara ekonomi dan sosial. Mengadakan acara rutin yang melibatkan jamuan makan mungkin sulit dilakukan secara rutin.

Sikap Wara' (Kehati-hatian) Nabi: Nabi mungkin meninggalkan suatu perbuatan yang mubah karena khawatir umatnya menganggapnya wajib.

Adanya Alternatif yang Lebih Penting: Pada masa itu, prioritas utama adalah mendirikan agama Islam dan memerangi kekafiran, sehingga acara-acara ritual tambahan mungkin tidak menjadi fokus utama.

Peristiwa Qalib Badar adalah Bukti Adanya Interaksi: Meskipun Nabi tidak mengadakan tahlilan terstruktur, tindakan beliau berbicara kepada mayit kafir di Qalib Badar menunjukkan adanya interaksi di alam barzakh. 

3. Contoh Pembukuan Al-Qur'an dan Tarawih Berjamaah

Pembukuan Al-Qur'an tidak dilakukan oleh Nabi, tetapi dilakukan oleh Abu Bakar dan Utsman. Ini adalah bid'ah hasanah. Salat Tarawih berjamaah secara rutin di masjid juga tidak dilakukan Nabi secara konsisten, tetapi dilakukan oleh Umar bin Khattab. Para sahabat tidak menuduh Abu Bakar dan Umar sesat karena meninggalkan "sunnah tarkiyah" (hal yang ditinggalkan Nabi). 

Kesimpulan Aswaja:

Ketiadaan perbuatan Nabi dalam masalah tahlilan tidak menjadi dalil larangan mutlak. Justru dalil-dalil umum tentang maslahah mursalahqiyas pada sedekah mayit, dan praktik para sahabat dalam bid'ah hasanah membuktikan kebolehan tahlilan sebagai sarana yang baik untuk mendoakan mayit.

*

Kalian mengatakan bahwa tiga tauhid yaitu rububiyah uluhiyah asma dan sifat adalah bid'ah yang sesat. Bagaimana dengan pembagian tentang rukun wudhu misalnya, bagaimana tentang pembagian-pembagian hukum dalam fiqih wajib sunnah mubah haram halal, bukankah itu hanya sebuah konsep saja. Tapi mengapa konsep 3 tauhid kalian katakan itu bidah yang sesat ?

Dalam perdebatan ilmiah ini, Anda sebagai wakil Wahabi/Salafi menanyakan inkonsistensi sikap Aswaja: mengapa pembagian fikih (wajib, sunnah, haram) dan rukun wudu diterima, tetapi pembagian tiga tauhid (rububiyah, uluhiyah, asma wa sifat) ditolak sebagai bid'ah sesat?

Berikut adalah respons dari perspektif Aswaja terhadap poin tersebut:

Tanggapan dari Perspektif Aswaja

Wahai penuntut ilmu,

Pertanyaan Anda mengenai inkonsistensi adalah logis, tetapi jawabannya terletak pada perbedaan mendasar antara metodologi pengajaran/klasifikasi ilmiah (ilmu alat) dan klaim bahwa suatu pembagian adalah bagian dari akidah pokok yang mutlak harus diikuti.

1. Perbedaan antara Ilmu Alat/Metode Pengajaran dan Akidah Pokok

Aswaja tidak mengatakan bahwa pembagian tiga tauhid itu sendiri adalah bid'ah yang sesat. Pembagian itu, secara metodologis, adalah sah sebagai alat bantu ilmiah (ilmu alat) untuk memudahkan pemahaman. Sama seperti pembagian rukum wudu, rukun iman, atau status hukum (wajib, sunnah, haram).

Rukun Wudu/Hukum Fikih: Ini adalah klasifikasi metode pengajaran yang dikembangkan ulama untuk menyusun hukum yang diambil dari dalil-dalil yang tersebar. Tidak ada ulama yang mengklaim pembagian "wajib, sunnah, haram" sebagai akidah tersendiri.

Tiga Tauhid: Masalahnya bukan pada pembagiannya sebagai alat ajar, tetapi pada klaim kaum Wahabi/Salafi bahwa pembagian tersebut adalah satu-satunya cara beriman yang benar dan menggunakannya sebagai palu pengkafiran.

2. Klaim Eksklusivitas dan Konsekuensi Pengkafiran

Dalam pandangan Aswaja, yang menjadi masalah adalah:

Klaim Mutlak: Pihak Wahabi/Salafi sering mengklaim bahwa pemahaman tauhid yang tidak terbagi tiga secara formal adalah kurang sempurna atau salah.

Pengkafiran Berbasis Pembagian: Pembagian ini digunakan untuk mengkafirkan mayoritas Muslim di dunia. Mereka berkata: "Kaum musyrikin Mekah mengakui rububiyah, tapi kafir karena melanggar uluhiyah." Lalu mereka menerapkan standar ini kepada Aswaja yang bertawasul, menganggapnya syirik uluhiyah dan kafir.

Di sinilah letak penyimpangannya menurut Aswaja: Penggunaan alat bantu ilmiah (ilmu alat) akidah (yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyyah di abad ke-13) untuk mengkafirkan seluruh umat Islam yang berbeda pandangan dengannya.

3. Nabi ﷺ Tidak Memecah Tauhid Menjadi Kategori Pengkafiran

Nabi ﷺ mengajarkan tauhid sebagai satu kesatuan utuh melalui dua kalimat syahadat. Nabi tidak pernah bertanya kepada seseorang, "Apakah kamu mengakui tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat?"

Aswaja berpendapat bahwa pemahaman tauhid yang terlalu kaku dan terbagi-bagi, yang kemudian menjadi dasar untuk mengkafirkan orang yang bersyahadat, adalah metode yang bertentangan dengan prinsip dasar tasamuh (toleransi) dan kehati-hatian dalam menetapkan kekafiran dalam Islam.

Kesimpulan Aswaja:

Pembagian ilmiah boleh saja, asalkan tidak dijadikan akidah pokok yang mengkafirkan orang lain. Penggunaan tiga tauhid oleh kaum Wahabi/Salafi telah melewati batas sebagai alat ajar dan menjadi ideologi pengkafiran, dan inilah yang dianggap bermasalah dan mengacaukan tatanan akidah Islam yang mapan.

*

Konsep pembagian sifat Allah 20 itu tidak pernah diajarkan nabi Muhammad, bukankah itu juga bidah ?

Konsep pembagian sifat Allah menjadi 20 sifat wajib (beserta 20 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz, yang sering disebut Akidah 50) adalah hasil dari 

ilmu tauhid dan pemikiran ulama terdahulu, bukan ajaran yang diklasifikasikan secara eksplisit oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu daftar tunggal. Namun, hal ini tidak serta merta dianggap bidah oleh mayoritas ulama. 

Berikut penjelasannya:

Asal Usul Konsep 20 Sifat

Berasal dari Al-Qur'an dan Hadis: Sifat-sifat tersebut diambil dari dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis yang sahih. Semua sifat yang 20 itu memiliki dasar dalam sumber-sumber primer Islam.

Metode Klasifikasi: Para ulama, khususnya dalam mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, merumuskan dan mengklasifikasikan sifat-sifat ini untuk memudahkan pemahaman dan pembelajaran akidah, terutama bagi orang awam dan pelajar. Tokoh utama yang merumuskan klasifikasi ini secara sistematis adalah Syekh Muhammad bin Yusuf al-Sanusi dari mazhab Maliki, yang hidup berabad-abad setelah Nabi Muhammad SAW.

Tujuan Pedagogis: Tujuannya adalah untuk membentengi akidah umat dari pemahaman yang menyimpang, seperti paham yang menyamakan Allah dengan makhluk (antropomorfisme) atau paham yang menolak sifat-sifat Allah sama sekali. 

Status Bidah

Pertanyaan apakah ini bidah bergantung pada definisi bidah yang digunakan:

Bukan Bidah (Pandangan Mayoritas Ulama): Mayoritas ulama (terutama Ahlussunnah wal Jama'ah) memandang bahwa klasifikasi 20 sifat ini bukanlah bidah yang dilarang. Ini termasuk dalam kategori bidah hasanah (inovasi yang baik) atau, lebih tepatnya, sebuah metodologi (manhaj) dalam menjelaskan ajaran yang sudah ada dalam syariat. Dalil-dalilnya ada, hanya pengelompokannya saja yang baru.

Dianggap Bidah (Pandangan Sebagian Kalangan): Sebagian kalangan, terutama dari mazhab Hanbali atau yang mengikuti pandangan yang sangat ketat terhadap bidah, menganggap bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan atau diajarkan secara langsung oleh Nabi dan para sahabat adalah bidah yang harus dihindari. Mereka menekankan untuk memahami sifat-sifat Allah sebagaimana adanya di Al-Qur'an dan Hadis tanpa pembatasan jumlah tertentu. 

Kesimpulan

Konsep 20 sifat Allah tidak diajarkan sebagai daftar hafalan oleh Nabi Muhammad, tetapi substansi dari sifat-sifat tersebut bersumber dari wahyu. Klasifikasi tersebut adalah metode yang dikembangkan ulama untuk tujuan pendidikan dan pemahaman akidah yang lebih sistematis. Statusnya sebagai bidah masih menjadi perdebatan di antara mazhab dan aliran pemikiran dalam Islam. 

*

Jumat, 17 Oktober 2025

MENJAGA ILMU

 

Dalam Kitab al-Mawāqif karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, disebutkan bahwa Nabi Khidhir AS mengajarkan pentingnya menjaga rahasia spiritual, terutama ilmu-ilmu ghaib yang hanya boleh diberikan kepada orang yang benar-benar layak menerimanya.

Ilmu ghaib dan hikmah laduni yang diberikan oleh Allah dapat menjadi ujian jika seseorang menyalahgunakannya atau memberikannya kepada orang yang tidak berhak. Oleh karena itu, ada amalan khusus untuk menjaga ilmu tersebut agar tetap terpelihara dengan baik.

1. Prinsip Menjaga Rahasia Spiritual

Menurut al-Mawāqif, ada tiga prinsip utama dalam menjaga ilmu ghaib:

A. Menyembunyikan Ilmu dari Orang yang Tidak Berhak

✅ Tidak mengajarkan ilmu ghaib kepada orang yang belum siap secara spiritual.
✅ Tidak menyebarkan pengalaman spiritual pribadi yang dapat menimbulkan kesombongan.
✅ Memastikan bahwa orang yang menerima ilmu ini memiliki niat yang tulus karena Allah.

B. Menjaga Diri dari Ujub dan Riya’

✅ Tidak merasa lebih tinggi dari orang lain karena memiliki ilmu khusus.
✅ Selalu merendahkan hati dan bersikap tawadhu'.
✅ Mengembalikan segala ilmu kepada karunia Allah, bukan hasil usaha pribadi.

C. Menggunakan Ilmu untuk Kebaikan

✅ Ilmu ghaib harus digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
✅ Tidak boleh digunakan untuk kepentingan duniawi atau sihir.
✅ Harus selalu diuji kebenarannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

2. Amalan Khusus untuk Menjaga Ilmu Ghaib

Agar ilmu ghaib tetap terjaga dan tidak disalahgunakan, Nabi Khidhir AS mengajarkan beberapa wirid dan amalan khusus.

A. Dzikir "Sirrul Asrar" (Rahasia Segala Rahasia)

Dalam al-Mawāqif, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyebutkan bahwa dzikir ini adalah salah satu amalan yang diajarkan oleh Nabi Khidhir AS untuk menjaga ilmu dari tangan orang yang tidak berhak.


يَا بَاطِنُ يَا خَفِيُّ يَا سِتِّيرُ

"Yā Bāṭin, Yā Khafī, Yā Sittīr"


Tata Cara:
🔹 Dibaca 313 kali setelah shalat tahajud.
🔹 Disertai istighfar 100 kali untuk membersihkan hati.
🔹 Berdoa agar ilmu hanya diberikan kepada mereka yang berhak.

B. Doa Menutup Ilmu dari Orang yang Tidak Layak

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani juga mengajarkan doa berikut agar ilmu yang dimiliki tidak disalahgunakan atau diketahui oleh orang yang tidak berhak.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمِي فِي صُدُورِ الَّذِينَ يَسْتَحِقُّونَهُ، وَاحْجُبْهُ عَنِ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِكَ وَلَا بِآيَاتِكَ


Artinya:

"Ya Allah, jadikanlah ilmuku berada di dalam dada orang-orang yang berhak menerimanya, dan tutuplah ia dari orang-orang yang tidak beriman kepada-Mu dan ayat-ayat-Mu."

Tata Cara:
✅ Dibaca setiap kali setelah shalat fardhu.
✅ Bisa ditambah dengan sholawat 100 kali agar ilmu tetap penuh berkah.

C. Amalan Khusus untuk Menutup Hijab Ilmu Ghaib

Dalam Kitab al-Mawāqif, disebutkan bahwa ada shalat sunnah khusus yang dikenal sebagai "Shalat Sirrul Khidhir" untuk menjaga kerahasiaan ilmu spiritual.

Tata Cara Shalat Sirrul Khidhir:

Shalat dua rakaat setelah shalat tahajud atau sebelum subuh.

Pada rakaat pertama → Membaca QS. Al-Ikhlas (3x) setelah Al-Fatihah.

Pada rakaat kedua → Membaca QS. Al-Falaq dan QS. An-Nas setelah Al-Fatihah.

Setelah salam, membaca doa berikut 100 kali:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي شَرَّ كُلِّ مَنْ لَا يَعْلَمُ حَقِّ هَذَا الْعِلْمِ وَاحْجُبْهُ عَنْهُمْ كَمَا حَجَبْتَ أَهْلَ السِّرِّ بِسِتْرِكَ


Artinya:

"Ya Allah, cukupkan aku dari keburukan orang yang tidak mengetahui hak ilmu ini, dan tutupilah ilmu ini dari mereka sebagaimana Engkau menutupinya dari orang yang tidak berhak."

3. Keutamaan Menjaga Ilmu Rahasia

✅ Dilindungi Allah dari bahaya kesombongan dan riya’.
✅ Ilmu yang dimiliki tetap bermanfaat dan tidak menjadi ujian.
✅ Mendapat ilham dan petunjuk langsung dari Allah.
✅ Dihindarkan dari fitnah dunia dan ujian ilmu yang menyesatkan.

NABI KHIDHIR AS

 

NABI KHIDHIR (NABI HIJAU)

Khidir adalah sebuah julukan, nabi khidir menurut rasulullah dalam hadist dari Abu Hurairah sebagai berikut:

إِنَّمَا سُمِّيَ الخَضِرَ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاءَ

“Beliau dinamai Khidr karena beliau duduk di atas tanah putih, tiba-tiba berguncang di belakang beliau berwarna hijau.” (HR. Bukhari 3402, Turmudzi 3151, dan Ibnu Hibban 6222). 

“Nabi Khidir” Pernah Menjadi Budak

Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, disebutkan sebuah hadits tentang nabi Khidir yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Baqiyyah bin Walid (perawi yang jujur dan tsiqah. Haditsnya diriwayatkan oleh imam Muslim dan empat imam hadits lainnya) yang mendapatkan cerita dari Muhammad bin Ziyad Al Alhani (perawi yang tsiqah).

Haditsnya diriwayatkan oleh imam Bukhori dan empat imam hadits lainnya, bersumber dari Abu Umamah Al Bahili: nabi Muhammad bersabda: “Berkenankah kalian kuberitahu tentang Khidir?”

Para Sahabat menjawab, “Tentu berkenan, Ya Rasulallah”.

Nabi Muhammad bercerita, “Suatu waktu Ia (Khidir) sedang berjalan di pasar bani Israil, kemudian seseorang melihatnya. Orang tersebut berkata ‘bersedahkahlah kepadaku, Tuan. Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu’”.

Mendengar hal tersebut, Khidir berkata “Aku beriman kepada Allah. Urusan apapun yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi. Aku tak memiliki apapun yang bisa kuberikan padamu”.

Orang tersebut menanggapi perkataan Khidir dengan kalimat “Aku memohon kepadamu dengan kemuliaan Dzat Allah, bersedekahlah kepadaku. Sebab Aku melihat kemurahan hati dari wajahmu”.

Nabi Khidir Menjadi Seorang Budak

Khidir balik menanggapinya “Aku beriman kepada Allah. Sungguh aku benar-benar tak memiliki apapun yang bisa kuberikan padamu, kecuali diriku ini. Kau bisa mengambilku lalu menjualku jika Kau mau (menjadi budak)”.

“Apakah kalimat ini bisa kupegang?”, tanya orang tersebut.

“Iya, Aku mengatakan yang sesungguhnya. Aku tak ingin mengecewakanmu atas nama Dzat Allah, juallah Aku”, ungkap Khidir.

Orang miskin tersebut akhirnya membawa Khidir ke pasar dan menjualnya dengan harga empat ratus dirham. Khidir dibeli oleh seseorang yang justru tidak pernah mempekerjakannya. Khidir pun bertanya kepada majikannya (tuan), “Kau telah membeliku untuk mendapatkan manfaat dariku, maka pekerjakanlah Aku”.

Sang tuan berkata kepada Khidir, “Aku tidak ingin membebanimu, sebab Kau sudah terlalu tua dan lemah”.

“Pekerjaan apapun tidak akan membebaniku”, ungkap Khidir.

“Baiklah kalau begitu. Kumohon bangun dan angkatlah batu-batu ini”, perintah sang tuan. Sebelumnya, majikannya tidak sanggup mengangkat batu-batu tersebut kecuali dibantu oleh 6 orang dalam satu hari. Sang tuan kemudian pergi untuk suatu keperluan dan selang beberapa saat kembali lagi. Ketika kembali, batu-batu itu telah selesai diangkat oleh budaknya (Khidir) sendirian hanya dalam waktu sekejap.

Melihat hal tersebut, sang tuan berkata “Kau telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik dan melakukan hal yang kukira Kau tidak mampu”.

Mendapat Kemuliaan

Di hari berikutnya, sang tuan hendak melakukan suatu perjalanan. Sebelum pergi Ia berkata kepada Khidir, “Aku percaya Kau orang yang amanah. Kumohon gantikanlah Aku sebagai pemimpin di keluargaku dengan sebaik mungkin”.

“Naik. Perintahkanlah Aku untuk mengerjakan suatu hal”, ungkap Khidir pada tuannya.

“Aku tak ingin membebanimu, kata tuannya.

“Aku tak akan merasa dibebani”, jawab Khidir.

“Baiklah jika seperti itu. Pasanglah batu bata untuk membangun rumahku hingga Aku kembali”, jelas tuannya.

Sang tuan bergegas meninggalkan rumahnya. Ketika kembali, ternyata rumahnya telah selesai dibangun. Sang tuan pun bertanya pada budaknya (Khidir), “Aku bertanya kepadamu dengan kemuliaan Dzat Allah. Dengan cara apa Kau melakukan semua ini? Kau ini sebenarnya siapa?”.

****

Khidirpun menjawab, “Kau telah bertanya kepadaku dengan kemuliaan Dzat Allah. Dan kemuliaan Dzat-Nya telah meletakkanku ke dalam perbudakan. Aku akan memberitahumu, sesungguhnya Aku adalah Khidir”.

Mendengar penjelasan dari Khidir, sang tuan berkata “Aku beriman kepada Allah. Aku telah membebanimu wahai nabi Allah dan tak tahu bahwa Kau seorang nabi”.

Tidak masalah, sebab Kau telah berbuat baik”, jawab Khidir.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah sang tuan membebaskan Khidir, lalu Khidir memuji kepada Allah.

Nabi Musa dan Penggembala dengan Do’a yang Aneh

Jalaluddin Rumi di dalam al-Matsnawi menyebutkan sebuah kisah hikmah tentang cara yang bijaksana untuk mengingatkan seorang hamba yang sempat salah atau keliru. Kisah tersebut merupakan kisah antara Nabi Musa dan penggembala. Berikut kisah lengkapnya.

Ketika berjalan-jalan Nabi Musa bertemu dengan seroang penggembala yang berdo’a: “Ya Tuhan, tunjukkan kepadaku di mana diri-Mu, agar Aku bisa menjadi hamba-Mu, menjahitkan baju-Mu, membersihkan sepatu-Mu, menyisir rambut-Mu, dan memberi-Mu susu”.

“Do’a aneh” yang didengar oleh Nabi Musa tersebut membuat Nabi Musa menegurnya dan berkata, “Wahai orang bodoh, meskipun Kau memiliki Ayah seorang muslim. Kau telah menjadi orang kafir. Tuhan memiliki sifat yang berbeda dengan ciptaan-Nya, Sehingga Tuhan tidak membutuhkan perawatan fisik seperti yang Kau sebutkan di dalam do’amu tadi”.

Hikmah Doa

Sang penggembala merasa sangat malu karena teguran Nabi Musa, sehingga dia merobek-robek bajunya lalu berlari menuju arah gurun pasir. Kemudian, muncul suara tanpa rupa (Hatif) dari langit yang berkata kepada Nabi Musa: “Wahai Musa, mengapa Kau usir hamba-Ku? Tugasmu adalah mendekatkan umat-Ku kepada-Ku, bukan malah menjauhkan mereka dari-Ku.

Aku telah memberi setiap suku penggunaan dan sebutan yang berbeda-beda untuk memuji dan memujaku. Aku tidak membutuhkan pujian mereka, karena Aku adalah Dzat yang Maha Tinggi tanpa perlu diberi pujian. Aku tidak membutuhkan pujian mereka, tapi Aku menyukai ketulusan mereka dalam memujiku”.

Kisah di atas mengajarkan kepada manusia bahwa persatuan lebih diutamakan daripada perceraian. Cara yang paling bijaksana dalam membetulkan kesalahan seseorang adalah menunjukkan kebenaran, bukan malah melakukan penghinaan.



Dalam Kaidah Fiqih disebutkan bahwa menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan (Dar’ul Mafasid Muqoddamun ‘ala Jalbil Masholih). Wallahu A’lam

Penulis adalah Alumni Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Editor: Dartim I.R.


SIKAP BERAGAMA YANG BAIK DAN BENAR

 SIKAP BERAGAMA

Kekhususan Nabi dalam menikah ada tujuan yang benar. Kekhususan Nabi dalam shalat Dhuha dan tahajjud sebagai satu kewajiban, sedang bagi ummatnya, kedua shalat tersebut tidak wajib.


Jangan berkumpul dengan orang yang sedang mencela-cela agama Islam, mencela Allah dan Rasulullah, karena mendengarkan pencelaan yang demikian adalah dipangkati sama (dianggap ikut mencela). 

Jangan pula mencela agama orang lain atau tuhan orang lain atau tetua agama orang lain, karena hal tersebut termasuk mencela agama Tuhan dan nabi kita sendiri. Yaitu mencela agama Allah dan nabi kita melalui lisan mereka.


Berdebat dengan orang lain yang beragama beda dengan Islam harus dengan cara-cara yang terbaik. Jangan membolehkan pembicaraan yang kemudiannya terjadi perdebatan yang isinya saling mengolok-olok agama Islam, Tuhan dan Nabi Muhammad ﷺ.


Nama Nama Nabi

 

Nama-Nama Nabi 25 Berurutan, Lengkap Mukjizat dan Kisahnya dalam Al-Qur'an

oleh Laudia Tysara diperbarui 31 Mei 2023, 11:50 WIB

- Nama-nama nabi 25 berurutan merupakan daftar yang penting dalam sejarah agama Islam. Para nabi tersebut diutus oleh Allah untuk memberikan petunjuk dan membawa wahyu kepada umat manusia. Dalam buku berjudul Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII oleh Harjan Syuhada., dkk, nama-nama nabi 25 berurutan tersebut meliputi Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub.

Lalu, Nabi Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, Muhammad, dan masih banyak lagi.

Masing-masing nama-nama nabi 25 berurutan tersebut memiliki kisah dan mukjizat yang berbeda, serta membawa pesan moral dan ajaran kehidupan yang penting bagi umat manusia. Setiap nabi memiliki peran yang berbeda dalam menyampaikan wahyu dan membimbing umat manusia sesuai dengan keadaan dan zaman mereka. Mereka mengajarkan tauhid, kepatuhan kepada Allah, keadilan, kasih sayang, dan nilai-nilai kebaikan.

Nama-nama nabi 25 berurutan tersebut juga mengingatkan umat Islam akan sejarah dan keteladanan para nabi dalam menjalankan tugas dan misi mereka. Penting bagi umat Islam untuk menghormati dan mempelajari kisah serta ajaran-ajaran para nabi Allah sebagai teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya agar umat Islam dapat mengembangkan keimanan, ketaqwaan, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

1. Nabi Adam:

Nabi Adam adalah khalifah pertama di bumi yang diutus oleh Allah SWT. Dia tinggal di surga bersama Hawa sebelum diturunkan ke bumi. Nabi Adam memiliki pengetahuan luas tentang alam semesta, umur panjang, dan memberikan 40 tahun umur kepada Nabi Daud. Dia menghadapi ujian namun tetap teguh dalam iman dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada umat manusia.

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!" (QS. al-Baqarah ayat 31)

2. Nabi Idris:

Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam dan diutus oleh Allah sebagai penerus risalah. Ia cerdas dan berilmu. Nabi Idris menyampaikan pesan-pesan kebaikan seperti pentingnya sholat jenazah, bersyukur, dan menghindari hasad dan dengki. Beliau memiliki mukjizat seperti mengamati fenomena alam, membaca dan menulis, serta mengalami sakaratul maut dan melihat surga dan neraka. Pesan-pesan kebaikan Nabi Idris relevan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam kitab (al-qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi." (QS. Maryam ayat 56)

3. Nabi Nuh:

Nabi Nuh adalah salah satu nabi dari golongan Ulul Azmi. Ia diutus oleh Allah untuk menyebarkan ajaran tauhid dan memperingatkan umat manusia tentang azab yang akan menimpa mereka jika tidak taat kepada Allah. Nabi Nuh menghadapi banyak tantangan dan penolakan, termasuk dari keluarganya. Namun, ia tetap sabar dan terus berdakwah. Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Nuh, termasuk kemampuan membangun perahu besar untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan hewan-hewan dari banjir besar yang diturunkan oleh Allah. Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya yang taat dan teguh dalam iman.

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih." (QS. Nuh ayat 1)

4. Nabi Hud:

Nabi Hud adalah nabi yang diutus untuk menyebarkan ajaran tauhid kepada kaum 'Ad. Mereka terkenal karena keahlian membuat menara dan melakukan kemaksiatan. Nabi Hud diberikan mukjizat oleh Allah, seperti kemampuan menurunkan hujan saat kaum 'Ad dilanda kekeringan dan melindungi dirinya dari badai petir yang menghancurkan kaum yang durhaka.

"Hud berkata "Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam." (Q.S Al-A'raf ayat 67)

5. Nabi Shaleh:

Nabi Shaleh diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada kaum Tsamud, keturunan dari kaum 'Ad. Selama dakwahnya, Nabi Shaleh diberikan mukjizat sebagai bukti kebenaran dakwahnya, seperti memunculkan seekor unta betina yang sedang hamil 10 bulan dari batu besar yang terbelah.

"Shaleh berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian." (QS Hud ayat 63)

6. Nabi Ibrahim:

Nabi Ibrahim memiliki banyak mukjizat. Salah satunya, ia diselamatkan oleh Allah saat dibakar hidup-hidup, di mana api menjadi sejuk untuknya. Ia juga mengalami mukjizat lain, seperti menyaksikan burung hidup kembali dan mengubah pasir menjadi makanan bergizi. Pada usia 99 tahun, Allah memberikan kepadanya seorang anak sebagai hadiah atas kesabaran dan imannya bersama istrinya, Siti Sarah. Mukjizat ini membuktikan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa.

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Baqarah ayat 260)

7. Nabi Luth:

Nabi Luth diutus untuk berdakwah kepada kaum Sodom yang melakukan seks sesama jenis. Namun, kaum tersebut tidak mendengarkan dakwahnya. Akibatnya, Allah menghancurkan mereka dengan gempa bumi dan angin kencang setelah mengusir Nabi Luth. Meskipun dakwahnya tidak berhasil mengubah perilaku mereka, Nabi Luth menjadi contoh bagi umat manusia karena kesabaran dan doanya. Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Luth, termasuk perlindungan dari kaum yang berbuat jahat dan bantuan dua malaikat.

"Kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. Kam memasukkannya (Nabi Luth) ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya dia termasuk golongan orang-orang yang saleh." (QS. al-Anbiyaa' ayat 74-75)

8. Nabi Ismail:

Nabi Ismail adalah anak Nabi Ibrahim dan Hajar. Air zamzam yang berasal dari tempat Hajar mencari air untuk Ismail dianggap suci. Nabi Ismail juga hampir disembelih oleh Nabi Ibrahim, tetapi Allah menggantikannya dengan kambing. Peristiwa ini menjadi asal usul perayaan Idul Adha.

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi." (QS. Maryam ayat 54)

9. Nabi Ishaq:

Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari pernikahannya dengan Sarah. Ia memiliki karakter yang baik dan keturunannya melahirkan banyak nabi. Nabi Ishaq juga memiliki mukjizat para nabi, seperti diberi keturunan pada usia tua.

"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi." (QS. Maryam ayat 49)

10. Nabi Yaqub:

Nabi Yaqub adalah anak Nabi Ishaq dan dikenal sebagai sosok yang sabar dan penuh ketabahan. Ia memberikan wasiat kepada putra-putranya dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan saudara seiman. Nabi Yaqub juga berharap untuk dimakamkan di tanah suci bersama para nabi lainnya.

"Dia (Ya'qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, "Alangkah kasihan Yusuf," dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan)." (QS. Yusuf ayat 84)

11. Nabi Yusuf:

Nabi Yusuf menghadapi banyak cobaan dan ujian dari Allah. Meskipun dijebak dan dipenjara secara salah, Beliau akhirnya diangkat menjadi penasehat penguasa Mesir dan menyelamatkan bangsa dari kelaparan. Kisah hidupnya mengajarkan pentingnya berpegang teguh pada iman dan memperjuangkan kebenaran.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang yang mulia, anak dari seorang yang mulia, cucu dari seorang yang mulia, cicit dari seorang yang mulia, yaitu Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim." (HR Bukhari & Ahmad)

12. Nabi Ayub:

Nabi Ayub adalah seorang nabi yang kaya dan berakhlak mulia. Meskipun mengalami penderitaan yang besar, Beliau tetap rendah hati dan berbuat baik. Nabi Ayub memiliki kesabaran yang tak tergoyahkan dan mampu mengeluarkan air dari tanah untuk menyembuhkan penyakitnya.

"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (al-Anbiya ayat 83)

13. Nabi Syuaib:

Nabi Syuaib diutus untuk berdakwah kepada kaum Madyan yang zalim. Meskipun Beliau mengajarkan ajaran yang benar, kaum Madyan tetap menolak dakwahnya. Allah mengirimkan bencana sebagai hukuman atas perbuatan mereka. Ini menjadi pelajaran tentang pentingnya mengikuti ajaran agama dan berbuat baik.

"Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Hud ayat 84)

14. Nabi Musa:

Nabi Musa memiliki berbagai mukjizat dari Allah, termasuk membelah laut Merah dan memiliki kitab suci, Taurat. Beliau memimpin Bani Israil melawan Firaun yang zalim dan berhasil membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Mukjizat-mukjizat tersebut menjadi bukti kebesaran Allah dan keistimewaan Nabi Musa sebagai nabi terpilih.

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun." (QS Al Kahfi ayat 60)

15. Nabi Harun:

Nabi Harun memiliki kemampuan bahasa yang sangat baik dan berjuang untuk menghapuskan penyembahan berhala yang dipimpin oleh Samiri. Beliau berhasil membujuk Bani Israil untuk kembali pada jalan yang benar. Nabi Harun juga menjadi pendamping dan pembantu Nabi Musa saat memerintah Bani Israil, bahkan bertindak sebagai pemimpin sementara ketika Nabi Musa pergi menerima wahyu. Meskipun dituduh sebagai penyembah berhala, Nabi Harun menjelaskan tuduhan tersebut dan terus berjuang membimbing Bani Israil ke jalan yang benar.

"Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku." (QS Al-Qashsash ayat 34)

16. Nabi Dzulkifli:

Nabi Dzulkifli diutus oleh Allah untuk memberi ajaran tentang keimanan kepada umat manusia. Meskipun kisahnya jarang diceritakan, Nabi Dzulkifli dikenal sebagai sosok yang tegar dalam menyampaikan ajaran agama, meski menghadapi siksaan, penjara, dan rantaian. Keberanian dan kegigihannya dalam menyebarkan pesan agama telah menginspirasi umat Islam di seluruh dunia. Nabi Dzulkifli juga terkenal karena kesabarannya yang luar biasa, menjadi teladan bagi umat Islam dalam menghadapi ujian dan kesulitan, serta memegang teguh ajaran agama.

"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua merekatermasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmatKami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." (QS. al-Anbiya ayat 85-86)

17. Nabi Daud:

Nabi Daud diutus oleh Allah untuk memberikan petunjuk dan ajaran kepada umat manusia. Beliau dikenal sebagai seorang raja yang bijaksana dan dianugerahi kitab suci Zabur. Kitab Zabur merupakan kitab suci kedua dalam agama Islam setelah Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa. Nabi Daud juga terkenal karena suaranya yang merdu, yang dianggap sebagai mukjizatnya yang lain. Beliau menggunakan suara merdunya untuk memuji dan bersyukur kepada Allah SWT, menghibur hati orang-orang yang mendengarkannya.

"Ingatlah Daud dan Sulaiman ketika mereka memberikan keputusan mengenai ladang yang dirusak pada malam hari oleh kambing-kambing milik kaumnya. Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu." (QS. al-Anbiya' Ayat 78)

18. Nabi Sulaiman:

Nabi Sulaiman dikenal sebagai raja yang kaya dan memiliki kekuasaan besar. Ia menaklukkan negeri Saba dan menikahi ratu Bilqis. Nabi Sulaiman memiliki mukjizat berbicara dengan binatang, mengendalikan angin, jin, dan binatang untuk membangun istananya, dan mengalirkan tembaga dari perut bumi. Kekuasaan dan kemampuan ini merupakan karunia dari Allah yang diberikan sesuai dengan tugas dan perannya sebagai utusan Allah.

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata." (QS. An-Naml ayat 16)

19. Nabi Ilyas:

Nabi Ilyas diutus untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada umatnya yang terjerumus dalam kesyirikan. Allah memberikan mukjizat berupa kekeringan yang panjang sebagai azab untuk mengingatkan mereka agar kembali beriman kepada Allah. Nabi Ilyas bersama umat yang taat melewati ujian ini dan Allah mengirimkan hujan sebagai tanda rahmat-Nya.

"Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul." (QS. As-Saffat Ayat 123)

20. Nabi Ilyasa:

Nabi Ilyasa adalah anak angkat Nabi Ilyas dan meneruskan tugas dakwah setelah Nabi Ilyas wafat. Beliau memiliki mukjizat menghidupkan orang mati atas izin Allah. Nabi Ilyasa berjuang melawan orang-orang yang memusuhi ajarannya, terutama kelompok yang menyembah berhala. Meski menghadapi rintangan, Nabi Ilyasa tetap gigih membawa pesan Allah kepada umat manusia.

"dan Ismail, Alyasa‘, Yunus, dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya). (QS. Al-An'am Ayat 86)

21. Nabi Yunus:

Nabi Yunus diutus untuk menyadarkan kaum Assyira yang menyembah berhala di kota Niniwe. Awalnya, Nabi Yunus merasa putus asa dan pergi dari kota tersebut. Namun, Allah menyelamatkannya setelah ditelan oleh seekor paus dan memberikan kesempatan kedua untuk melanjutkan dakwahnya. Mukjizat Nabi Yunus menunjukkan kebesaran Allah dan memberikan pelajaran tentang kekuasaan dan keadilan-Nya.

"Maka, kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (QS. Al-Shaaffat ayat 143-144)

22. Nabi Dzakaria:

Nabi Dzakaria adalah seorang nabi keturunan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Meskipun kisahnya tidak banyak diceritakan dalam Al-Quran, Nabi Dzakaria memiliki sikap rendah hati dan selalu bersyukur kepada Allah. Salah satu mukjizatnya adalah Allah memberinya seorang anak pada usia yang sudah tua, yaitu Nabi Yahya. Nabi Dzakaria juga terkenal dengan doa-doa khusyuknya, terutama doa untuk meminta keturunan.

"Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya, 'Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik." (QS. al-Anbiya' ayat 89)

23. Nabi Yahya:

Nabi Yahya, putra Nabi Dzakaria, adalah seorang nabi yang sangat dihormati dan dianggap sangat suci. Beliau memiliki pengetahuan yang mendalam tentang syariat dan ajaran Allah, dan memimpin gerakan reformasi moral dan spiritual pada zamannya. Nabi Yahya juga memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit dan memberikan mukjizat lain sebagai bukti kebesaran Allah dan kebenaran ajaran yang dibawanya.

"Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak." (QS. Maryam ayat 12)

24. Nabi Isa:

Nabi Isa merupakan nabi yang terkenal dalam agama Islam. Beliau memiliki mukjizat yang menakjubkan, termasuk kelahirannya tanpa seorang ayah dan kemampuannya menghidupkan orang mati. Nabi Isa juga diberikan kitab Injil sebagai pedoman hidup dan diberi makanan dari langit sebagai tanda keajaiban. Beliau dihormati sebagai salah satu nabi besar dan utusan Allah yang membawa ajaran penting bagi umat manusia.

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. (Ingatlah) ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) hikmah, Taurat, dan Injil. (Ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah (sesuatu) seperti bentuk burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (Ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) pada waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata." (QS. Al-Maidah ayat 110)

25. Nabi Muhammad:

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dalam sejarah kehidupan para nabi dan rasul. Beliau memiliki banyak mukjizat, termasuk Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam dan kemampuannya dalam membelah bulan, mengalirkan air, menurunkan hujan, dan melakukan perjalanan Isra Miraj. Nabi Muhammad SAW juga dikenal karena kejujuran, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi." (QS al-Ahzab ayat 40)

*

MENGENAL KITAB TA’LIM AL-

 

Pustaka Mengenal Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak” kata Imam Ibnu al-Mubarak. Amien Nurhakim Kolomnis Pesantren merupakan sarana para pelajar menimba ilmu pengetahuan secara intensif. Hal ini tampak dari padatnya jadwal pengajian serta ragam kitab yang dipelajari. Namun, dalam tradisi pensantren, ada yang lebih urgen ketimbang ilmu pengetahuan, yakni adab atau etika. Termasuk etika dalam mencari ilmu itu sendiri.   Bagi para santri, akhlak lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Sedikitnya sopan santun lebih berharga daripada banyaknya ilmu. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Imam Ibnu al-Mubarak:

  نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak” (Syekh Syatha Dimyathi al-Bakri, Kifâyah al-Atqiyâ wa Minhâj al-Ashfiyâ, Dar el-Kutub al-‘Ilmiyah, h. 262).  

Dalam menggembleng akhlak santri, pesantren memasukkan pelajaran tentang etika dan tata cara menuntut ilmu ke dalam kurikulumnya. Hal ini dilakukan supaya para santri memahami akhlak yang terpuji dan tata cara menuntut ilmu yang benar, supaya ilmu mereka bermanfaat saat mengabdi di masyarakat.  

Ada beragam kitab yang digunakan dalam pembelajaran akhlak di pesantren. Beberapa yang bisa disebut antara lain al-Akhlâq lil Banîn karya Syekh Umar bin Ahmad Baraja, Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Bidâyatul Hidâyah karya Imam al-Ghazali, dan yang sangat terkenal di setiap pesantren yaitu kitab Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum karya Imam al-Zarnûji.  

Kitab Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum merupakan salah satu kitab yang menghimpun tuntunan belajar. Nama lengkap penyusunnya adalah Burhânuddîn Ibrâhim al-Zarnûji al-Hanafi. Kata al-Zarnûj dinisbatkan kepada salah satu kota terkenal dekat sungai Oxus, Turki. Dari penisbatannya kepada al-Hanafi di ujung namanya dapat diketahui bahwa beliau bermazhab Hanafi. Mengenai tahun kelahirannya para ulama tarikh masih berbeda pendapat, begitupun dengan tahun wafatnya. Sebagian menyebutkan Imam al-Zarnûji wafat pada 591 H, namun ada juga yang menyebutkan wafat pada 640 H (Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, Beirut: al-Maktab al-Islami, cetakan pertama, 1981, halaman 18).  

Imam al-Zarnûji berguru kepada beberapa ulama besar pada masanya, di antaranya adalah Ruknul Islam Muhammad bin Abi Bakr (573 H), Hammad bin Ibrahim, Fakhruddin al-Kâsyâni, Fakhruddin Qâdhi Khan al-Awz Jundi, dan Ruknuddin al-Farghâni.

Para ulama tersebut adalah ahli fiqih sekaligus sastra. Mungkin faktor inilah yang menyebabkan banyaknya nasihat yang dikutip oleh Imam al-Zarnûji berasal dari ulama Hanafiyah, dan banyaknya syair di dalam kitab ini.   Latar belakang penulisan kitab ini adalah adalah sebagaimana yang beliau tuturkan sendiri dalam mukaddimah kitabnya:  

فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم

Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh- sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang (dari ilmu) sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat- syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah. (Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum,halaman 57)  

Imam al-Zarnuji menjelaskan metode belajar dalam kitabnya. Ada 13 pasal yang disebutkan olehnya dalam Ta’lîm al-Muta’allim, yaitu:   Hakikat ilmu dan keutamaannya   Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji membicarakan perihal kewajiban menuntut ilmu, dan tidak semua ilmu harus dipelajari. Karena yang wajib bagi mereka adalah Ilmul hâl, seperti ilmu iman, ilmu shalat, zakat, dan semacamnya.

Setelah itu beliau menyebutkan keutamaan- keutamaan menuntut ilmu, di antaranya analogi Imam al-Zarnuji akan keutamaan Nabi Adam AS dibanding para malaikat adalah karena ilmu yang dimilikinya.  

Imam al-Zarnuji juga menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu ada 4.

Pertama, fardlu‘ain, salah satunya adalah ilmu wudhu dan shalat. Kedua, fardlu kifayah, seperti ilmu cara menguburkan jenazah. Ketiga, haram, seperti mempelajari ilmu ramalan berdasarkan perbintangan. Keempat, jawâz (boleh), seperti mempelajari ilmu kedokteran.  

*Niat Ketika Belajar*

Imam Zarnuji menyebutkan, bahwa seorang pelajar harus memiliki niat saat menuntut ilmu. Landasan yang digunakan beliau yaitu sabda Nabi tentang niat, “innamal a’mâlu binniyyât”, “Sesungguhnya amal seseorang tergantung pada niatnya.” Ada beberapa niat yang dianjurkan Imam al-Zarnuji ketika menuntut ilmu.

Pertama, mencari ridha Allah SWT. Kedua, menghilangkan kebodohan dirinya dan orang lain. Ketiga, menghidupkan agama dan mendirikan Islam. Keempat, mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan.

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji juga memberi peringatan supaya seorang pelajar tidak mencari dengan maksud mencari pengaruh supaya orang-orang berpaling kepadanya, begitu juga mencari kedudukan di sisi penguasa, kecuai jika ilmu tersebut digunakan untuk menyeru kebaikan dan mecegah kemungkaran di tengah pemereintah.  

*Memilih ilmu, guru, dan teman, serta keteguhan dalam menuntut ilmu*

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji memberi saran bagi para pelajar untuk memilih ilmu, guru, dan teman. Hendaknya bagi seorang pelajar mendahulukan ilmu yang dibutuhkannya sekarang dalam urusan agama (ilmul hal), baru kemudian mempelajari ilmu yang berguna baginya pada masa yang akan datang. Dan Imam Zarnuji menyarankan agar mencari guru yang lebih pandai dan lebih sepuhdari dirinya, dan memilih teman yang tekun, wara’, baik tabiatnya, dan tanggap.   Menghormati ilmu dan ahlinya  
Di sini Imam al-Zarnuji menjelaskan bahwa seorang pelajar tidak akan mendapat ilmu melainkan ia menghormati ilmu dan pemiliknya, yaitu gurunya. Beliau menyebut etika apa saja yang harus dilakukan seorang pelajar, di antaranya adalah tidak duduk di tempat duduk gurunya, tidak memulai percakapan dengan guru kecuali atas izinnya, tidak banyak berbicara di sisi gurunya, dan lain-lain.  

*Sungguh-sungguh, tekun, dan semangat* 

Imam al-Zarnuji memandang ilmu adalah tujuan yang agung, ia harus dicapai dengan kesungguhan, ketekunan dan semangat yang tinggi. Kesungguhan tidak hanya bergantung pada pelajar saja, namun guru dan orangtua pun harus bersungguh menyiapkan pendidikan anaknya. Beliau banyak memberi saran supaya ilmu itu kuat melekat pada diri seorang pelajar.Di antaranya dengan mengulang pelajaran pada setiap permulaan dan akhir malam.  

*Tahap awal, ukuran, dan urutannya*  

Di sini imam al-Zarnuji banyak menyinggung soal urutan tingkat pelajaran yang mesti diajarkan guru kepada murid, dari dasar baru kemudian kepada tingkat yang lebih tinggiSelain itu, Imam al-Zarnuji juga menyatakan bahwa merupakan suatu keharusan bagi pelajar untuk saling menggelar kegiatan seperti mudzâkarah, munâdharah, dan almuthârahah. Imam al-Zarnuji juga mengingatkan kepada pelajar untuk senantiasa bersyukur atas karunia yang dianugerahkan kepada mereka berupa kemampuan untuk menuntut ilmu.  

*Tawakal kepada Allah*  Tentunya setelah usaha-usaha diatas, seorag pelajar hars berserah diri kepada Allah SWT. Imam al-Zarnuji menganjurkan para pelajar untuk tidak perlu merasa sulit dan menyibukkan hati dalam masalah rezeki. Hal ini senada dengan hadis Nabi SAW, “Barangsiapa yang mencari ilmu, maka Allah SWT akan menjamin rezekinya.”  

*Masa produktif* 

Masa mencari ilmu ada seumur hidup, sejak dilahirkan hingga masuk ke liang lahat. Menurut Imam al-Zarnuji, waktu terbaik untuk mencari ilmu adalah saat masih muda. Jika seorang pelajar merasa jenuh terhadap satu disiplin ilmu, ia dapat beralih pada disiplin ilmu yang lain.   Kasih sayang dan nasihat   Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Seorang pelajar hendaknya memiliki rasa kasih sayang, bersedia memberi nasihat dan tidak iri hati. Seorang pelajar juga seharusnya menghindari permusuhan dengan orang lain, karena dapat menyia- nyiakan waktu. Beliau juga menyarankan agar mereka selalu positif thinking, tidak berburu sangka kepada orang lain.  

*Mengambil faedah pelajaran*

Imam al-Zarnuji meletakan metode praktis untuk menambah pengetahuan, di antaranya ialah dengan mempersiapkan alat tulis setiap saat, tidak menyia-nyiakan waktu, bergaul dengan guru dan tamak kepada ilmu, fokus ketika pelajaran, dan taat kepada seorang guru.  

*Bersikap wara’ ketika belajar*
 
*Imam al-Zarnuji dalam pasal ini memberi wejangan kepada para pelajar untuk menjauhi rasa kenyang, banyak tidur, banyak membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat, menghindari makanan dari pasar bila memungkinkan, menggunjing, bergaul dengan orang yang rusak akhlaknya. Dan hendaknya mereka bergaul bersama orang-orang sholeh, duduk menghadap kiblat, mengamalkan sunnah -sunnah Rasul, memperbanyak sholawat.  

*Penyebab hafal dan lupa*

Menghafal termasuk ke dalam metode belajar di berbagai lembaga pendidikan. Imam Zarnuji menyebutkan bahwa hal yang banyak membantu hafalan ialah kesungguhan, tekun, sedikit makan, dan shalat di malam hari, membaca Al-Qur’an.   Sedangkan hal-hal yang dapat menyebabkan lupa di antaranya adalah banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, gelisah, khawatir, dan sibuk dengan urusan dunia.  

*Sesuatu yang mendatangkan dan menjauhkan rezeki, serta menambah dan memperpendek umur.*

Dalam pasal ini Imam al-Zarnuji mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mengetahui apa saja yang menambah rezeki dan apa saja yang menambah panjang usia dan kesehatan, supayamasa belajarnya dapat diselesaikan dengan baik. Imam al-Zarnuji menyebutkan bahwa perbuatan dosa dan dusta dapat menjadi penghalang datangnya rezeki. Selain itu, Beliau juga menyatakan bahwa tidur pada waktu Subuh termasuk penghalang rezeki, banyak tidur menyebabkan fakir, termasuk fakir dalam ilmu. Sedangkan bangun di waktu pagi dapat mendatangkan segala kemudahan dan dapat mendatangkan rezeki.  

Dalam memperkuat pendapatnya, Imam al-Zarnuji terkadang menggunakan hadis dan syair-syair. Banyak sekali syair dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim, hingga ada yang menghimpunnya dalam kitab khusus, yaitu syair Alala. Salah satu bait yang terkenal dalam kitab ini adalah Syair Muhammad bin al-Hasan:  

تعلم فإن العلم زين لأهله # وفضل وعنوان لكل المحامد وكن مستفيدا كل يوم زيادة # من العلم واسبح في بحور الفوئد

Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan dan tanda bagi setiap sesuatu yang terpuji.Jadilah dirimu dapat mengambil faedah dari ilmu setiap harinya, dan berenanglah engkau dalam lautan kemanfatan (Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, Beirut:halaman 61)  

Karya Imam al-Zarnuji ini telah dikenal banyak orang baik di Timur maupun di Barat. Banyak para ulama yang memuji kitab Ta’lîm al-Muta’allim, di antaraya adalah al-‘Allamah al-Kinawi a-Hindi. Beliau mengatakan, “Aku telah membaca kitab ini berulang-ulang, dia adalah kitab yang ringkas, memiliki banyak manfaat, berharga dan berfaedah. (Imam al-Zarnuji, Ta’lîm al-Muta’alim, Beirut:halaman40)  

Ta’lîm al-Muta’allim sangat cocok sekali dipelajari oleh santri, kendati demikian, bahasa dalam kitab ini lumayan rumit bagi pelajar pemula, terlebih syair-syair di dalamnya. Terkadang santri baru akan menggunakan kitab Taysîr al-Khalâq atau al-Akhlâq lil Banîn sebelum mempelajari kitab ini.  

Sumber: https://www.nu.or.id/pustaka/mengenal-kitab-ta-lim-al-muta-allim-panduan-etika-mencari-ilmu-Lp0jc

___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)

WAFATNYA SAYYIDINA HUSEIN

 


Kematian Hasan bin Ali & Perebutan Takhta Khalifah dengan Muawiyah

Hasan bin Ali meninggal dunia dalam situasi perseteruan kaum Muslimin dengan sesamanya karena badai politik yang berkepanjangan. Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein, anak kedua Ali bin Abi Thalib tewas di Karbala dalam sebuah pembantaian yang dilakukan rezim Yazid bin Muawiyah. Beberapa tahun sebelumnya, yakni pada 28 Safar 50 Hijriyah, atau 1 April 670 Masehi, tepat hari ini 1351 tahun silam, Hasan, kakak Husein, meninggal dunia di Madinah karena diracun.




Pungkas hayat kakak beradik cucu kesayangan Rasulullah ini tak lepas dari pusaran pertikaian dalam dunia Islam setelah Nabi Muhammad dan tiga khalifah meninggal dunia.

Berbeda dengan Husein yang terus merangsek menuju Kufah meski marabahaya mengintainya, sang kakak justru memilih menghindari peperangan dengan kubu Muawiyah demi persatuan umat Islam. Para sejarawan menilai sikap Hasan yang lebih lunak daripada Husein adalah pengejawantahan dari sabda Rasulullah yang berdoa kepada Allah agar cucunya tersebut menjadi orang yang mendamaikan dua golongan kaum Muslimin.




Hasan dibaiat menjadi khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Si Khawarij itu menebaskan pedangnya saat khalifah keempat tersebut tengah berwudu hendak menunaikan salat Subuh. Diangkatnya Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah berang, sebab keturunan Umayyah tersebut telah melakukan pemberontakan sejak khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin. Sadar posisinya diincar Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus, Syam, Hasan justru secara persuasif menulis surat kepada Muawiyah. Ia memilih tidak menyerbu kekuatan oposi.




"Janganlah engkau terus-menerus terbenam di dalam kebatilan dan kesesatan. Bergabunglah dengan orang-orang yang telah menyatakan baiat kepadaku. Sebenarnya engkau telah mengetahui, bahwa aku lebih berhak menempati kedudukan sebagai pemimpin umat Islam. Lindungilah dirimu dari siksa Allah dan tinggalkanlah perbuatan durhaka. Hentikanlah pertumpahan darah, sudah cukup banyak darah mengalir yang harus kau pikul tanggungjawabnya di akhirat kelak. Nyatakanlah kesetiaanmu kepadaku dan janganlah engkau menuntut sesuatu yang bukan hakmu, demi kerukunan dan persatuan umat Islam,” tulis Hasan seperti dikutip Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya.




Surat tersebut jelas menggambarkan Hasan sebagai orang yang lebih suka menghindari pertikaian dan pertumpahan darah. Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan umat Islam.  Namun, Muawiyah yang sudah makan asam garam dalam dunia politik, serta telah mengobarkan peperangan demi posisi khalifah sejak zaman Ali, jelas menolak mentah-mentah permintaan Hasan.  “Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,” balasnya.




Jawaban tersebut jelas bukan yang diharapkan Hasan. Apalagi tak lama setelah itu, Muawiyah menyiapkan ribuan pasukan perang yang hendak ia bawa ke Kufah untuk menggempur kekuatan Hasan sebagai khalifah.

*MENEGAKKAN KEHORMATAN SEBELUM PERDAMAIAN*

Sebagai seorang pemimpin, Hasan lebih menyukai perdamaian. Tapi bukan berarti ia berdiam diri saat mendapat ancaman untuk mengudetanya. Ia kemudian mengumpulkan penduduk Kufah dan mengabarkan bahwa kotanya akan diserang pasukan Muawiyah yang bergerak dari Syam.




Hasan memerintahkan kepada setiap lelaki Kufah yang mampu berperang untuk bersiap menghadapi ancaman tersebut. Sebuah dusun bernama Nukhailah dipilih Hasan sebagai markas pusat militer yang hendak melawan pasukan penyerbu dari Syam.

Namun, sejarah mencatat bahwa penduduk Kufah memperlakukan Hasan sebagaimana mereka bersikap kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib, yang justru tak menghiraukan seruan pemimpin yang mereka baiat sendiri.



Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba seseorang bangkit. Ia marah kepada penduduk Kufah, lalu berkata lantang:

“Kalian tahu, aku adalah Adi bin Hatim. Alangkah buruknya sikap yang kalian perlihatkan kepada seorang pemimpin yang telah kalian pilih dan kalian baiat sendiri. Tidakkah kalian dapat membuka mulut menyambut ajakan pemimpin kalian sendiri, seorang cucu Rasulullah? Manakah para ahli pidato dari kabilah Mudhar yang terkenal berlidah tajam itu? Mengapa dalam keadaan seperti sekarang ini mereka bungkam?” ucap Adi bin Hatim kepada penduduk Kufah yang tidak menyambut seruan Hasan.




Adi bin Hatim adalah pemimpin suku at-Tha’iy yang sejak dulu tinggal di Kufah dan terkenal sebagai orator ulung. Ia masuk Islam pada tahun 9 Hijriyah dan menjadi salah satu sahabat Rasulullah.

“Ucapan anda (Hasan) sudah kudengar dan seruan anda sudah kupahami. Dengan ini aku menyatakan ketaatan dan kesetiaan kepadamu, demi Allah. Mulai detik ini juga aku siap menjalankan perintah anda, dan sekarang juga aku hendak berangkat ke Nukhailah tempat pemusatan pasukan anda,” sambungnya.




Setelah itu dengan menunggang unta ia berangkat ke Nukhailah sendirian. Di pemusatan pasukan tersebut ia mendirikan tenda sendiri sambil menunggu para pengikutnya dari kabilah at-Tha’iy.  Sebagian penduduk Kufah, terutama kaum laki-laki yang fisiknya kuat untuk berperang, akhirnya menyambut seruan Hasan. Sementara sebagian yang lain kembali ke rumah masing-masing.  Hasan mengangkat Ubaidillah bin Abbas sebagai pemimpin pasukan. Kepadanya ia berkata:  “Hai, Ubaidillah, engkau kuberi kepercayaan memimpin 12.000 pasukan Muslimin Arab yang terkenal gagah berani, berpengalaman dan gigih menghadapi pertempuran.




Ketahuilah, bahwa seorang dari mereka lebih berharga daripada sekompi pasukan biasa. Eratkanlah hubunganmu dengan mereka dan tunjukkanlah kecerdasan wajahmu pada mereka. Mereka itu adalah sisa kekuatan angkatan perang ayahku yang dapat dipercaya,” ucap Hasan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena tergiur bujuk rayu Muawiyah yang menjanjikan akan memberi uang jika ia bergabung dengan anak Abu Suyan itu, Ubaidillah bin Abbas berbalik mengkhianati khalifah. Itulah yang membuat semangat ribuan pasukan pendukung Hasan runtuh.




“Berita yang menyedihkan itu hampir memadamkan seluruh semangat yang dibawanya dari Kufah. Ia teringat kepada nasib ayahandanya yang selama beberapa tahun akhir hayatnya mengalami berbagai macam pengkhianatan, dan sekarang ia harus menghadapi saudaranya sendiri yang menggunting dari dalam lipatan,” tulis Al-Hamid Al-Husaini, menggambarkan suasana hati Hasan setelah mengetahui pengkhianatan Ubaidillah bin Abbas. Sementara orang-orang Muawiyah terus bergerak mengembuskan kabar-kabar bohong tentang para pemimpin pasukan lain yang diberitakan tewas. Hal ini membuat pasukan pendukung khalifah kian putus asa.




Bahkan mereka akhirnya berbalik menyerang Hasan. Di titik inilah Hasan berpikir bahwa perang melawan Muawiyah tidak akan membawa manfaat jika mental pasukannya telah hancur dan sisa pendukungnya hanya akan menjadi bulan-bulanan musuh. Ia akhirnya memilih berdamai dengan Muawiyah dengan sejumlah kesepakatan yang salah satu isinya adalah menyerahkan kekhalifahan kepada putra Abu Sufyan tersebut. Keputusannya ini sempat membuat kecewa dan marah para pencinta keluarga Rasulullah (ahlul bait), salah satunya adalah Hujur bin Adi yang amat setia kepada ahlul bait. Ia marah sehingga berani mengecam Hasan.




Menanggapi reaksi seperti itu, Hasan dengan tenang menjawab: “Hai Hujur, ketahuilah bahwa tidak semua orang menghendaki apa yang engkau inginkan itu. Demikian pula tidak semua orang berpikir seperti engkau. Sesungguhnya dengan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah itu aku tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk menyelamatkan kalian dari kehancuran dan kebinasaan,” jawab Hasan.

Setelah menyelesaikan segala urusan di Kufah, Hasan kemudian pergi ke Madinah. Sebelum berangkat, ia menyampaikan beberapa hal kepada penduduk Kufah yang masih mendukungnya.




Hasan mengatakan bahwa Muawiyah telah merebut kekhalifahan yang menjadi haknya. Namun, ia lebih mengutamakan perdamaian agar dua kubu kaum Muslimin yang berseteru tidak lagi menumpahkan darah seperti masa-masa ke belakang saat sejumlah perang melumatkan jiwa-jiwa yang sejatinya bersaudara.

*KEMATIAN DAN PERSELISIHAN TEMPAT PENGUBURAN*

Kedatangan Hasan di Madinah disambut gembira sekaligus sedih oleh penduduk kota tersebut. Mereka gembira sebab cucu Rasulullah kembali ke tanah tempat kakeknya mula-mula membangun peradaban, tapi kesedihan pun menyeruak sebab kepemimpinan Islam tidak lagi berada 




di tangannya.  Di Madinah, saat ia tidak lagi dalam pusaran ingar-bingar politik, Hasan tekun mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia giat mengajarkan ilmu agama kepada penduduk Madinah di Masjid Nabawi. Selain itu, ia juga rajin belajar kepada para sahabat kakeknya yang telah sepuh. Pada 28 Safar tahun 50 Hijriyah, atau sebelas tahun sebelum kelak adiknya meninggal di padang Karbala, Hasan wafat dalam usia 46. Beberapa saat sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Hasan berkata kepada Husein, adiknya.

“Tiga kali aku pernah menderita keracunan, tetapi tidak ...




tetapi tidak sehebat yang kualami sekarang ini,” ucapnya.

Husein bertanya kepada kakaknya siapakah kiranya yang telah meracuninya. Namun, dengan semangat persatuan Hasan menolak memberitahu orang yang telah meracuninya. Ia khawatir adiknya yang berkarakter lebih keras daripada dirinya akan menuntut balas sehingga akan terjadi pertumpahan darah sesama kaum Muslimin.  Al-Hamid Al-Husaini menerangkan sebagian besar para penulis sejarah meyakini bahwa yang meracun hasan adalah istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats atas perintah Muawiyah dengan iming-iming uang sebesar 100.000 dinar.




“Dikatakan lebih jauh, setelah Hasan wafat, Ja’dah menerima uang yang dijanjikan oleh Muawiyah itu, tetapi Muawiyah membatalkan janji akan menikahkannya dengan Yazid, konon karena Muawiyah takut kalau-kalau anaknya akan mengalami nasib seperti yang dialami oleh Hasan,” tulisnya.


Sementara Dr. Ali M. Sallabi dalam Al-Hasan ibn Ali: His Life & Times (2014) menerangkan bahwa sebagian kalangan justru menyebut Yazid yang menyuruh istri Hasan untuk meracuni suaminya.  “Jika kamu meracuni Hasan, aku akan menikahimu,” ucap Yazid.




Namun, setelah Ja’dah binti Al-Asy’ats berhasil meracuni Hasan, Yazid mengingkari janjinya.  Masih menurut catatan Dr. Ali M. Sallabi, Ibnu Arabi (seorang pengembang ajaran tasawuf) justru menolak pendapat jika Hasan diracun atas perintah Muawiyah atau Yazid. Sebab menurutnya Hasan tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka setelah kekhalifahan diserahkan kepada Bani Umayyah.“Tidak ada yang tahu kecuali Allah,” ungkap Ibu Arabi seperti dikutip Dr. Ali M. Sallabi. erlepas dari siapa sebenarnya yang meracuni Hasan dan siapa dalang di baliknya, beberapa saat sebelum ajal menjemput Hasan masih menunjukkan jiwa besarnya tentang pentingnya persatuan di kalangan kaum Muslimin.




“Bila aku wafat, makamkanlah aku dekat makam kakekku, Rasulullah. Untuk itu mintalah izin lebih dulu kepada Ummul Mukminin Aisyah, bolehkah aku dimakamkan di rumahnya di samping makam Rasulullah. Akan tetapi jika ada pihak yang menentang keinginanku, usahakanlah agar jangan sampai keinginanku itu mengakibatkan pertumpahan darah dan makamkanlah aku di permakaman umum, Baqi,” kata Hasan kepada adiknya sebelum ia wafat. Dan benar saja, saat jenazahnya hendak dikebumikan, perselisihan terjadi antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Keturunan Umayyah menggugat keinginan Hasan tersebut karena menurut mereka khalifah ketiga (Utsman bin Affan yang keturunan Umayyah) saja tidak dimakamkan di samping




samping Rasulullah. Sementara orang-orang Bani Hasyim berkeras bahwa ini adalah wasiat terakhir Hasan yang harus ditunaikan.

Di tengah ketegangan itu, Abu Hurairah, sahabat Rasulullah yang terkenal sebagai periwayat hadis, berhasil menengahi dua kubu yang berselisih. Ia mengingatkan pesan Hasan bahwa jika permakamannya menimbulkan sawala, maka ia meminta untuk dimakamkan di pekuburan umum saja. Akhirnya jenazah Hasan dikuburkan di Baqi, berdekatan dengan makam neneknya, Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib.


*